Berita Kemenag

Kajian Al-Hikam: Kedekatan kepada Allah Menjadi Sumber Nikmat Hakiki

Majalengka (KEMENAG) — Kecintaan berlebihan terhadap harta, jabatan, kedudukan, dan berbagai kenikmatan dunia dapat menjadi penghalang bagi kedekatan seorang hamba dengan Allah Swt. Sebaliknya, kemampuan menerima perubahan maupun kehilangan dengan sabar dan ikhlas merupakan bagian dari proses mendekatkan diri kepada-Nya. Pesan tersebut menjadi pokok pembahasan Kajian Kitab Al-Hikam di Masjid Al-Ikhlas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Senin (21/9/2026).

Kajian yang membahas hikmah ke-222 karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari tersebut disampaikan oleh Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Kemenag Kabupaten Majalengka Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag.

Dalam kajiannya, Ojun Rojun menjelaskan bahwa keinginan untuk mempertahankan sesuatu selain Allah secara berlebihan menunjukkan bahwa hati masih bergantung pada perkara duniawi. Ketergantungan tersebut dapat terlihat dari munculnya kegelisahan ketika harta berkurang, jabatan beralih, kedudukan berubah, atau kenikmatan yang dimiliki tidak lagi berada dalam genggaman.

“Ketika sesuatu yang bersifat duniawi atau selain Allah hadir dalam kehidupan kita, jangan sampai kita mengagumi dan mencintainya secara berlebihan hingga tidak siap berpisah dengan kenikmatan tersebut,” ujar Ojun Rojun.

Menurutnya, manusia secara naluriah dapat merasakan sedih dan kecewa ketika kehilangan sesuatu yang dicintainya. Namun, perasaan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Seorang mukmin perlu segera menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah dan pada waktunya dapat kembali diambil sesuai dengan kehendak-Nya.

Pimpin Apel Pagi Kemenag Majalengka, Kasi PAIS Tekankan Pembentukan Karakter dan Pemahaman Tupoksi ASN

“Apabila Allah mengambil suatu kenikmatan, tetapi kita tetap bersabar dan menerima takdir-Nya, insyaallah hati akan kembali tenang. Allah dapat mengganti ujian tersebut dengan sesuatu yang lebih baik dan membawa keberkahan,” tuturnya.

Ia mengibaratkan kehidupan sebagai proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat ujian. Nilai kehidupan seseorang tidak hanya ditentukan oleh banyaknya nikmat yang diterima, tetapi juga oleh sikapnya ketika menghadapi kesulitan, perubahan, dan kehilangan.

“Ketika seseorang ingin memperoleh nilai yang baik, biasanya akan ada ujian. Karena itu, ujian harus dihadapi dengan ketulusan, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah,” katanya.

Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan hikmah berikutnya yang menerangkan bahwa kenikmatan sejati lahir dari kesadaran akan kehadiran Allah dan kedekatan kepada-Nya. Sebaliknya, penderitaan batin muncul karena adanya hijab atau penghalang yang menjauhkan hati manusia dari Allah.

Ojun Rojun menegaskan bahwa harta, jabatan, kedudukan, dan berbagai bentuk kesenangan dunia belum tentu menghadirkan ketenteraman. Seluruhnya baru menjadi nikmat hakiki apabila diperoleh melalui cara yang benar, disyukuri, dan dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memberikan manfaat kepada sesama.

Sentuh Hati Peserta Upacara, Kepala MTsN 10 Majalengka Tekankan Pentingnya Tanamkan Keabaikan

“Nikmat yang hakiki adalah nikmat yang benar-benar menghadirkan kenyamanan di dalam hati. Kenyamanan itu tumbuh karena kita menyadari bahwa nikmat berasal dari Allah, mensyukurinya karena Allah, dan senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Nya,” jelasnya.

Rasa syukur, lanjutnya, harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Harta dapat disyukuri dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah serta menggunakannya di jalan yang benar. Sementara itu, jabatan dan kedudukan perlu disyukuri dengan menjalankan amanah secara jujur, bertanggung jawab, dan berorientasi pada pelayanan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan sesama, termasuk memenuhi kewajiban dan menyelesaikan utang tepat waktu. Perbuatan yang menyulitkan orang lain dapat menghilangkan ketenteraman dan keberkahan dalam kehidupan.

“Kesaksian batin bahwa Allah senantiasa melihat kita harus tercermin dalam cara kita menggunakan harta dan menjalankan jabatan. Jika semua itu disyukuri serta disalurkan pada jalan yang semestinya, insyaallah akan tumbuh kenyamanan dan keberkahan dalam hati,” ungkapnya.

Menurut Ojun Rojun, sesuatu yang dipandang buruk oleh manusia belum tentu buruk di sisi Allah. Demikian pula, sesuatu yang dianggap baik belum tentu menjadi kebaikan menurut ketetapan-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin perlu membangun prasangka baik kepada Allah dan meyakini bahwa selalu terdapat hikmah di balik setiap ketentuan.

MTsN 6 Majalengka Gelar Salat Istisqa Bersama Masyarakat

Ujian juga akan terasa lebih ringan ketika seseorang mampu mengembalikannya kepada Allah. Keyakinan bahwa setiap kesulitan akan disertai kemudahan membuat seorang mukmin tidak mudah berputus asa ketika menghadapi persoalan.

“Ujian tidak akan terasa terlalu berat apabila kita meyakini bahwa semua itu merupakan ketetapan Allah. Sebagaimana firman-Nya, fa inna ma‘al-‘usri yusrā, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” ujarnya.

Mengakhiri kajian, Ojun Rojun mengajak seluruh peserta untuk terus belajar mengendalikan godaan duniawi, meningkatkan rasa syukur, serta menumbuhkan kecintaan kepada Allah melebihi kecintaan terhadap perkara dunia.

“Mudah-mudahan kita senantiasa menjadi hamba-hamba Allah yang dipenuhi kecintaan kepada-Nya dan tidak termasuk orang-orang yang tamak serta lebih mengutamakan dunia daripada akhirat,” pungkasnya.

Kajian Kitab Al-Hikam merupakan kegiatan rutin pembinaan mental dan rohani bagi pegawai di lingkungan Kantor Kemenag Kabupaten Majalengka. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh pegawai Kantor Kemenag Kabupaten Majalengka dan pegawai Kantor Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kabupaten Majalengka.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim., Kepala Subbagian Tata Usaha Dr. H. Heru Hoerudin, M.Ag., Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam H. Sofyan Firdaus, S.H., M.H., M.Pd.I., Penyelenggara Zakat dan Wakaf H. Taupik Hidayat, S.H.I., MA.Hk., serta Kepala KUA Kecamatan Majalengka Agus Susanto, S.Ag.

Kontributor: Endang Mu’min

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *