Lemahsugih (KEMENAG) – Dalam upaya mengakselerasi kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat pembentukan karakter peserta didik, Plt. Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, H. Ade Firmansyah, S.Sos.I., M.Pd.I., secara resmi membuka Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan yang diinisiasi oleh Kelompok Kerja Madrasah (KKM) 2 Majalengka ini dipusatkan di MI PUI Sadawangi pada Jumat (17/04/2026).
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran Kepala Madrasah, guru, serta tenaga kependidikan di lingkungan KKM 2 Majalengka. Dalam sambutannya, H. Ade Firmansyah menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif strategis KKM 2 yang mengangkat tema relevan dengan tantangan dunia pendidikan masa kini.
Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya terpaku pada aspek kognitif dan akademis, tetapi wajib menyentuh aspek afektif siswa.
”Konsep Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) ini sangat luar biasa. Pendidikan yang dibangun di atas fondasi kasih sayang, keteladanan, dan kesabaran akan menciptakan rasa nyaman bagi anak untuk belajar. Ketika rasa takut hilang, ilmu akan lebih mudah meresap ke dalam hati,” ujar Ade.
Lebih lanjut, Ade juga memberikan pesan khusus mengenai pentingnya kenyamanan fisik di lingkungan sekolah.
”Selain aspek metode pembelajaran, saya mengimbau seluruh elemen madrasah untuk senantiasa menjaga estetika lingkungan. Ruang madrasah yang asri dan bersih merupakan faktor pendukung kenyamanan batin yang sangat selaras dengan nilai-nilai KBC,” tegasnya.
Di tempat yang sama, Ketua KKM 2 Majalengka, H. Didi Hermawan, S.Ag., yang juga menjabat sebagai Kepala MI PUI Gunungseureuh, menyatakan rasa terima kasihnya atas dukungan penuh serta arahan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka. Ia berharap workshop ini menjadi titik balik perubahan pola asuh di madrasah.
”Kami ingin guru-guru di KKM 2 tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi pelabuhan kasih sayang bagi siswa. Melalui workshop satu hari penuh ini, kami membekali para pendidik dengan instrumen praktis agar Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar wacana, melainkan nafas baru dalam interaksi harian di kelas,” ungkap Didi di sela-sela diskusi interaktif.
Melalui pendekatan yang humanis, diharapkan setiap madrasah mampu menciptakan ekosistem belajar yang harmonis dan menyenangkan. Hal ini selaras dengan visi mencetak generasi emas yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan karakter yang tangguh.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol sinergi antar-pendidik. Seluruh peserta membawa harapan besar agar ilmu yang diperoleh dapat segera diimplementasikan demi kemajuan kualitas pendidikan madrasah di Kabupaten Majalengka.
Kontributor : Endang Mu’min


Komentar