Majalengka (KEMENAG) – Suasana khidmat menyelimuti halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka pada Senin pagi (4/5/2026). Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan tersebut berkumpul melaksanakan apel pagi rutin yang menjadi momentum penguatan koordinasi sekaligus motivasi kerja di awal pekan.
Kepala Seksi PD Pontren yang juga menjabat sebagai Plt. Kasi Penmad, H. Ade Firmansyah, S.Sos.I., M.Pd.I., hadir sebagai pembina apel. Di hadapan Kepala Kantor Kemenag Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim., serta jajaran pejabat eselon IV lainnya, Ade mengawali amanatnya dengan menekankan pentingnya efektivitas waktu dalam menuntaskan program kerja.
Salah satu fokus utama yang menjadi sorotan adalah percepatan pendataan pondok pesantren. Ade mengingatkan bahwa Seksi PD Pontren hanya memiliki waktu tiga hari ke depan untuk merampungkan basis data pesantren yang menyelenggarakan pendidikan umum.
“Kami sedang berkejaran dengan waktu hingga batas akhir pada Rabu, (6/5) mendatang. Pendataan ini krusial untuk memastikan sekolah umum di bawah naungan pesantren terakomodasi dengan baik dalam sistem kita,” ujar Ade di hadapan peserta apel.
Tak hanya soal pendataan, pekan ini juga menjadi periode sibuk bagi dunia pendidikan madrasah di Majalengka. Ade memaparkan bahwa mulai hari ini hingga (11/5), jenjang MI dan MTs tengah melaksanakan Ujian Madrasah. Secara paralel, pada 4-7 Mei 2026, juga berlangsung Ujian Akhir Bersama Nasional (UABN) bagi santri Diniyah Takmiliyah.
“Kami memohon doa dan dukungan agar seluruh rangkaian ujian, baik di madrasah maupun diniyah, dapat berjalan tertib tanpa kendala teknis sedikit pun,” tambahnya.
Di tengah padatnya agenda sektoral tersebut, Ade menyelipkan pesan moral yang cukup mendalam melalui sebuah mahfudzot atau kata mutiara Arab: “Kun kalyadaini wala takun kal-udzunaini”. Ia mengajak seluruh pegawai untuk bekerja layaknya sepasang tangan dan menghindari sifat sepasang telinga.
Menurutnya, tangan adalah simbol kolaborasi sejati. Ketika satu sisi merasa gatal, sisi lain segera membantu tanpa perlu diminta dan tanpa pernah memprotes meski harus melakukan tugas yang dianggap berat atau kotor. Sebaliknya, telinga digambarkan sebagai dua organ yang berdekatan namun sering kali tidak sinkron; terkadang justru mencerminkan egoisme dan persaingan yang tidak sehat.
“Filosofi tangan ini sangat pas untuk instansi kita. Kita ingin menciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung, bukan yang saling bersaing secara negatif atau hanya sekadar ‘mendengar’ tanpa melakukan tindakan nyata,” tegas Ade.
Menutup arahannya, Ade mengajak seluruh peserta apel untuk memulai pelayanan harian dengan semangat kolektif. Kegiatan pagi itu pun diakhiri dengan pembacaan basmalah bersama dan dilanjutkan dengan agenda pembinaan serta kajian rutin yang diikuti oleh jajaran pimpinan, mulai dari Kasubag TU Dr. H. Heru Hoerudin, M.Ag., dan jajaran Kepala Seksi hingga Kepala KUA.
Kontributor : Endang Mu’min


Komentar