Sukahaji (KEMENAG) — Semangat melestarikan bahasa dan budaya Sunda kembali mempertemukan insan pendidikan lintas lembaga. Dua guru MTsN 14 Majalengka, yakni Titin Supriatin, M.Pd. dan Fety Siti Fatimah, S.Pd.I., mendapat kepercayaan menjadi juri dalam kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang SD tingkat Kecamatan Sukahaji, Kamis (10/09/2026).
FTBI merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan sebagai wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan bersastra Sunda sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah. Beragam cabang lomba disajikan dalam kegiatan tersebut, di antaranya Pasanggiri Maca Sajak, Ngadongeng, Biantara, Maca jeung Nulis Aksara Sunda, Ngarang Carita Pondok, Ngabodor Sorangan, dan Nembang Pupuh.
Dalam kegiatan tersebut, Titin dan Fety diberikan amanah untuk menjadi juri pada cabang Pasanggiri Nembang Pupuh, yang meliputi kategori nembang pupuh putri dan nembang pupuh putra.
Kepercayaan yang diberikan kepada dua guru MTsN 14 Majalengka ini menjadi sebuah kebanggaan sekaligus bentuk apresiasi terhadap kompetensi pendidik madrasah dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya Sunda. Dengan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki, keduanya turut memastikan proses penilaian berlangsung secara objektif, profesional, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Wujud Nyata Sinergitas Pendidikan
Lebih dari sekadar keterlibatan dalam sebuah perlombaan, kehadiran guru MTsN 14 Majalengka sebagai juri FTBI menjadi gambaran nyata sinergitas antara lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama dengan lingkungan pendidikan di bawah Dinas Pendidikan.
MTsN 14 Majalengka yang secara kelembagaan berada di bawah Kementerian Agama dapat berkolaborasi dan berkontribusi dalam kegiatan yang diselenggarakan di lingkungan Dinas Pendidikan/PGRI Kecamatan Sukahaji. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa dunia pendidikan memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan ruang terbaik bagi peserta didik untuk berkembang serta menjaga keberlangsungan budaya lokal.
Sinergitas tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa batas kelembagaan bukanlah penghalang untuk berkolaborasi. Sebaliknya, keberagaman lembaga pendidikan dapat menjadi kekuatan ketika dipersatukan oleh kepentingan yang sama, khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan melestarikan bahasa serta budaya Sunda.
Melalui FTBI, para peserta didik tidak hanya berkompetisi untuk meraih prestasi, tetapi juga belajar mengenal jati diri budaya daerah. Sementara itu, keterlibatan para pendidik dari berbagai lembaga menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang saling mendukung.
Bagi MTsN 14 Majalengka, kepercayaan kepada Titin dan Fety merupakan momentum untuk terus memperkuat peran madrasah di tengah masyarakat. Madrasah tidak hanya hadir sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu berkontribusi dalam berbagai kegiatan pendidikan, sosial, dan kebudayaan di lingkungan sekitar.
Dari pupuh, terjalin kolaborasi. Dari budaya, tumbuh sinergi. Dari pendidikan, lahir generasi yang berkarakter dan mencintai jati diri bangsanya.
Kontributor : Yudi A Krisnanto


Komentar