Artikel Opini
Beranda » Berita » Patah Tumbuh, Hilang Berganti: Estafet Kepemimpinan Kemenag Majalengka dalam Menjaga Arah Pengabdian

Patah Tumbuh, Hilang Berganti: Estafet Kepemimpinan Kemenag Majalengka dalam Menjaga Arah Pengabdian

Oleh: Sofwan Farohi, S.H.I., M.Pd.*

Dalam setiap organisasi, kepemimpinan adalah poros utama yang menentukan arah gerak, ritme kerja, sekaligus keberlanjutan cita-cita bersama. Sebuah organisasi tanpa pemimpin ibarat kapal tanpa nahkoda—mudah kehilangan arah, rawan oleng, bahkan terancam berhenti di tengah perjalanan. Karena itu, pergantian pemimpin bukanlah akhir dari sebuah babak, melainkan kelanjutan dari estafet perjuangan yang harus terus berjalan.

Pepatah lama mengatakan, “patah tumbuh, hilang berganti.” Ungkapan ini mengandung makna mendalam: bahwa dalam kehidupan organisasi, pergantian adalah keniscayaan, tetapi keberlangsungan harus tetap terjaga. Seseorang boleh berpindah amanah, namun roda organisasi tidak boleh berhenti berputar. Regenerasi kepemimpinan adalah tanda sehatnya sebuah institusi.

Hal itulah yang hari ini Rabu (15/4/2026) tergambar dalam momentum pisah sambut di Kementerian Agama Kabupaten Majalengka. Dr. H. Agus Sutisna, S.Ag., M.Pd., yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, kini mengemban amanah baru sebagai Kepala Bidang Urais pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat. Tongkat kepemimpinan beliau diteruskan oleh Dr. Hj. Euis Damayanti, M. P.KIM., yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Majalengka.

Pergantian ini bukan sekadar mutasi jabatan administratif, melainkan simbol kesinambungan visi, nilai, dan pengabdian. Dalam teori kepemimpinan modern, konsep ini dikenal sebagai leadership continuity—keberlanjutan kepemimpinan yang memastikan organisasi tetap stabil meski terjadi transisi figur.

Kartini: Cahaya Kesetaraan dalam Bingkai Fitrah dan Iman

John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan dunia, menegaskan bahwa “A leader is great not because of power, but because of the ability to empower others.” Pemimpin besar bukan hanya berhasil memimpin pada masanya, tetapi juga menyiapkan generasi penerus yang mampu melanjutkan arah perjuangan. Dalam konteks ini, keberhasilan seorang pemimpin diukur pula dari seberapa baik ia meninggalkan sistem yang siap diteruskan.

Sementara itu, Peter Drucker, ahli manajemen terkemuka, menyebut bahwa inti kepemimpinan adalah tanggung jawab menjaga keberlangsungan institusi, bukan sekadar mempertahankan posisi pribadi. Karena itu, estafet kepemimpinan harus dipahami sebagai proses alami organisasi yang sehat: satu pemimpin melanjutkan fondasi yang dibangun pemimpin sebelumnya, lalu menambahkan inovasi untuk kemajuan berikutnya.

Dalam perspektif Islam, keberlanjutan kepemimpinan juga merupakan bagian dari amanah yang tidak boleh terputus. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Apabila tiga orang keluar bepergian, hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.” (HR. Abu Dawud)

Lepas 31 Calon Jemaah Haji, Kepala Kemenag Majalengka Tekankan Niat Ibadah dan Integritas ASN

Hadis ini menegaskan bahwa dalam komunitas sekecil apa pun, kepemimpinan adalah kebutuhan mendasar. Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah menjelaskan bahwa keberadaan pemimpin diperlukan untuk menjaga keteraturan, melanjutkan maslahat umat, dan memastikan amanah berjalan tanpa kekosongan. Kepemimpinan, menurut beliau, bukan hak individu, melainkan amanah kolektif demi kesinambungan tatanan bersama.

Ibnu Khaldun pun dalam Muqaddimah menekankan bahwa keberlangsungan suatu peradaban sangat ditentukan oleh kesinambungan kepemimpinan yang mampu menjaga solidaritas, visi, dan stabilitas lembaga. Maka, tongkat estafet kepemimpinan tidak boleh berhenti di satu tangan; ia harus terus berpindah, agar pengabdian tetap hidup lintas generasi.

Hari ini, Kementerian Agama Majalengka sedang menunjukkan wajah organisasi yang matang: ketika satu pemimpin melangkah ke amanah baru, pemimpin berikutnya hadir melanjutkan. Dr. H. Agus Sutisna telah menorehkan dedikasi, arah, dan teladan selama memimpin. Kini, Dr. Hj. Euis Damayanti memikul amanah baru untuk melanjutkan sekaligus mengembangkan capaian yang telah dirintis.

Bagi kami, para CPNS 2025 Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, momentum ini memiliki makna yang istimewa. Di bawah kepemimpinan kedua tokoh inilah kami memperoleh ruang belajar, bertumbuh, dan mulai menapaki pengabdian di institusi ini. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai pemimpin struktural, tetapi juga sebagai pembina yang membuka jalan bagi generasi baru ASN Kementerian Agama.

Selamat mengemban amanah baru kepada Dr. H. Agus Sutisna, S.Ag., M.Pd. Semoga sukses di tempat tugas yang baru dan terus memberi manfaat lebih luas bagi umat. Selamat menjalankan amanah kepemimpinan kepada Dr. Hj. Euis Damayanti, M. PKIM. Semoga kepemimpinan baru ini membawa semangat segar, inovasi, dan keberkahan bagi Kementerian Agama Majalengka.

Perkuat Mentalitas Pegawai, Kemenag Majalengka Bedah Makna Maqom dan Keikhlasan dalam Kajian Al-Hikam

Karena pada akhirnya, kepemimpinan sejati bukan tentang siapa yang datang dan pergi, melainkan bagaimana nilai dan pengabdian tetap hidup, berlanjut, dan memberi arah. Patah tumbuh, hilang berganti—namun pengabdian tidak pernah berhenti.

*Penulis adalah Penghulu di KUA Kecamatan Banjaran

Daftar Referensi

Al-Mawardi. (2006). Al-Ahkam As-Sulthaniyyah: Hukum-Hukum Penyelenggaraan Negara dalam Syariat Islam. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy’ats. (t.t.). Sunan Abi Dawud, Kitab Al-Jihad, Bab fi al-Qawm Yusafirun Ya’muruna Ahadahum. Hadis No. 2608.

Drucker, Peter F. (2001). The Essential Drucker. New York: HarperBusiness.

Ibnu Khaldun. (2004). Muqaddimah Ibn Khaldun. Beirut: Dar al-Fikr.

Maxwell, John C. (2007). The 21 Irrefutable Laws of Leadership: Follow Them and People Will Follow You. Nashville: Thomas Nelson.

Northouse, Peter G. (2019). Leadership: Theory and Practice (8th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Rivai, Veithzal, & Mulyadi, Deddy. (2012). Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: Rajawali Pers.

Yukl, Gary. (2013). Leadership in Organizations (8th ed.). Boston: Pearson Education.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *