Kertajati (Kemenag) — Suasana pagi di MTsN 8 Majalengka diisi dengan kegiatan Shalat Dhuha berjamaah dan pembacaan Asmaul Husna pada Selasa (8/9/2026). Diikuti seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan, pembiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya madrasah menanamkan nilai spiritual sekaligus membentuk akhlak peserta didik dalam keseharian.
Kegiatan berlangsung di lapangan madrasah. Seluruh peserta mengikuti Shalat Dhuha berjamaah dengan khusyuk sebelum dilanjutkan pembacaan Asmaul Husna yang dipandu Pembina Keagamaan MTsN 8 Majalengka.
Rangkaian pembiasaan pagi itu kemudian diisi dengan tausiah singkat. Materi yang disampaikan mengangkat keutamaan menjaga ibadah sunnah serta pentingnya mengenal dan menghayati keagungan nama-nama Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi madrasah, pembiasaan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan karakter. Nilai keagamaan tidak berhenti pada pemahaman di ruang kelas, tetapi diupayakan hadir melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten sebelum peserta didik memulai aktivitas pembelajaran.
Plt. Kepala MTsN 8 Majalengka, H. Sabur Gunawan, S.Pd., M.Pd., mengatakan rutinitas keagamaan pada pagi hari diarahkan untuk membangun fondasi akhlakul karimah sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih tenang dan positif.
“Pembiasaan pagi ini bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan sarana menanamkan nilai-nilai spiritual pada diri siswa sejak dini. Kami ingin para siswa mengawali proses belajar dengan hati yang tenang dan niat ibadah, sehingga ilmu yang diserap menjadi berkah dan bermanfaat,” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan tersebut juga menjadi ruang bagi siswa untuk belajar disiplin dalam menjalankan ibadah. Ketika dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan, aktivitas sederhana seperti Shalat Dhuha dan pembacaan Asmaul Husna dapat menjadi bagian dari budaya madrasah yang melekat dalam keseharian peserta didik.
Penguatan karakter melalui pembiasaan keagamaan juga diarahkan untuk melengkapi capaian akademik. Madrasah berupaya menjaga keseimbangan antara pengembangan kemampuan intelektual dan pembentukan moral, sehingga proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku.
Keterlibatan guru dan tenaga kependidikan dalam kegiatan tersebut turut memberi contoh langsung kepada siswa. Kehadiran seluruh unsur madrasah membuat pembiasaan keagamaan menjadi aktivitas bersama, bukan sekadar program yang dijalankan oleh peserta didik.
Pihak MTsN 8 Majalengka selanjutnya berkomitmen menjadikan kegiatan keagamaan tersebut sebagai agenda rutin. Pelaksanaannya akan terus dievaluasi agar kualitas pembiasaan tetap terjaga dan mampu memberikan manfaat yang lebih baik bagi perkembangan siswa.
Konsistensi menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Pembentukan karakter tidak berlangsung dalam satu kegiatan, melainkan tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan berulang, didampingi, dan dicontohkan dalam lingkungan pendidikan.
Melalui pola pembiasaan itu, MTsN 8 Majalengka berupaya menghadirkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya peserta didik dengan keseimbangan antara kecakapan akademik, kedisiplinan, spiritualitas, dan akhlak. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal yang terus terbawa siswa, baik selama berada di madrasah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: D.Win


Komentar