Majalengka (KEMENAG) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim. mendorong para kepala madrasah dan sekolah Persatuan Ummat Islam (PUI) untuk terus meningkatkan kompetensi kepemimpinan, manajerial, supervisi, kewirausahaan, dan sosial. Kepala madrasah dinilai memiliki peran strategis sebagai motor penggerak peningkatan mutu pendidikan.
Hal tersebut disampaikan Euis saat menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada Workshop Kepala Madrasah dan Sekolah PUI se-Kabupaten Majalengka di Gedung Bapermin PUI Majalengka, Kamis (10/9/2026).
“Peningkatan mutu pendidikan di madrasah sangat ditentukan oleh kepala madrasahnya. Kepala madrasah harus menjadi motor peningkatan mutu karena merekalah yang menentukan arah lembaga pendidikan,” ujar Euis.
Kegiatan yang diikuti sekitar 250 kepala dan wakil kepala madrasah serta sekolah PUI tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M. Workshop menjadi ruang koordinasi, evaluasi, dan penguatan kapasitas pengelola lembaga pendidikan PUI di Kabupaten Majalengka.
Turut hadir Ketua Umum DPD PUI Kabupaten Majalengka KH. Asep Zaki Mulyatno, S.K.M., M.K.M.; Ketua Dewan Syariah Daerah PUI Kabupaten Majalengka KH. Dr. Endi Suhendi, M.Ag.; Ketua Dewan Pakar PUI Kabupaten Majalengka Dr. H. Omo Karsono, M.M.; Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Majalengka H. Ade Firmansyah, S.Sos., M.Pd.I.; serta Funding and Transaction Business Deputy BSI Regional VI Bandung H. Nasori, S.E., M.Si.

Hadir pula para pengurus dan tokoh PUI, ketua DPC PUI, pimpinan badan otonom PUI, serta kepala dan wakil kepala RA, MI, MTs, SMP, MA, dan SMK PUI se-Kabupaten Majalengka.
Dalam sambutannya, Euis menyampaikan apresiasi kepada DPD PUI Kabupaten Majalengka yang secara konsisten mengelola dan mengembangkan lembaga pendidikan Islam. Menurutnya, PUI memiliki jaringan lembaga pendidikan yang besar sekaligus menunjukkan komitmen untuk menyesuaikan tata kelola madrasah dengan regulasi pemerintah.
“Madrasah yang berafiliasi dengan PUI jumlahnya sangat banyak. Hal yang luar biasa adalah lembaga-lembaga tersebut terus berusaha menyelaraskan penyelenggaraan pendidikannya dengan regulasi yang diterbitkan pemerintah, baik oleh Kementerian Agama maupun kementerian yang membidangi pendidikan,” tuturnya.
Ia mencontohkan keterlibatan unsur Kementerian Agama, pengawas madrasah, dan PUI dalam proses seleksi calon kepala madrasah. Mekanisme tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kepala madrasah yang terpilih memiliki kapasitas, integritas, serta kemampuan kepemimpinan yang memadai.

Euis juga menawarkan fasilitasi kerja sama antara PUI dan Balai Diklat Keagamaan (BDK) Bandung untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan penguatan kompetensi kepala madrasah. Pelatihan tersebut diharapkan dapat dilaksanakan secara terstruktur dan menghasilkan sertifikat resmi.
“Apabila terdapat sedikitnya 40 kepala atau calon kepala madrasah yang membutuhkan pelatihan, silakan ajukan melalui Kasi Pendidikan Madrasah. Kami siap membantu menghubungkannya dengan Balai Diklat Keagamaan Bandung,” katanya.
Selain menguasai kemampuan manajerial, lanjut Euis, kepala madrasah harus mampu membaca kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan lembaganya. Hasil analisis tersebut perlu diterjemahkan menjadi program yang terencana, dilaksanakan secara konsisten, serta dievaluasi secara berkala.
“Kepala madrasah harus mampu menentukan lembaganya akan dibawa ke mana. Perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi program harus dipikirkan dengan baik untuk mewujudkan madrasah yang hebat, bermartabat, berprestasi, dan mandiri,” jelasnya.
Dalam menghadapi perkembangan teknologi, kepala madrasah juga dituntut berani melakukan inovasi. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan aplikasi atau metode yang sepenuhnya baru, tetapi dapat dilakukan dengan mereplikasi dan memodifikasi praktik baik dari lembaga pendidikan lain agar sesuai dengan kebutuhan madrasah.

Euis mencontohkan pemanfaatan teknologi konferensi video untuk menghadirkan guru tamu dari luar daerah. Metode tersebut dapat menjadi penyegaran dalam pembelajaran sekaligus membantu peserta didik memahami materi yang bersifat kompleks dan abstrak.
“Sesekali peserta didik dapat belajar bersama guru berprestasi dari daerah lain melalui teknologi. Ini bisa menjadi penyegaran dalam proses pembelajaran dan membuka wawasan baru bagi siswa maupun guru,” ungkapnya.
Ia turut mengingatkan pentingnya kompetensi sosial kepala madrasah melalui penguatan kerja sama dengan berbagai pihak. Madrasah dapat membangun kemitraan dengan puskesmas, pesantren, instansi pemerintah, dunia usaha, dan lembaga lain di lingkungan sekitar.
“Kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepahaman akan memperkuat dukungan terhadap program madrasah. Karena itu, kepala madrasah harus membangun hubungan sosial yang baik, baik di lingkungan internal maupun dengan masyarakat dan instansi di sekitarnya,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPD PUI Kabupaten Majalengka KH. Asep Zaki Mulyatno menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan rapat koordinasi yang dirangkaikan dengan workshop. Tujuannya ialah memperkuat semangat pengabdian atau khidmat seluruh kepala satuan pendidikan dan sivitas akademika PUI.

Menurut Asep, pengelolaan lembaga pendidikan PUI bukan sekadar pekerjaan profesional, melainkan bentuk pengabdian yang dilandasi keikhlasan dan tanggung jawab kepada Allah Swt.
“Kami menyebutnya sebagai khidmat perkaderan. Kepala sekolah dan guru tidak hanya bekerja di PUI, tetapi berkhidmat untuk mendidik generasi serta mengembangkan lembaga pendidikan Islam,” ujarnya.
Asep menyebutkan terdapat 241 lembaga pendidikan yang berafiliasi dengan PUI di Kabupaten Majalengka, terdiri atas 38 RA, 54 MI, 19 MTs dan SMP, 10 MA dan SMK, serta 120 MDTA dan TPQ. Seluruh lembaga tersebut menaungi sekitar 1.225 guru dan 25.000 peserta didik.
Dengan jumlah tersebut, PUI membutuhkan dukungan, kolaborasi, dan sinergi dari pemerintah daerah, Kementerian Agama, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

“Kami siap berkolaborasi dan berkontribusi dalam menyukseskan pembangunan Majalengka. Kami berharap para kepala madrasah terus diperkuat agar mampu menjaga sekaligus mengembangkan lembaga pendidikan PUI,” katanya.
Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M. mengapresiasi penyelenggaraan workshop sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas kepala madrasah dan sekolah. Ia juga menilai budaya khidmat yang dibangun PUI menjadi kekuatan penting dalam mencetak generasi berakhlak mulia, cerdas, tangguh, dan memiliki kepedulian sosial.
“Kultur yang dibangun di PUI bukan semata-mata bekerja, tetapi berkhidmat. Semangat inilah yang membedakan sekaligus menjadi kekuatan dalam menjalankan tanggung jawab pendidikan,” tutur Eman.

Bupati mengajak lembaga pendidikan PUI turut mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Majalengka. Peran madrasah dan sekolah dinilai penting dalam meningkatkan rata-rata lama sekolah sekaligus membentuk karakter generasi muda di tengah tantangan perkembangan teknologi.
Ia juga menegaskan perlunya sinergi antara Pemerintah Kabupaten Majalengka, Kementerian Agama, DPRD, dan organisasi keagamaan untuk merumuskan payung hukum yang memungkinkan pemerintah daerah memberikan dukungan lebih optimal kepada madrasah serta lembaga pendidikan keagamaan.
“Pemerintah daerah memiliki komitmen memberikan perhatian kepada lembaga pendidikan keagamaan. Namun, dukungan tersebut harus memiliki landasan hukum yang jelas agar dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan,” jelasnya.
Setelah rangkaian pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan tiga sesi workshop. Sesi pertama mengangkat tema “Transformasi Lembaga Pendidikan Islam di Era Disrupsi: Membaca Peluang, Menjawab Tantangan, dan Membangun Keunggulan Berkelanjutan” bersama Hj. Houda Muljanti, S.H., M.M., M.Ag. dan Dr. Amin Ridwan, M.Pd.I.
Sesi kedua menghadirkan Dr. Dian Widiantari, M.Ag. dengan materi “Evaluasi dan Penataan Ulang Lembaga Pendidikan PUI”. Adapun sesi ketiga membahas “Penguatan Jam’iyah PUI” yang disampaikan oleh Tim Majelisul Ilmi Madrasah PUI, Tim Pendataan Aset dan Wakaf, Tim KTA PUI, Tim Lazis dan Koin PUI, serta Tim Teknologi Informasi Guru PUI.
Kontributor : Endang Mu’min


Komentar