Majalengka (KEMENAG) – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka kembali menyelenggarakan kegiatan rutin pembinaan mental spiritual melalui Kajian Kitab Al-Hikam. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (13/7/2026) pagi ini bertempat di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Majalengka. Kajian ini diikuti dengan khidmat oleh seluruh pegawai di lingkungan Kantor Kemenag serta pegawai dari Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Majalengka.
Hadir langsung dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kemenag Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim., Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah, H. Abu Mansyur, S.Ag., M.Pd.I., serta Kasubag TU Kemenag Majalengka, Dr. H. Heru Hoerudin, M.Ag. Agenda rutin ini juga dihadiri oleh jajaran Kepala Seksi (Kasi), Pengawas Madrasah, dan Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) di lingkungan Kemenag Majalengka.

Untuk memperdalam pemahaman kitab tasawuf monumental karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari ini, Penyelenggara Zakat Wakaf Kantor Kemenag Majalengka, Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag., hadir sebagai pemateri utama.
Urgensi Waktu dan Hakikat Amal (Hikmah ke-209)
Dalam paparannya, Ojun Rojun mengupas secara mendalam hikmah ke-209 yang berfokus pada pentingnya memanfaatkan umur untuk amal saleh serta membentengi diri dari gemerlap dunia (tadafunghul dunia). Mengutip nukilan kitab: “Ma fata min ‘umrika la ‘iwadho lahu, wa ma hasala laka minhu la qimata lahu”, ia menegaskan bahwa setiap detik waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa digantikan dengan apa pun.

“Hikmah ini merupakan peringatan keras bagi kita semua tentang pentingnya kehati-hatian dalam memanfaatkan waktu. Masa muda sebelum tua, lapang sebelum sempit, sehat sebelum sakit, dan hidup sebelum mati harus dioptimalkan demi kebaikan. Jangan sampai penyesalan datang di kemudian hari saat kesempatan itu telah sirna,” ujar Ojun di hadapan para jemaah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa amal kebaikan yang berhasil ditunaikan manusia selama hidupnya memiliki nilai yang tak terhingga (la qimata lahu). Nilai spiritual dan keberkahan dari amal tersebut jauh melampaui materi apa pun di dunia. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia tidak akan memperoleh sesuatu kecuali apa yang telah diusahakannya.
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm : 39)
“Kita semua dimotivasi untuk terus mengisi sisa usia ini dengan konsisten beramal. Tujuannya jelas, agar kehadiran kita mampu memanifestasikan diri sebagai khairunnas anfa’uhum linnas—manusia yang paling memberikan manfaat bagi sesama,” imbuhnya.

Menjaga Hati dari Belenggu Hubbud-Dunya (Hikmah ke-210)
Melanjutkan materi, kajian disambung dengan pemaparan hikmah ke-210: “Wa ma ahabba syai-an illa kunta lahu ‘abdan, wa huwa la yuhibbu an takuna li-ghairihi ‘abdan”. Pada bagian ini, Ojun mengingatkan para aparatur sipil negara (ASN) agar tidak terlenang dan diperbudak oleh kecintaan yang berlebihan terhadap urusan duniawi.
“Secara psikologis dan spiritual, ketika seseorang mencintai sesuatu secara berlebihan—apakah itu jabatan, harta, atau materi duniawi lainnya—maka secara tidak sadar ia telah menjadi ‘budak’ dari hal tersebut. Padahal, Allah SWT tidak menyukai jika hati hamba-Nya terikat dan diperbudak oleh selain Diri-Nya,” jelas Ojun lugas.

Kajian interaktif yang berlangsung hangat ini ditutup dengan doa bersama. Melalui pembinaan mental yang konsisten ini, diharapkan seluruh jajaran pegawai Kemenag dan Kemenhaj Majalengka tidak hanya profesional dalam menjalankan tugas kedinasan, tetapi juga memiliki integritas moral dan kematangan spiritual yang kokoh dalam melayani masyarakat.
Kontributor : Endang Mu’min


Komentar