Oleh : Endang Mu’min*
Di tengah gempuran tantangan ekonomi, tidak jarang kita mendengar fenomena seseorang yang tergiur “jalan pintas” untuk meraih rezeki atau popularitas instan. Menariknya, pelaku pesugihan atau praktik paranormal modern saat ini sering kali tidak tampak seperti orang yang meninggalkan agama. Mereka masih rutin shalat, mengaku Muslim, bahkan tak jarang membagikan kutipan-kutipan religius di media sosial.
Fenomena ini sejatinya bukanlah hal baru. Jika kita menilik sejarah, logika yang digunakan hari ini—“Ini cuma perantara kok, bukan menyembah”—adalah logika yang sama persis dengan yang dipakai kaum Quraisy saat membela penyembahan mereka terhadap berhala.
Akar Penyakit Hati: “Perantara” yang Membinasakan
Kaum Quraisy sejatinya bukan kaum ateis. Mereka mengakui bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta. Namun, mereka mengambil “pelindung” selain Allah dengan alasan agar pelindung tersebut mendekatkan mereka kepada Allah. Allah SWT membongkar kedok logika ini dalam firman-Nya:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’, niscaya mereka menjawab, ‘Allah’, jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az-Zukhruf: 87).
Para mufasir, seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa alasan kaum Quraisy menyembah berhala seperti Latta, Uzza, dan Manat adalah karena mereka menganggap berhala tersebut sebagai “jembatan”.
Belajar dari Keteguhan Salafusshalih
Para ulama terdahulu memberikan peringatan keras terhadap “jalan pintas” yang merusak tauhid ini. Imam Sufyan bin Uyainah rahimahullah pernah berkata, “Syirik itu ada dua: syirik yang nyata dan syirik yang tersembunyi (riya/ingin dipuji).” Para salaf sangat menjaga hati agar tidak bergantung kepada selain Allah dalam urusan rezeki.
Dikisahkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah melihat seseorang yang sangat khusyuk berdoa di depan Ka’bah, namun fokusnya bukan pada tawakkal kepada Allah, melainkan pada sebab-sebab duniawi. Beliau kemudian menasihati bahwa rezeki tidak akan tertukar dan tidak bisa diraih dengan jalan yang dimurkai Allah.
Ketergantungan kepada selain Allah—meskipun atas nama “ikhtiar”—adalah bentuk kebohongan diri. Allah SWT menegaskan bahwa perilaku ini adalah kedustaan yang besar:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3).
Bahaya Terselubung dan Solusinya
Bahaya terbesar dari syirik model “perantara” (seperti susuk, khodam, atau pesugihan) adalah pelakunya merasa sedang “berikhtiar” secara syar’i, padahal mereka sedang melangkah keluar dari jalur tauhid.
Rasulullah ﷺ telah menutup pintu-pintu kemusyrikan ini dengan sangat rapat:
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Dari sebagian istri Nabi ﷺ, Nabi ﷺ bersabda: ‘Barang siapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.'” (HR. Muslim, no. 2230).
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga memberikan panduan untuk kita agar senantiasa berdoa kepada Allah SWT memohon perlindungan dari perbuatan syirik, baik yang disadari maupun tidak disadari.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu (syirik) yang aku sadari, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa (syirik) yang tidak aku ketahui.”
(HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ini karena tidak ada seorang hamba pun yang benar-benar aman dari syirik. Bahkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam —yang hidup di masa terbaik dan mendapat bimbingan langsung dari beliau— diingatkan agar berhati-hati terhadap syirik.
Syirik itu sangat halus, bisa menyusup ke dalam jiwa tanpa disadari, lebih samar daripada langkah kaki semut di atas batu licin dalam gelapnya malam. Seorang hamba bisa jatuh dalam syirik, padahal ia merasa sedang beribadah.
Inilah alasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ini: untuk mengingatkan bahwa bahkan orang terbaik pun bisa terjatuh dalam bentuk syirik yang tersembunyi.
Kesimpulan
Islam mengajarkan bahwa Allah tidak membutuhkan perantara untuk mendengar doa hamba-Nya. Semakin seseorang mencari jalan pintas melalui “yang lain,” semakin ia menjauh dari pertolongan Allah yang sesungguhnya. Rezeki adalah bagian dari ketetapan Allah, dan cara terbaik untuk mendapatkannya adalah dengan menempuh jalan yang diridhai-Nya, bukan dengan menaruh harapan pada kekuatan selain-Nya.
Mari kembali meluruskan niat dan sandaran hati. Karena pada akhirnya, hanya kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.
Sumber Referensi:
- QS. Az-Zukhruf: 87.
- QS. Az-Zumar: 3.
- HR. Muslim : Tentang larangan mendatangi peramal (arrāf).
- HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad : Doa Meminta Perlindungan dari Syirik.
- Tafsir Ibnu Katsir: Menjelaskan latar belakang turunnya ayat-ayat terkait penyembahan berhala dan perilaku kaum Quraisy.
- Tafsir Al-Qurthubi: Menjelaskan perihal kesesatan logika perantara dalam praktik syirik.Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Al-Lalaka’i (untuk meninjau atsar salaf terkait tauhid dan peringatan terhadap syirik).Kitab At-Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (sebagai rujukan standar dalam memahami bab syirik dan hakikat perantara).
- Tulisan dari Tim @barengsiroh :Mereka Tidak Menolak Allah, Tapi Mereka Menambahkan Jalan Jalan Lain yang Justru Menjauhkan dari Allah
*Penulis merupakan pegawai Penata Layanan Operasional/Pelaksana Kehumasan pada Subbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka


Komentar