Berita Kemenag

Kajian Al-Hikam Kemenag Majalengka: Jangan Bergantung pada Pujian dan Penilaian Manusia

Majalengka (KEMENAG) — Menghadapi pujian, celaan, maupun sikap tidak peduli dari orang lain membutuhkan keteguhan hati dan kedewasaan spiritual. Pesan yang  disampaikan Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag. tersebut menjadi pokok pembahasan dalam kegiatan Kajian Al-Hikam rutin di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Senin (2/11/2026), yang mengangkat Hikmah ke-234 tentang pentingnya mengembalikan penilaian terhadap diri kepada pandangan Allah SWT.

Kajian kali ini mengajak peserta merenungkan bagaimana menyikapi perlakuan orang lain tanpa menjadikannya sebagai ukuran utama dalam menilai diri dan amal perbuatan. Sebab, pujian dapat membuat seseorang terlena, sementara celaan dan sikap tidak dihargai berpotensi melukai perasaan apabila terlalu dipikirkan.

Hikmah ke-234 Al-Hikam menyampaikan pesan mendalam,

“Dikala engkau merasa sakit hati karena orang-orang tidak menghiraukanmu, atau mereka mengarahkan celaan kepadamu, maka kembalilah pada ilmu-Nya Allah SWT tentang dirimu. Ketika engkau masih belum puas dengan ilmu-Nya, maka musibah yang menimpamu karena tidak puas dengan ilmu-Nya lebih besar daripada musibah yang menimpamu sebab adanya celaan dari mereka.”

Penilaian manusia bersifat terbatas dan tidak selalu menggambarkan keadaan seseorang yang sebenarnya. Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk niat, usaha, keikhlasan, dan amal yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Hadir di Pesantren Ulumuddin, Kasi PAIS Kemenag Majalengka Dorong Penguatan Tartil Al-Qur’an Guru Agama

Karena itu, salah satu pelajaran penting dari hikmah tersebut adalah mengembalikan segala penilaian kepada Allah SWT.

“Kita tidak seharusnya kehilangan ketenangan hanya karena tidak memperoleh pujian atau harus menghadapi celaan. Selama apa yang dikerjakan berada dalam kebaikan dan dilandasi niat yang benar, tidak adanya pengakuan manusia bukan alasan untuk berhenti berbuat baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, pesan ini sangat dekat dengan aktivitas pekerjaan, termasuk bagi ASN Kementerian Agama. Ada kalanya tugas telah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak mendapat perhatian. Ada pula pekerjaan yang justru menuai kritik, meskipun telah diupayakan sebaik mungkin.

Situasi semacam itu hendaknya tidak membuat seseorang berkecil hati. Sikap orang lain yang terkesan cuek, tidak memberikan apresiasi, atau bahkan menyampaikan celaan tidak perlu menjadi sumber kegelisahan yang berkepanjangan. Energi dan perhatian sebaiknya tetap diarahkan pada tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Lebih jauh, kajian ini mengajak peserta memahami bahwa musibah yang lebih besar bukanlah ketika seseorang dicela atau tidak dihargai oleh manusia, melainkan ketika hatinya tidak mampu menerima dan meyakini pengetahuan serta penilaian Allah SWT terhadap dirinya. Artinya, ketika seseorang lebih sibuk mengejar pengakuan manusia daripada menjaga hubungan dengan Allah, ia berisiko kehilangan ketenangan batin.

Ceria dan Bersyukur, Siswa MAN 1 Majalengka Terima Program Makan Bergizi Gratis

Menariknya, celaan dan sikap tidak menghiraukan dari orang lain juga dapat menjadi jalan pendidikan bagi hati. Melalui keadaan tersebut, Allah SWT memberikan kesempatan kepada seseorang untuk belajar melepaskan ketergantungan terhadap pujian dan membangun keikhlasan dalam beramal.

Ketika seseorang tidak lagi menjadikan apresiasi sebagai tujuan utama, ia akan lebih leluasa menjalankan kebaikan. Pekerjaan tetap dilakukan dengan sungguh-sungguh, pelayanan tetap diberikan dengan baik, dan tanggung jawab tetap ditunaikan meskipun tidak selalu mendapat perhatian atau penghargaan.

Dengan demikian, perlakuan yang kurang menyenangkan dari orang lain dapat menjadi nikmat apabila disikapi dengan benar. Keadaan tersebut membantu seseorang mengenali kecenderungan hatinya, memperbaiki niat, serta melatih kesabaran dan ketulusan. Bukan berarti setiap celaan harus diterima tanpa evaluasi, melainkan setiap kritik perlu disikapi secara bijaksana tanpa kehilangan keteguhan hati.

Melalui kajian rutin Al-Hikam, nilai-nilai tasawuf diharapkan semakin membumi dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, kualitas pengabdian tidak hanya tercermin dari hasil pekerjaan yang terlihat, tetapi juga dari kebersihan niat dan keteguhan hati dalam menjalaninya. Pada akhirnya, bekerja dengan ikhlas berarti tetap berusaha memberikan yang terbaik, sekalipun tidak semua orang melihat, memuji, atau menghargainya.

Kajian Al-Hikam Kemenag Majalengka: Jangan Bergantung pada Pujian dan Penilaian Manusia

Kenali Bahaya, 552 Siswa Dapatkan Edukasi Mitigasi Kebakaran

Majalengka (KEMENAG) — Menghadapi pujian, celaan, maupun sikap tidak peduli dari orang lain membutuhkan keteguhan hati dan kedewasaan spiritual. Pesan yang  disampaikan Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag. tersebut menjadi pokok pembahasan dalam kegiatan Kajian Al-Hikam rutin di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Senin (2/11/2026), yang mengangkat Hikmah ke-234 tentang pentingnya mengembalikan penilaian terhadap diri kepada pandangan Allah SWT.

Kajian kali ini mengajak peserta merenungkan bagaimana menyikapi perlakuan orang lain tanpa menjadikannya sebagai ukuran utama dalam menilai diri dan amal perbuatan. Sebab, pujian dapat membuat seseorang terlena, sementara celaan dan sikap tidak dihargai berpotensi melukai perasaan apabila terlalu dipikirkan.

Hikmah ke-234 Al-Hikam menyampaikan pesan mendalam,

“Dikala engkau merasa sakit hati karena orang-orang tidak menghiraukanmu, atau mereka mengarahkan celaan kepadamu, maka kembalilah pada ilmu-Nya Allah SWT tentang dirimu. Ketika engkau masih belum puas dengan ilmu-Nya, maka musibah yang menimpamu karena tidak puas dengan ilmu-Nya lebih besar daripada musibah yang menimpamu sebab adanya celaan dari mereka.”

Penilaian manusia bersifat terbatas dan tidak selalu menggambarkan keadaan seseorang yang sebenarnya. Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk niat, usaha, keikhlasan, dan amal yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Karena itu, salah satu pelajaran penting dari hikmah tersebut adalah mengembalikan segala penilaian kepada Allah SWT.

“Kita tidak seharusnya kehilangan ketenangan hanya karena tidak memperoleh pujian atau harus menghadapi celaan. Selama apa yang dikerjakan berada dalam kebaikan dan dilandasi niat yang benar, tidak adanya pengakuan manusia bukan alasan untuk berhenti berbuat baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, pesan ini sangat dekat dengan aktivitas pekerjaan, termasuk bagi ASN Kementerian Agama. Ada kalanya tugas telah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak mendapat perhatian. Ada pula pekerjaan yang justru menuai kritik, meskipun telah diupayakan sebaik mungkin.

Situasi semacam itu hendaknya tidak membuat seseorang berkecil hati. Sikap orang lain yang terkesan cuek, tidak memberikan apresiasi, atau bahkan menyampaikan celaan tidak perlu menjadi sumber kegelisahan yang berkepanjangan. Energi dan perhatian sebaiknya tetap diarahkan pada tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Lebih jauh, kajian ini mengajak peserta memahami bahwa musibah yang lebih besar bukanlah ketika seseorang dicela atau tidak dihargai oleh manusia, melainkan ketika hatinya tidak mampu menerima dan meyakini pengetahuan serta penilaian Allah SWT terhadap dirinya. Artinya, ketika seseorang lebih sibuk mengejar pengakuan manusia daripada menjaga hubungan dengan Allah, ia berisiko kehilangan ketenangan batin.

Menariknya, celaan dan sikap tidak menghiraukan dari orang lain juga dapat menjadi jalan pendidikan bagi hati. Melalui keadaan tersebut, Allah SWT memberikan kesempatan kepada seseorang untuk belajar melepaskan ketergantungan terhadap pujian dan membangun keikhlasan dalam beramal.

Ketika seseorang tidak lagi menjadikan apresiasi sebagai tujuan utama, ia akan lebih leluasa menjalankan kebaikan. Pekerjaan tetap dilakukan dengan sungguh-sungguh, pelayanan tetap diberikan dengan baik, dan tanggung jawab tetap ditunaikan meskipun tidak selalu mendapat perhatian atau penghargaan.

Dengan demikian, perlakuan yang kurang menyenangkan dari orang lain dapat menjadi nikmat apabila disikapi dengan benar. Keadaan tersebut membantu seseorang mengenali kecenderungan hatinya, memperbaiki niat, serta melatih kesabaran dan ketulusan. Bukan berarti setiap celaan harus diterima tanpa evaluasi, melainkan setiap kritik perlu disikapi secara bijaksana tanpa kehilangan keteguhan hati.

Melalui kajian rutin Al-Hikam, nilai-nilai tasawuf diharapkan semakin membumi dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, kualitas pengabdian tidak hanya tercermin dari hasil pekerjaan yang terlihat, tetapi juga dari kebersihan niat dan keteguhan hati dalam menjalaninya. Pada akhirnya, bekerja dengan ikhlas berarti tetap berusaha memberikan yang terbaik, sekalipun tidak semua orang melihat, memuji, atau menghargainya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *