Majalengka (KEMENAG) —Kepala Seksi PD Pontren Kemenag Majalengka, Dr. Ojun Rojun, M.Ag., mengajak para guru mengutamakan pembentukan karakter dan akhlak peserta didik dalam proses pendidikan, bukan hanya mengejar capaian akademik. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) di Pondok Pesantren Al Mizan, Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, yang dihadiri ratusan pendidik, Senin (12/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi bagi para pejuang pendidikan, mulai dari guru madrasah hingga guru Pendidikan Agama Islam (PAI), untuk memperkuat wawasan dan komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam. Turut hadir Anggota Komisi VIII DPR RI, K.H. Dr. Maman Imanul Haq, M.M., Hj. Upik Rofiqoh, S.Pd dan Dr. H. Dartum, S.IP., M.MPd. dari Dewan Pendidikan, serta ketua Yayasan Al Mizan, H. Asep Zaenal.
Dalam paparannya, Ojun menyoroti pentingnya perubahan paradigma pendidikan dari orientasi yang hanya menitikberatkan pada nilai akademik dan ijazah menuju pendidikan yang menyeimbangkan kecerdasan intelektual, pembentukan karakter, dan pengembangan keterampilan peserta didik.
Ojun membandingkan sejumlah kebiasaan dalam budaya pendidikan Indonesia dan Jepang, terutama dalam hal pembiasaan membaca, kedisiplinan, dan tanggung jawab terhadap kesalahan. Menurutnya, pendidikan perlu memberikan perhatian lebih besar pada pembentukan budi pekerti sejak dini, bukan semata-mata mengejar capaian kognitif.
“Orang-orang Jepang mengisi waktu kosongnya dengan membaca dan membaca. Kalau orang Indonesia mengisi waktu kosongnya dengan nge-rumpi atau bermain ponsel. Orang Jepang malu ketika melakukan kesalahan, sementara orang Indonesia melakukan kesalahan masih bisa tertawa,” papar Ojun di hadapan peserta.
Lebih lanjut, Ojun menjelaskan bahwa kemampuan akademik dapat ditingkatkan melalui pembelajaran terstruktur, sedangkan pembentukan karakter membutuhkan proses panjang, konsistensi, keteladanan, dan pembiasaan yang berkelanjutan.
Ojun mengingatkan para pendidik agar tidak terjebak pada pencapaian akademik semata dengan mengabaikan aspek afektif dan psikomotorik. Ketiga ranah pendidikan tersebut perlu dikembangkan secara seimbang agar peserta didik tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga sikap, keterampilan, dan akhlakul karimah.
Guru diharapkan dapat menerapkan pendidikan karakter melalui keteladanan, pembiasaan disiplin, budaya membaca, tanggung jawab, serta penanaman nilai-nilai keislaman dalam kegiatan belajar sehari-hari. Pendekatan tersebut juga mendorong guru agar tidak hanya menilai keberhasilan peserta didik berdasarkan hasil ujian, tetapi turut memperhatikan perkembangan sikap, perilaku, dan keterampilan mereka.
Selain menyoroti kompetensi dan profesionalisme guru, Ojun juga menyampaikan pandangannya mengenai perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan tenaga pendidik. Menurutnya, peningkatan kesejahteraan perlu berjalan beriringan dengan penguatan kualitas dan tanggung jawab profesional guru.
Ojun juga turut menyinggung penataan kelembagaan pendidikan Islam, khususnya keberadaan Direktorat Pesantren di lingkungan Kementerian Agama. Penguatan tata kelola kelembagaan tersebut menjadi salah satu aspek yang disorot dalam upaya mendukung pengembangan pendidikan pesantren.
Ojun juga mengingatkan para guru agar menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai landasan dalam mendidik dan membimbing peserta didik. Ojun menyampaikan pesan spiritual tentang pentingnya memperbaiki salat sebagai bagian dari ikhtiar memperbaiki kehidupan.
“Guru tidak berjanji kalau selesai sekolah akan dapat kerjaan, dokter tidak berjanji kalau minum obat akan sembuh dari penyakit. Tapi Allah berjanji, perbaikilah salat kita, maka akan Allah perbaiki hidup kita,” tuturnya.
Kegiatan ‘Ngopi’ diharapkan berdampak pada peningkatan kualitas praktik pembelajaran, terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih positif, serta penguatan peran guru sebagai pendidik dan teladan. Upaya ini penting untuk membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, matang dalam karakter, dan memiliki akhlak mulia. Dampak tersebut memerlukan tindak lanjut melalui penerapan konsisten di lingkungan pendidikan.
Kontributor: D.Win/Herry


Komentar