Oleh : Endang Mu’min*
Hari Raya Idul Adha dan Hari Tasyrik bukan sekadar momentum untuk memotong hewan qurban lalu menyantapnya bersama keluarga. Di balik setiap tetesan darah hewan sembelihan dan di setiap takbir yang berkumandang, ada madrasah keimanan yang mengajarkan ketundukan mutlak, kepedulian sosial, dan kelapangan hati.
Mari kita menyelami lebih dalam makna, keutamaan, serta hikmah di balik hari-hari agung ini.
1. Idul Adha: Manifestasi Cinta dan Ketundukan
Secara bahasa, Adha berarti qurban atau penyembelihan. Idul Adha adalah hari di mana umat Islam merayakan kemenangan iman atas ego pribadi, meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihis salam.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman mengenai hakikat dari ibadah qurban:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Hikmah Agung Idul Adha
Ayat di atas menegaskan bahwa Allah tidak butuh daging atau darahnya. Yang Allah nilai adalah keikhlasan niat dan ketakwaan hati kita. Hikmah utamanya adalah mengikis sifat kikir dan egoisme (keakuan), lalu menggantinya dengan semangat berbagi kepada sesama, terutama kaum fakir miskin.
2. Hari Tasyrik: Hari Makan, Minum, dan Berdzikir
Setelah Idul Adha (10 Dzulhijjah), umat Islam memasuki Hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Secara bahasa, Tasyrik berasal dari kata Tasyrîq yang berarti “menjemur daging di bawah terik matahari” (kebiasaan orang zaman dahulu untuk mengawetkan daging qurban).
Di hari-hari ini, umat Islam dilarang keras untuk berpuasa. Mengapa? Karena Allah ingin menjamu hamba-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda mengenai status Hari Tasyrik:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ
“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)
Keutamaan Hari Tasyrik
Hari Tasyrik adalah waktu di mana ibadah badaniyah (makan dan minum) menyatu indah dengan ibadah lisan (dzikir). Allah menyebut hari-hari ini dalam Al-Qur’an sebagai Ayyamam Ma’dudat (hari-hari yang terbilang):
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203)
3. Mutiara Hikmah dari Para Salafushalih
Para generasi terbaik umat ini (Salafushalih) memberikan sudut pandang yang sangat menyentuh hati mengenai bagaimana seharusnya kita memandang hari-hari makan dan minum ini.
Perkataan Ibnu Rajab Al-Hanbali
Dalam kitabnya yang masyhur, Lathaif Al-Ma’arif, beliau menjelaskan rahasia di balik hadits “hari makan, minum, dan dzikir”:
إنَّ صِيَامَ أَيَّامِ الْأَعْيَادِ وَالتَّشْرِيقِ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، فَهِيَ أَيَّامُ ضِيَافَةِ اللَّهِ لِعِبَادِهِ، فَالتَّنَعُّمُ بِضِيَافَةِ اللَّهِ بِالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ شُكْرٌ لِنِعْمَتِهِ، وَلَكِنْ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُلْهِيَ ذَلِكَ عَنْ ذِكْرِهِ بَلْ يُسْتَعَانُ بِهِ عَلَيْهِ
“Dilarangnya berpuasa pada hari raya dan Hari Tasyrik menunjukkan bahwa kaum mukminin berada dalam jamuan Allah. Menikmati jamuan Allah dengan makan dan minum adalah bentuk rasa syukur atas nikmat-Nya. Namun, kenikmatan fisik itu tidak boleh membuat lalai, melainkan harus dibantu dengan dzikir agar hati tetap hidup.”
Beliau juga menambahkan kalimat yang sangat indah:
إِذَا أَكَلَ الْمُؤْمِنُ وَشَرِبَ لِيَقْوَى بَدَنُهُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ، انْقَلَبَ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ طَاعَةً وَقُرْبَةً
“Apabila seorang mukmin makan dan minum untuk menguatkan badannya agar bisa menaati Allah, maka makan dan minumnya itu sendiri telah berubah menjadi ibadah dan ketaatan.”
Perkataan Al-Hasan Al-Bashri
Mengenai esensi hari raya yang sebenarnya, beliau mengingatkan:
كُلُّ يَوْمٍ لَا يُعْصَى اللَّهُ فِيهِ فَهُوَ عِيدٌ
“Setiap hari di mana seseorang tidak bermaksiat kepada Allah di dalamnya, maka hari itu adalah hari raya (Id) baginya.”
Pesan ini mendalam: kegembiraan sejati pada Idul Adha dan Hari Tasyrik bukan terletak pada pakaian baru atau limpahan daging, melainkan pada bersihnya jiwa dari dosa.
Kesimpulan: Integrasi Syukur dan Dzikir
Idul Adha dan Hari Tasyrik mengajarkan kita sebuah konsep hidup yang seimbang:
Secara Horisontal (Manusia): Kita diperintahkan untuk menikmati rizki, makan, minum, dan membahagiakan keluarga serta tetangga lewat pembagian daging qurban.
Secara Vertikal (Allah): Kita dilarang melupakan Pemberi Rizki. Setiap suapan makanan di hari Tasyrik harus diiringi dengan gema takbir muqayyad (takbir setelah shalat fardhu) dan dzikir mutlak di setiap waktu.
Semoga hewan qurban yang kita sembelih menjadi saksi ketakwaan kita di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Sumber Referensi:
- Al-Qur’an Al-Karim (Surah Al-Baqarah ayat 203 dan Surah Al-Hajj ayat 37).
- Shahih Muslim, Kitab Al-Shiyam (Puasa), Bab: Larangan Berpuasa pada Hari Tasyrik, Hadits No. 1141.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaif Al-Ma’arif fima Li Mawasim Al-’Am min Al-Wadhaif, hal. 450-455 (Pembahasan seputar keutamaan bulan Dzulhijjah dan Hari Tasyrik).
- Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin (Kutipan atsar dari Al-Hasan Al-Bashri mengenai makna hari raya).
*Penulis merupakan Pelaksana Kehumasan/Penata Layanan Operasional pada Subbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka


Komentar