Majalengka (KEMENAG) – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pendidikan Agama Islam (PAI) Tahun 2026 yang berfokus pada program “Diseminasi Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ)”. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kemenag pada Selasa (5/5/2026) ini, dihadiri oleh 100 perwakilan guru PAI dari berbagai jenjang pendidikan dan pengawas PAI se-Kabupaten Majalengka.
Kepala Seksi PAIS Kemenag Majalengka, Dr. Drs. H. Faisal, M.Pd., dalam laporannya menyampaikan bahwa Rakor ini merupakan tindak lanjut dari hasil evaluasi program prioritas kementerian. Berdasarkan data evaluasi sebelumnya, kemampuan baca Al-Qur’an di kalangan pendidik dan pengawas dinilai masih memerlukan peningkatan untuk mencapai standar mahir.

“Program TBQ adalah prioritas utama. Kami mencatat adanya kendala teknis saat penilaian mandiri sebelumnya, mulai dari perangkat hingga koneksi. Rakor hari ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang konkret,” ujar Faisal.
Ia menambahkan bahwa Kabupaten Majalengka sebelumnya telah sukses menjadi tuan rumah Zona III untuk kegiatan serupa di tingkat provinsi Jawa Barat yang mencakup 11 kabupaten/kota.
“Kini, semangat tersebut kita bawa ke tingkat lokal agar seluruh guru PAI di Majalengka, mulai dari TK hingga SLB, memiliki standar kompetensi yang selaras,” tambahnya.
Dorong Budaya High Trust Society
Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim. Dalam sambutannya, sosok perempuan pertama yang menjabat sebagai Kepala Kantor Kemenag Majalengka ini menekankan pentingnya guru PAI menjadi teladan sebelum mengimplementasikan program TBQ kepada siswa.
“Program TBQ menyasar sekitar 45 juta siswa muslim di sekolah umum seluruh Indonesia. Tujuannya agar setiap lulusan mahir membaca dan menulis Al-Qur’an. Namun, gurunya harus tuntas terlebih dahulu. Saat ini, baru sekitar 12% yang mencapai predikat Mahir, selebihnya masih di jenjang Madya dan Pratama,” ungkap Euis.

Selain aspek teknis, Euis mengajak para pendidik untuk membangun High Trust Society atau masyarakat dengan tingkat kepercayaan tinggi di lingkungan pendidikan. Ia mengimbau agar para guru mengedepankan budaya kolektif-kolegial, di mana yang mahir membantu yang kurang mahir tanpa adanya sikap menghakimi.
“Mari kita tinggalkan budaya saling curiga atau komentar negatif. Kita bangun kerja sama yang harmonis. Jika ada rekan yang belum mahir, tugas kita merangkul dan membantu. Kita harus maju bersama demi kemajuan pendidikan agama di Majalengka,” tegasnya.

Kegiatan Rakor yang dibiayai oleh DIPA Kemenag Majalengka ini diharapkan menghasilkan langkah strategis yang akan disosialisasikan kembali melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), dan AGPAII di seluruh wilayah Kabupaten Majalengka.
Kontributor : Endang Mu’min


Komentar