Talaga (KEMENAG) – Guna meningkatkan mutu pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Majalengka menyelenggarakan kegiatan Workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Acara yang berlangsung di Aula MAN 1 Majalengka pada Sabtu (23/5/2026) ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim., yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Mengusung tema “Mengembangkan Strategi Mengajar yang Aktif, Menyenangkan, dan Berbasis Cinta”, workshop ini menghadirkan Didin Hadiat, M.Pd., selaku pemateri utama. Ia merupakan Pengawas Madrasah dari Provinsi Banten yang juga terlibat langsung sebagai salah satu jajaran Tim Penyusun Kurikulum Berbasis Cinta di tingkat Direktorat KSKK Madrasah. Kegiatan ini diikuti dengan penuh antusiasme oleh 74 tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan MAN 1 Majalengka.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim (Katim) Kurikulum dan Evaluasi Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Barat, Hj. Widya Artawati, M.Pd. yang juga menjadi pemateri; Pengawas Pembina Madrasah Aliyah, Yoyoh Adewiyah, M.Pd.; Plt. Kepala MAN 1 Majalengka, Iyan Arif Hasyim, M.Pd.; serta Plt. Kaur TU, Abdul Aziz, S.Sos.

Komitmen Bersama Menuju Madrasah Unggulan
Dalam sambutan pembukanya, Plt. Kepala MAN 1 Majalengka, Iyan Arif Hasyim menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran para pejabat struktural, fungsional, dan seluruh narasumber yang telah meluangkan waktu demi menyukseskan program ini.
“Pendidikan sejatinya akan berhasil manakala dibalut dengan cinta. Kurikulum Berbasis Cinta ini bukan berarti meninggalkan standar kurikulum nasional, tetapi demi kurikulum berbasis cinta ini, standar kurikulum justru semuanya akan lebih mudah tercapai,” ujar Iyan menekankan pentingnya pendekatan kasih sayang dalam mengoptimalkan target kurikulum nasional.
Iyan juga menambahkan bahwa kekuatan cinta dipercaya mampu membawa perubahan besar di lingkungan madrasah melalui pendekatan yang penuh kelembutan.

“Perubahan kecil itu kalau dilakukan terus-menerus biasanya akan menjadi perubahan besar, dan itu harus dilakukan secara konsisten agar mampu membentuk karakter yang baik bagi kita semua,” tuturnya.
Mengintegrasikan Ruh Cinta dalam Manajemen Madrasah
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Majalengka, Euis Damayanti dalam pengarahan intinya menyampaikan rasa bangga atas langkah responsif yang diambil oleh MAN 1 Majalengka. Menurutnya, madrasah ini merupakan lembaga pendidikan pertama di Kabupaten Majalengka yang secara mandiri melakukan diseminasi KBC dengan menghadirkan langsung para perumus kurikulum tersebut dari tingkat pusat dan provinsi.
“Kurikulum Berbasis Cinta itu bukan sebatas bahan ajar atau bagian dari struktur kurikulum baru, melainkan sebuah ruh yang diinsersikan ke dalam kurikulum yang sudah ada,” tegas Euis.

Ia mengingatkan para peserta agar implementasi KBC ini tidak hanya berhenti sebagai slogan, melainkan harus terwujud secara nyata dan komprehensif.
“KBC ini harus benar-benar terimplementasikan secara menyeluruh di dalam intra-kurikuler, ko-kurikuler melalui proyek lintas mapel, ekstra-kurikuler, hingga pembentukan budaya serta iklim madrasahnya,” lanjutnya.
Lebih lanjut, dalam konteks pengembangan lembaga, Euis mengungkapkan rencananya untuk mendorong dan mengusulkan MAN 1 Majalengka menjadi salah satu madrasah unggulan di wilayah Jawa Barat. Potensi fisik seperti ketersediaan fasilitas asrama, lingkungan madrasah yang tertata rapi, serta tingginya komitmen kolektif dari seluruh civitas akademika dinilai menjadi modal kuat untuk meraih predikat tersebut.
“Saya sudah meminta kepada Ibu Katim untuk menelaah baik-baik MAN 1 Majalengka dari semua aspek. Jika memungkinkan, saya ingin madrasah ini diusulkan sebagai madrasah unggulan di Jawa Barat karena komitmen bersama dari seluruh civitas akademikanya untuk terus maju sudah sangat kuat,” ungkap Euis optimistis.
Sebelum membuka acara secara resmi dengan pembacaan basmalah, Euis berpesan agar para pendidik terlebih dahulu memenuhi diri mereka dengan rasa cinta, kesabaran, dan empati sebelum mentransfernya kepada siswa.

“Bagaimana kita bisa berbagi cinta kalau diri kitanya sendiri tidak dipenuhi dengan cinta? Ketika kita penuh dengan cinta, kita akan lebih berempati dan tidak mudah menghakimi keterbatasan siswa. Mari kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu,” pesannya memotivasi seluruh peserta agar senantiasa mewujudkan ekosistem madrasah yang humanis, aktif, dan menyenangkan.
Kontributor : Endang Mu’min


Komentar