Kertajati (Kemenag) — Upaya merawat budaya lokal melalui literasi dilakukan guru Bahasa Indonesia MTsN 8 Majalengka dengan mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Konten Budaya Lokal yang digelar pada Juli 2026. Kegiatan tersebut tidak berhenti pada peningkatan keterampilan menulis, tetapi melahirkan karya antologi legenda daerah Majalengka berjudul Mozaik Sejarah Majalengka.
Bimtek diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari guru lintas sekolah, pegiat literasi, mahasiswa, dosen, siswa, hingga masyarakat umum. Pertemuan lintas kalangan itu menjadi ruang untuk menggali kembali cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat sekaligus mengolahnya menjadi karya literasi yang dapat dibaca oleh generasi berikutnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapat tantangan untuk menulis cerita legenda dari berbagai daerah di Kabupaten Majalengka. Proses penulisan menjadi bagian penting karena tradisi lisan yang selama ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya mulai didokumentasikan dalam bentuk tulisan.
Karya para peserta kemudian dihimpun dan diterbitkan dalam sebuah buku antologi berjudul Mozaik Sejarah Majalengka. Kehadiran buku tersebut menjadi salah satu luaran dari rangkaian program literasi yang mempertemukan kepedulian terhadap budaya daerah dengan keterampilan kepenulisan.
Rangkaian kegiatan berlanjut melalui pertemuan refleksi pada Senin (7/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk melihat kembali proses dan hasil bimtek sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya menulis konten budaya lokal.
Pada kesempatan yang sama, para penulis menyerahkan buku antologi Mozaik Sejarah Majalengka secara simbolis kepada Perpustakaan Daerah (Perpusda). Penyerahan ini menandai upaya agar karya yang telah dihasilkan tidak berhenti sebagai dokumentasi peserta, tetapi dapat menjadi bagian dari sumber bacaan dan referensi bagi masyarakat.
Refleksi tersebut turut menghadirkan narasumber Eni Sustini, S.Pd., M.Pd. dan Dr. H. Momon Lentuk, S.Pd., M.Pd. Keduanya memberikan penguatan dan motivasi kepada peserta untuk terus mengembangkan kemampuan kepenulisan, terutama dalam mengangkat kekayaan budaya yang ada di lingkungan sekitar.
Pesan yang mengemuka dalam kegiatan itu adalah pentingnya menjaga tradisi lisan melalui jalur literasi tulis. Cerita yang sebelumnya diwariskan secara lisan dapat memiliki ruang hidup yang lebih panjang ketika didokumentasikan secara baik dan dapat diakses oleh generasi yang lebih muda.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala MTsN 8 Majalengka, H. Sabur Gunawan, S.Pd., M.Pd., menyambut baik capaian tersebut. Menurutnya, keterlibatan guru dalam kegiatan kepenulisan budaya lokal memiliki nilai lebih karena karya yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran.
“Karya tulis yang dihasilkan dari refleksi budaya lokal ini tidak hanya memperkaya bahan ajar di kelas, tetapi juga menjadi motivasi nyata bagi para siswa untuk turut peduli terhadap pelestarian budaya daerah sendiri,” ujar H. Sabur Gunawan.
Ia menilai pengalaman guru dalam menggali, menulis, dan mendokumentasikan cerita lokal juga dapat memberikan contoh konkret kepada peserta didik bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia dapat bersentuhan langsung dengan lingkungan dan kekayaan budaya di sekitar mereka.
Keterlibatan tersebut juga dipandang relevan dengan penerapan Kurikulum Merdeka yang memberi ruang bagi penguatan Profil Pelajar Pancasila, termasuk dimensi berkebinekaan global dan kecintaan terhadap tanah air. Budaya lokal dapat menjadi sumber belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik sekaligus membuka pemahaman tentang keberagaman.
Bagi MTsN 8 Majalengka, Mozaik Sejarah Majalengka bukan sekadar kumpulan cerita legenda. Buku tersebut menjadi jejak proses belajar para penulis dalam mengenali kembali warisan budaya daerah, mengolahnya menjadi tulisan, dan membagikannya kepada publik.
Pihak madrasah berharap produk literasi tersebut dapat terus disebarluaskan dan dimanfaatkan sebagai bahan bacaan tambahan di perpustakaan sekolah. Lebih jauh, karya itu diharapkan ikut menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis di kalangan peserta didik, sekaligus menjaga agar cerita dan nilai budaya Majalengka tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.
editor: D.Win


Komentar