Oleh : Endang Mu’min*
Dalam sejarah perjalanan Islam, para sahabat Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pasukan yang sangat disiplin. Namun, kedisiplinan luar biasa tersebut tidak membuat mereka luput dari batas manusiawi. Ada satu kisah yang menyentuh hati, di mana pasukan yang luar biasa ini tertidur lelap hingga kesiangan melaksanakan shalat Subuh setelah menempuh perjalanan panjang dari medan pertempuran Khaibar.
Peristiwa ini bermula ketika sinar matahari pagi yang panas menyengat langsung mengenai wajah Rasulullah SAW. Saat terbangun, beliau melihat sekeliling lembah yang sudah sangat terang benderang, sementara seluruh anggota pasukan masih tergeletak pulas di atas hamparan pasir. Sebuah insiden fatal di luar kendali baru saja terjadi.
Beberapa jam sebelum insiden tersebut, rombongan baru saja menempuh perjalanan panjang dari medan pertempuran Khaibar. Langkah kaki unta terlihat melambat dan napas para sahabat terdengar sangat berat. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan pasukan untuk berhenti karena fisik mereka sudah mencapai batas.
Nabi Muhammad SAW menatap kondisi para sahabat yang langsung ambruk ke tanah sesaat setelah instruksi berhenti diberikan. Rasulullah SAW kemudian melemparkan satu pertanyaan tegas untuk mencari sukarelawan, “Siapa yang sanggup menjaga waktu shalat Subuh kita?”. Bilal bin Rabah langsung mengangkat tangan kanannya.
Para sahabat langsung memejamkan mata dan tertidur sejajar dengan tanah. Bilal duduk sendirian menahan kantuk sambil menyandarkan punggungnya pada pelana unta. Ia menatap tajam ke arah ufuk timur menunggu waktu Subuh, namun kelelahan otot itu gagal ditahan dan kepalanya perlahan mulai tertunduk.
Tidak ada satu pun anggota pasukan yang sanggup bergerak di lembah tersebut. Kepala Bilal sudah tertunduk lemas menyentuh bagian dadanya. Cahaya matahari pagi mulai menyorot tajam melewati celah bebatuan lembah. Suhu udara perlahan berubah drastis menjadi sangat panas yang mengeringkan keringat.
Sengatan suhu panas matahari itulah yang pertama kali membuka paksa mata Rasulullah SAW. Beberapa sahabat ikut terbangun sambil mengusap wajah mereka dengan gerakan tangan yang sangat panik. Mereka membelalakkan mata melihat kondisi langit yang terang benderang, lalu Nabi Muhammad SAW menoleh ke arah Bilal.
Bilal tersentak kaget dan langsung memperbaiki posisi duduknya. Ia menatap Rasulullah SAW dengan raut wajah tegang seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jiwaku telah ditahan oleh Zat yang juga menahan jiwamu.”. Secara logika, pemimpin pasukan pasti akan marah besar akibat kelalaian ini, namun perhatikanlah reaksi beliau!
Rasulullah SAW sama sekali tidak mengeraskan volume suaranya atau memberikan hukuman fisik. Beliau melihat dengan jelas otot pasukan yang masih bergetar karena kelelahan ekstrem. Nabi Muhammad SAW justru menginstruksikan para sahabat untuk segera bangkit dan menuntun unta mereka menjauh dari area tersebut.
Setelah rombongan berpindah lokasi, Rasulullah SAW menyuruh pasukannya mengeluarkan air dari kantong kulit. Mereka membasuh wajah dan tangan yang masih dipenuhi debu pasir. Kemudian, Nabi Muhammad SAW menyuruh Bilal mengumandangkan azan dengan keras, dan mereka mendirikan shalat Subuh berjamaah di tengah hari yang panas.
Seusai melakukan gerakan salam penutup, Rasulullah SAW membalikkan badan ke arah barisan sahabat yang masih merasa bersalah. Beliau mengeluarkan sabda tegas untuk menenangkan mental pasukannya, “Barang siapa yang lupa melaksanakan shalat atau tertidur, maka kafaratnya adalah mengerjakannya ketika ia ingat.”.
Kisah ini tidak boleh disalahgunakan menjadi alasan untuk sengaja mematikan alarm shalat Subuh. Namun, jika tubuhmu benar-benar ambruk sepulang bekerja keras dan matamu gagal terbuka, bangunlah, pergi ke keran air, dan segera tunaikan shalat tanpa harus merendahkan dirimu sendiri secara berlebihan!
Landasan Dalil dan Hukum Syariat
Peristiwa ini menjadi landasan hukum dalam fikih mengenai orang yang tertidur atau lupa melaksanakan shalat. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
“Barang siapa yang lupa melaksanakan shalat atau tertidur, maka kafaratnya (tebusannya) adalah mengerjakannya ketika ia ingat” (HR. Bukhari No. 595 dan Muslim No. 680).
Dari dalil ini, para ulama menyimpulkan bahwa orang yang tertidur atau lupa tidak berdosa (diangkat dari mereka kewajiban menahan diri dari dosa tersebut selama tidak disengaja). Kewajiban mereka tetaplah menunaikan shalat tersebut segera setelah mereka terbangun atau ingat, sebagai bentuk pemenuhan perintah Allah SWT:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha: 14).
Hikmah dan Pelajaran Hidup
- Tidak Boleh Meremehkan: Kisah ini bukan alasan untuk sengaja mematikan alarm atau meremehkan waktu shalat. Disiplin tetap menjadi kewajiban utama seorang mukmin.
- Sikap Bijak dalam Memimpin: Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa ketika terjadi kesalahan yang tidak disengaja oleh tim atau bawahan, pendekatan persuasif dan penuh kasih sayang jauh lebih efektif daripada kemarahan yang meluap-luap.
- Memahami Keterbatasan Manusia: Mengakui bahwa fisik manusia memiliki batas adalah bentuk kejujuran diri. Namun, saat kita gagal, segera bangkit untuk memperbaiki keadaan adalah cerminan dari karakter yang kuat.
- Menghindari Self-Judging Berlebihan: Jika kita terjatuh dalam kelalaian yang tidak disengaja, jangan terpuruk dalam penyesalan yang merusak diri sendiri. Segeralah berwudhu dan beribadah kepada Allah sebagai langkah pemulihan.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang realistis, penuh dengan kasih sayang bagi mereka yang berusaha taat namun memiliki keterbatasan sebagai manusia.
Sumber Referensi:
- Shahih Al-Bukhari, Kitab Mawāqīt ash-Shalāh, Hadits No. 595.
- Shahih Muslim, Kitab al-Masājid wa Mawāḍi’ ash-Shalāh, Hadits No. 680.
- Al-Qur’anul Karim, Surah Thaha ayat 14.
- Inspirasi tulisan dari Tim @daily.sirah, Pasukan Paling Disiplin Sepanjang Sejarah Tertidur Lelap Hingga Kesiangan Shalat Subuh.
*Penulis merupakan Pelaksana Kehumasan/Penata Layanan Operasional pada Subbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka


Komentar