Oleh : Endang Mu’min*
Pernahkah Anda merasa hancur karena dikhianati? Atau merasa lelah batin karena kebaikan Anda tidak dibalas dengan hal yang serupa? Banyak dari kita terjebak dalam analogi “ikan dan air”—kita begitu percaya pada seseorang, namun justru mereka yang menjadi sumber air panas yang merebus perasaan kita. Sebagaimana sebuah ungkapan kalimat dari “Modern Chinese Quotes” yang bertebaran di platform media sosial Tiongkok seperti Weibo, yang berbunyi:
“Dulu aku tak mengerti, kenapa ikan begitu percaya pada air, tapi air malah merebusnya. Kenapa daun begitu percaya pada angin, tapi angin malah meniupnya hingga jatuh. Dan aku dulu begitu percaya padanya, tapi dia tetap saja menyakitiku.”
Pesan utama dari kata-kata ini bukan sekadar tentang kesedihan, melainkan tentang ironi kepercayaan.
Terkadang, sesuatu atau seseorang yang paling kita butuhkan atau paling kita percayai adalah pihak yang memiliki kekuatan paling besar untuk menghancurkan kita.
Namun, jika kita menyelami lebih dalam, benarkah mereka yang menyakiti kita? Benarkan mereka yang menghancurkan kita? Ataukah ekspektasi kita sendiri yang menjadi belati?
Ekspektasi: “Kekerasan Halus” Terhadap Diri Sendiri
Ekspektasi adalah sejenis kekerasan halus yang samar. Pelakunya adalah diri sendiri, dan korbannya pun diri sendiri.
Dalam psikologi, ekspektasi sering dikaitkan dengan antisipasi kognitif.
- Self-Fulfilling Prophecy: Fenomena di mana ekspektasi seseorang terhadap suatu peristiwa (baik positif maupun negatif) dapat memengaruhi perilakunya sedemikian rupa sehingga peristiwa tersebut benar-benar terjadi.
- Teori Harapan (Expectancy Theory): Dikembangkan oleh Victor Vroom, menyatakan bahwa motivasi seseorang ditentukan oleh seberapa besar mereka menginginkan imbalan dan keyakinan bahwa upaya mereka akan membuahkan imbalan tersebut.
Hal ini selaras dengan nasihat bijak dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu yang sangat populer:
“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.”
Mengapa berharap kepada manusia itu pahit? Karena manusia adalah makhluk yang lemah dan tidak memiliki kuasa atas hati mereka sendiri. Allah SWT telah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah [94]: 8).
Seni Mencintai Tanpa Memiliki Ekspektasi
Masalah utama dalam hubungan manusia sering kali muncul karena kita “menuntut dari luar” tapi tidak “mencintai dari dalam.” Kita memberikan kebaikan dengan syarat terselubung: aku baik padamu, maka kamu harus baik padaku.
Seorang mukmin yang cerdas adalah mereka yang berbuat baik demi Allah, sehingga ia tidak peduli apakah manusia akan berterima kasih atau justru mencelanya. Allah memuji sikap ini dalam firman-Nya:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.” (QS. Al-Insan [76]: 9).
Kisah Teladan: Ketegaran Ummu Sulaim
Salah satu kisah paling menakjubkan tentang mengelola ekspektasi dan emosi adalah kisah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha yang diriwayatkan secara shahih oleh Imam Muslim.
Ketika putranya meninggal dunia saat suaminya, Abu Thalhah, sedang tidak di rumah, Ummu Sulaim tidak larut dalam histeria. Ia justru memandikan jenazah anaknya, menutupinya, dan berpesan kepada keluarganya agar tidak memberi tahu suaminya sebelum ia sendiri yang bicara.
Saat Abu Thalhah pulang, Ummu Sulaim melayaninya dengan sangat baik. Sebelum memberi tahu kabar duka, ia bertanya sebuah perumpamaan:
“Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika suatu kaum meminjamkan barang kepada suatu keluarga, lalu mereka meminta kembali barangnya, apakah keluarga itu boleh menolaknya?”
Abu Thalhah menjawab, “Tentu tidak boleh.”
Maka Ummu Sulaim berkata dengan tenang, “Maka haraplah pahala dari Allah atas kematian anakmu.” (Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim, No. 2144).
Ummu Sulaim memahami bahwa anak hanyalah “titipan.” Ketika titipan diambil oleh Pemiliknya, ia tidak merasa “disakiti” oleh takdir, karena ia tidak menaruh ekspektasi bahwa anak itu akan selamanya miliknya. Hasilnya? Nabi $SAW$ mendoakan keberkahan bagi mereka.
Tips Melindungi Hati: Mencintai Karena Allah
Bagaimana cara terbaik melindungi diri dari kekecewaan? Gunakan prinsip ini: “Aku sangat menghargaimu, tapi aku tidak takut kehilanganmu.”
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا
“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya saja, karena bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya saja, karena bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kamu cintai.” (HR. Tirmidzi, No. 1997. Hadits ini dinyatakan Shahih oleh Al-Albani).
Kesimpulan
Jangan berharap pada mahluk, jangan berandai-andai pada dunia, dan jangan memaksakan kehendak. Jika kita tidak menuntut apa-apa dari manusia, maka setiap kebaikan yang datang akan terasa sebagai bonus yang membahagiakan, dan setiap keburukan yang datang tidak akan mampu meruntuhkan kedamaian batin kita.
Mari kita belajar untuk “melihat ke dalam.” Perbaiki hubungan kita dengan Allah (Hablum Minallah), maka Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan manusia (Hablum Minannas).
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim.
- Shahih Muslim, Kitab Fadhailus Shahabah, Bab Min Fadhaili Abi Thalhah al-Anshari.
- Sunan At-Tirmidzi, Kitab Al-Birr was Shilah.
- Siyar A’lam an-Nubala oleh Imam Adz-Dzahabi (untuk kisah para Salaf).
- Work and Motivation oleh Victor Vroom (1964)
*Penulis adalah Pelaksana Kehumasan pada Subbag TU Kantor Kemenag Majalengka


Komentar