Artikel Hikmah
Beranda » Berita » Di Balik Setiap Batu Jumrah, Ada Kisah Cinta yang Tidak Pernah Diceritakan

Di Balik Setiap Batu Jumrah, Ada Kisah Cinta yang Tidak Pernah Diceritakan

Oleh : Endang Mu’min*

Selama ini, banyak dari kita mengira lempar jumrah hanyalah sekadar bagian dari rentetan ritual haji. Menyiapkan tujuh batu kecil, berjalan menuju tiang yang besar, lalu berdesakan di bawah terik matahari Mina bersama jutaan jemaah lainnya. Namun, jika kita menyingkap tabir sejarah, di balik setiap batu yang melayang di Mina, sesungguhnya ada monumen cinta yang paling agung yang pernah dicatat oleh langit. Sebuah cinta yang menyatukan tiga hati dalam satu keluarga utuh: Ibrahim, Hajar, dan Ismail. Cinta mereka nyaris dirobohkan oleh makhluk yang telah bersumpah untuk menyesatkan manusia sejak Nabi Adam belum diturunkan ke bumi.

Kisah agung ini bermula sekitar 4.000 tahun yang lalu di sebuah lembah tandus bernama Mina. Pasirnya begitu membakar kaki, langitnya biru tanpa awan, dan tak ada satu pun pohon tinggi untuk berteduh atau sungai untuk melepas dahaga. Di tempat sesunyi itulah, ujian terberat sepanjang sejarah umat manusia diturunkan. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman mengabadikan momen dialog antara sang ayah dan anak dalam Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'”

Sasar Kesiapan Catin, KUA Ligung Gelar Bimwin untuk Cetak Keluarga Matang dan Sehat

Tafsir Ayat dan Tipu Daya Iblis

Menurut Tafsir Al-Wajiz oleh Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, mimpi seorang Nabi adalah sebuah wahyu dan kebenaran yang mutlak. Ketika Nabi Ismail telah beranjak remaja—usia di mana seorang anak sedang lucu-lucunya dan mulai bisa membantu pekerjaan ayahnya—Ibrahim diuji untuk menyembelih putra tunggalnya saat itu (sebelum lahirnya Ishaq). Alih-alih memaksakan perintah tersebut, Ibrahim mengajak anaknya berdialog untuk menguji keteguhan iman sang anak. Jawaban Ismail yang penuh kepasrahan bukanlah sebuah kepasrahan yang buta, melainkan buah dari tarbiyah (pendidikan) tauhid yang ditanamkan oleh ibunya, Hajar, di tengah padang pasir.

Melihat ketaatan yang begitu kokoh, Iblis tidak tinggal diam. Iblis tidak datang membawa pedang untuk menghalangi, karena ia terlalu cerdas. Ia datang dengan bisikan yang sangat halus, menjelma bagai sebuah “nasihat” yang penuh empati.

Sasaran pertama Iblis adalah Hajar, sang ibu. Iblis berbisik, “Tahukah kau ke mana Ibrahim membawa anakmu? Dia hendak menyembelihnya!” Iblis mencoba menyentuh naluri keibuan Hajar agar ia memberontak. Namun, perempuan yang pernah berlari tujuh kali antara Shafa dan Marwah ini menjawab dengan keteguhan yang meruntuhkan argumen Iblis: “Jika itu perintah Allah, maka baiklah dia taati.” Tanpa drama, tanpa air mata pemberontakan.

Gagal menghasut Hajar, Iblis beralih kepada Nabi Ibrahim, menyerang sisi kerapuhan seorang ayah. “Itu hanya bunga tidur, bukan wahyu! Jangan kau korbankan anakmu demi mimpi!” seru Iblis. Tanpa ragu, Ibrahim mengambil tujuh batu kecil di tanah Mina dan melemparkannya ke arah Iblis seraya mengumandangkan takbir. Terakhir, Iblis mencoba menghasut Nabi Ismail dengan menakut-nakutinya akan rasa sakitnya pisau. Namun Ismail remaja menjawab dengan nada yang sama dengan ibunya: “Jika itu perintah Allah, maka aku taat.”

Ikhtiar Kokohkan Pondasi Keluarga, KUA Kertajati Gelar Bimbingan Perkawinan bagi Calon Pengantin

Ketiganya melempar Iblis di tiga tempat berbeda, yang hari ini kita kenal sebagai Jumrah Ula (tempat Ibrahim melempar), Jumrah Wusta (tempat Hajar melempar), dan Jumrah Aqabah (tempat Ismail melempar). Mereka bertiga tidak memiliki grup komunikasi, tidak ada aba-aba untuk kompak, namun hati mereka telah lebih dulu bersepakat pada syariat langit yang sama.

Kisah penolakan terhadap godaan setan ini dipertegas oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, dari jalur Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

لَمَّا أَتَى إِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ الْمَنَاسِكَ عَرَضَ لَهُ الشَّيْطَانُ عِنْدَ جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ فَرََمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّانِيَةِ فَرََمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّالِثَةِ فَرََمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : الشَّيْطَانَ تَرْجُمُونَ ، وَمِلَّةَ أَبِيكُمْ تَتَّبِعُونَ

“Ketika Ibrahim kekasih Allah melakukan ibadah haji, setan menampakkan diri di hadapannya di Jumrah Aqabah. Maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh butir batu hingga setan itu masuk ke dalam tanah. Kemudian setan menampakkan diri lagi di jumrah kedua, lalu Ibrahim melemparnya dengan tujuh butir batu hingga setan itu masuk ke dalam tanah. Kemudian setan menampakkan diri lagi di jumrah ketiga, lalu Ibrahim melemparnya dengan tujuh butir batu hingga setan itu masuk ke dalam tanah.” Ibnu Abbas berkata: “Setanlah yang kalian rajam, dan milah (ajaran) ayah kalian (Ibrahim) yang kalian ikuti.”

Karena ketulusan cinta dan penyerahan total dari satu keluarga utuh ini, Allah mengabadikan akhir kisah yang manis dalam Surah As-Saffat ayat 107:

Amankan Aset Umat, KUA Sindang Fasilitasi Penandatanganan AIW 17 Bidang Tanah Yayasan Santi Asromo

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Allah tidak pernah menginginkan darah atau nyawa Ismail. Yang Allah inginkan adalah keikhlasan dan ketaatan tanpa syarat. Ketika tiga hati telah membuktikan cintanya, langit segera menggantinya dengan domba dari surga.

Hikmah Kehidupan yang Dapat Direalisasikan

Kisah monumental ini bukanlah dongeng masa lalu, melainkan panduan hidup yang harus kita manifestasikan dalam keseharian:

1. “Melempar Jumrah” dalam Kehidupan Sehari-hari

        Setiap kali kita merasakan keraguan untuk bersedekah, rasa malas untuk mendirikan salat, atau bisikan untuk mengambil hak orang lain (korupsi/curang), ketahuilah itu adalah bisikan halus Iblis yang sedang menyamar sebagai “nasihat”. Kita harus “melemparnya” dengan ketegasan iman, mengusir keraguan tersebut dengan mengingat perintah Allah.

        2. Menjaga Benteng Keimanan Keluarga

        Iblis sengaja menggoda Hajar terlebih dahulu karena ia tahu: jika hati seorang ibu goyah, seluruh tatanan keluarga dan generasi di dalamnya bisa runtuh. Bagi para ibu dan calon ibu, jadilah madrasah pertama yang kokoh tauhidnya, agar melahirkan generasi setegar Ismail yang tidak takut pada badai dunia karena hatinya tertambat pada Allah.

        3. Pentingnya Dialog dan Tarbiyah dalam Keluarga

        Nabi Ibrahim mengajarkan kita bahwa ketaatan anak tidak lahir dari pemaksaan, melainkan dari komunikasi yang penuh kasih sayang (dialog) dan keteladanan yang nyata dari kedua orang tua.

        4. Hakikat Cinta adalah Kepatuhan

        Cinta sejati bukanlah tentang ego untuk saling memiliki, melainkan tentang bagaimana sepasang suami istri dan anak saling menggenggam tangan lebih erat untuk bersama-sama patuh kepada Allah, bahkan ketika perintah-Nya terasa berat bagi logika manusia.

        Referensi:

        • Al-Qur’an al-Karim, Surah As-Saffat ayat 102 dan 107.
        • Tafsir Al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili (Tafsir QS. As-Saffat: 102).
        • Kitab Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, Imam Al-Hakim al-Naisaburi, Kitab al-Manasik, Hadis No. 1713. (Disahihkan oleh Imam Al-Hakim dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi sesuai syarat Muslim).
        • Fiqhu as-Sirah An-Nabawiyyah, Syaikh Said Ramadhan al-Buthi (Ulasan mengenai napak tilas ketauhidan keluarga Nabi Ibrahim).
        • Di Balik Setiap Batu Jumroh, Ada Kisah Cinta yang Tidak Pernah Diceritakan. Inspirasi Narasi dari: Tim IG @barengsiroh.

        Di Balik Setiap Batu Jumrah, Ada Kisah Cinta yang Tidak Pernah Diceritakan

        Oleh : Endang Mu’min*

        Selama ini, banyak dari kita mengira lempar jumrah hanyalah sekadar bagian dari rentetan ritual haji. Menyiapkan tujuh batu kecil, berjalan menuju tiang yang besar, lalu berdesakan di bawah terik matahari Mina bersama jutaan jemaah lainnya. Namun, jika kita menyingkap tabir sejarah, di balik setiap batu yang melayang di Mina, sesungguhnya ada monumen cinta yang paling agung yang pernah dicatat oleh langit. Sebuah cinta yang menyatukan tiga hati dalam satu keluarga utuh: Ibrahim, Hajar, dan Ismail. Cinta mereka nyaris dirobohkan oleh makhluk yang telah bersumpah untuk menyesatkan manusia sejak Nabi Adam belum diturunkan ke bumi.

        Kisah agung ini bermula sekitar 4.000 tahun yang lalu di sebuah lembah tandus bernama Mina. Pasirnya begitu membakar kaki, langitnya biru tanpa awan, dan tak ada satu pun pohon tinggi untuk berteduh atau sungai untuk melepas dahaga. Di tempat sesunyi itulah, ujian terberat sepanjang sejarah umat manusia diturunkan. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman mengabadikan momen dialog antara sang ayah dan anak dalam Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 102:

        فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

        “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'”

        Tafsir Ayat dan Tipu Daya Iblis

        Menurut Tafsir Al-Wajiz oleh Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, mimpi seorang Nabi adalah sebuah wahyu dan kebenaran yang mutlak. Ketika Nabi Ismail telah beranjak remaja—usia di mana seorang anak sedang lucu-lucunya dan mulai bisa membantu pekerjaan ayahnya—Ibrahim diuji untuk menyembelih putra tunggalnya saat itu (sebelum lahirnya Ishaq). Alih-alih memaksakan perintah tersebut, Ibrahim mengajak anaknya berdialog untuk menguji keteguhan iman sang anak. Jawaban Ismail yang penuh kepasrahan bukanlah sebuah kepasrahan yang buta, melainkan buah dari tarbiyah (pendidikan) tauhid yang ditanamkan oleh ibunya, Hajar, di tengah padang pasir.

        Melihat ketaatan yang begitu kokoh, Iblis tidak tinggal diam. Iblis tidak datang membawa pedang untuk menghalangi, karena ia terlalu cerdas. Ia datang dengan bisikan yang sangat halus, menjelma bagai sebuah “nasihat” yang penuh empati.

        Sasaran pertama Iblis adalah Hajar, sang ibu. Iblis berbisik, “Tahukah kau ke mana Ibrahim membawa anakmu? Dia hendak menyembelihnya!” Iblis mencoba menyentuh naluri keibuan Hajar agar ia memberontak. Namun, perempuan yang pernah berlari tujuh kali antara Shafa dan Marwah ini menjawab dengan keteguhan yang meruntuhkan argumen Iblis: “Jika itu perintah Allah, maka baiklah dia taati.” Tanpa drama, tanpa air mata pemberontakan.

        Gagal menghasut Hajar, Iblis beralih kepada Nabi Ibrahim, menyerang sisi kerapuhan seorang ayah. “Itu hanya bunga tidur, bukan wahyu! Jangan kau korbankan anakmu demi mimpi!” seru Iblis. Tanpa ragu, Ibrahim mengambil tujuh batu kecil di tanah Mina dan melemparkannya ke arah Iblis seraya mengumandangkan takbir. Terakhir, Iblis mencoba menghasut Nabi Ismail dengan menakut-nakutinya akan rasa sakitnya pisau. Namun Ismail remaja menjawab dengan nada yang sama dengan ibunya: “Jika itu perintah Allah, maka aku taat.”

        Ketiganya melempar Iblis di tiga tempat berbeda, yang hari ini kita kenal sebagai Jumrah Ula (tempat Ibrahim melempar), Jumrah Wusta (tempat Hajar melempar), dan Jumrah Aqabah (tempat Ismail melempar). Mereka bertiga tidak memiliki grup komunikasi, tidak ada aba-aba untuk kompak, namun hati mereka telah lebih dulu bersepakat pada syariat langit yang sama.

        Kisah penolakan terhadap godaan setan ini dipertegas oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, dari jalur Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

        لَمَّا أَتَى إِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ الْمَنَاسِكَ عَرَضَ لَهُ الشَّيْطَانُ عِنْدَ جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ فَرََمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّانِيَةِ فَرََمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّالِثَةِ فَرََمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : الشَّيْطَانَ تَرْجُمُونَ ، وَمِلَّةَ أَبِيكُمْ تَتَّبِعُونَ

        “Ketika Ibrahim kekasih Allah melakukan ibadah haji, setan menampakkan diri di hadapannya di Jumrah Aqabah. Maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh butir batu hingga setan itu masuk ke dalam tanah. Kemudian setan menampakkan diri lagi di jumrah kedua, lalu Ibrahim melemparnya dengan tujuh butir batu hingga setan itu masuk ke dalam tanah. Kemudian setan menampakkan diri lagi di jumrah ketiga, lalu Ibrahim melemparnya dengan tujuh butir batu hingga setan itu masuk ke dalam tanah.” Ibnu Abbas berkata: “Setanlah yang kalian rajam, dan milah (ajaran) ayah kalian (Ibrahim) yang kalian ikuti.”

        Karena ketulusan cinta dan penyerahan total dari satu keluarga utuh ini, Allah mengabadikan akhir kisah yang manis dalam Surah As-Saffat ayat 107:

        وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

        “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

        Allah tidak pernah menginginkan darah atau nyawa Ismail. Yang Allah inginkan adalah keikhlasan dan ketaatan tanpa syarat. Ketika tiga hati telah membuktikan cintanya, langit segera menggantinya dengan domba dari surga.

        Hikmah Kehidupan yang Dapat Direalisasikan

        Kisah monumental ini bukanlah dongeng masa lalu, melainkan panduan hidup yang harus kita manifestasikan dalam keseharian:

        1. “Melempar Jumrah” dalam Kehidupan Sehari-hari:

        Setiap kali kita merasakan keraguan untuk bersedekah, rasa malas untuk mendirikan salat, atau bisikan untuk mengambil hak orang lain (korupsi/curang), ketahuilah itu adalah bisikan halus Iblis yang sedang menyamar sebagai “nasihat”. Kita harus “melemparnya” dengan ketegasan iman, mengusir keraguan tersebut dengan mengingat perintah Allah.

        • Menjaga Benteng Keimanan Keluarga:

        Iblis sengaja menggoda Hajar terlebih dahulu karena ia tahu: jika hati seorang ibu goyah, seluruh tatanan keluarga dan generasi di dalamnya bisa runtuh. Bagi para ibu dan calon ibu, jadilah madrasah pertama yang kokoh tauhidnya, agar melahirkan generasi setegar Ismail yang tidak takut pada badai dunia karena hatinya tertambat pada Allah.

        • Pentingnya Dialog dan Tarbiyah dalam Keluarga:

        Nabi Ibrahim mengajarkan kita bahwa ketaatan anak tidak lahir dari pemaksaan, melainkan dari komunikasi yang penuh kasih sayang (dialog) dan keteladanan yang nyata dari kedua orang tua.

        • Hakikat Cinta adalah Kepatuhan:

        Cinta sejati bukanlah tentang ego untuk saling memiliki, melainkan tentang bagaimana sepasang suami istri dan anak saling menggenggam tangan lebih erat untuk bersama-sama patuh kepada Allah, bahkan ketika perintah-Nya terasa berat bagi logika manusia.

        Referensi:

        • Al-Qur’an al-Karim, Surah As-Saffat ayat 102 dan 107.
        • Tafsir Al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili (Tafsir QS. As-Saffat: 102).
        • Kitab Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, Imam Al-Hakim al-Naisaburi, Kitab al-Manasik, Hadis No. 1713. (Disahihkan oleh Imam Al-Hakim dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi sesuai syarat Muslim).
        • Fiqhu as-Sirah An-Nabawiyyah, Syaikh Said Ramadhan al-Buthi (Ulasan mengenai napak tilas ketauhidan keluarga Nabi Ibrahim).
        • Di Balik Setiap Batu Jumroh, Ada Kisah Cinta yang Tidak Pernah Diceritakan. Inspirasi Narasi dari: Tim IG @barengsiroh.

        *Penulis merupakan Pelaksana Kehumasan/Penata Layanan Operasional pada Subbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka

        Komentar

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *