Jatiwangi (KEMENAG) — Pagi itu, embun masih menempel di ujung dedaunan ketika beberapa siswa mulai membawa gembor dan alat kebun menuju sudut-sudut hijau MAN 3 Majalengka. Ada yang menyiram tanaman, ada yang mencabut rumput liar, sementara yang lain merapikan bunga agar kembali tertata indah. Di balik aktivitas sederhana itu, tersimpan sebuah ikhtiar untuk menjaga rumah kedua mereka tetap teduh dan nyaman.
Di madrasah ini, taman-taman itu bukan sekadar ruang terbuka hijau. Setiap sudutnya memiliki nama yang mengingatkan pada indahnya surga dalam Al-Qur’an. Ada Taman Firdaus, Taman Ma’wa, Taman Na’im, dan Taman ‘Adn. Nama-nama itu sengaja dipilih agar setiap langkah yang melintas di antaranya menjadi pengingat bahwa keindahan, kebersihan, dan kepedulian terhadap alam juga merupakan bagian dari nilai-nilai keislaman.
Rabu (29/7/2026), kegiatan perawatan kembali dilakukan. Warga madrasah bergotong royong merawat tanaman yang tumbuh di berbagai sudut lingkungan. Penyiraman dilakukan secara rutin, rumput liar dibersihkan, tanaman dipupuk, dan beberapa jenis tanaman hias baru ditambahkan agar suasana taman semakin segar dipandang.
Tidak ada pekerjaan yang terasa berat ketika dilakukan bersama. Sambil bekerja, para siswa saling bercanda dan berbagi tugas. Kebersamaan itu menjadikan kegiatan merawat taman bukan sekadar rutinitas, tetapi juga ruang untuk belajar tentang tanggung jawab dan kepedulian.
Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., menilai lingkungan yang bersih dan hijau memiliki pengaruh besar terhadap semangat belajar peserta didik. Karena itu, menjaga taman menjadi bagian dari budaya yang terus dibangun di madrasah.
“Kami ingin peserta didik merasa nyaman ketika berada di madrasah. Lingkungan yang hijau membuat suasana belajar lebih tenang, sementara nama-nama taman ini kami hadirkan sebagai pengingat bahwa setiap kebaikan, termasuk merawat lingkungan, adalah bagian dari ibadah,” tutur Ela.
Bagi MAN 3 Majalengka, taman bukan sekadar pelengkap bangunan sekolah. Taman menjadi ruang belajar tanpa dinding. Dari sana siswa belajar mencintai alam, menghargai proses tumbuhnya kehidupan, sekaligus memahami bahwa sesuatu yang indah hanya dapat bertahan jika dirawat dengan penuh kesabaran.
Semangat itu juga terus dijaga oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Sarana dan Prasarana, Deni Hilman Abdillah, M.Pd. Bersama timnya, ia memastikan setiap sudut penghijauan tetap terpelihara melalui penyiraman, pemupukan, penataan ulang, hingga penambahan koleksi tanaman secara berkala.
“Merawat taman bukan pekerjaan yang selesai dalam sehari. Ini adalah proses yang terus kami lakukan agar lingkungan madrasah selalu hijau, bersih, dan nyaman bagi seluruh warga madrasah,” jelas Deni.
Keasrian lingkungan MAN 3 Majalengka bukanlah hasil kerja sesaat. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Setiap tanaman yang disiram, setiap rumput yang dibersihkan, dan setiap bunga yang dirawat menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diajarkan secara nyata.
Melalui “Taman-Taman Surga”, MAN 3 Majalengka ingin menghadirkan pesan sederhana kepada seluruh peserta didiknya: mencintai lingkungan bukan hanya tentang menjaga keindahan, tetapi juga merawat amanah Allah SWT. Dari taman-taman yang terus tumbuh itu, madrasah berharap lahir generasi yang bukan hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki hati yang peka terhadap alam, peduli kepada sesama, dan senantiasa menghadirkan kebaikan di mana pun mereka berada.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar