Sindangwangi (KEMENAG) — Gerakan Pramuka menjadi ruang penting bagi peserta didik untuk membangun karakter, menumbuhkan optimisme, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Pesan tersebut disampaikan Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Dr. H. Heru Hoerudin, M.Ag., saat membuka perkemahan kenaikan tingkat Penggalang Ramu ke Penggalang Rakit bagi anggota Pramuka Gugus Depan 18111 dan 18112 Pangkalan MTsN 10 Majalengka, Jumat (23/10/2026), di Bumi Perkemahan Talaga Pancar, Kecamatan Sindangwangi.
Dalam amanatnya, Heru mengajak para peserta memaknai kegiatan kepramukaan bukan sekadar perjalanan untuk mencapai tingkat kecakapan berikutnya, melainkan kesempatan membentuk kebiasaan baik yang akan menjadi bekal dalam kehidupan. Berada di alam terbuka, menurutnya, memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik untuk belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, sekaligus pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Heru secara khusus menyoroti peran hutan bagi keberlangsungan kehidupan. Hutan menjadi habitat berbagai jenis satwa, tempat penyimpanan air, penopang keseimbangan ekosistem, serta salah satu sumber oksigen yang dibutuhkan manusia. Karena itu, kerusakan hutan dapat menimbulkan dampak yang luas, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
Heru mengingatkan bahwa pembakaran hutan untuk membuka lahan merupakan tindakan yang mengabaikan kepentingan bersama. Dampaknya tidak berhenti pada hilangnya pepohonan, tetapi juga dapat mengganggu habitat satwa, menurunkan kualitas udara, dan mengancam keseimbangan alam.

“Kecintaan terhadap alam harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Jangan merusak lingkungan, biasakan menjaga kebersihan, serta mulailah menanam dan merawat pohon di sekitar rumah. Hal-hal sederhana seperti ini merupakan bagian dari tanggung jawab kita dalam menjaga bumi,” pesannya kepada para anggota Pramuka.
Pesan tersebut berkaitan erat dengan Dasa Darma Pramuka, khususnya darma kedua, yaitu Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Heru menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari pendidikan karakter. Menjaga alam berarti turut menjaga kehidupan manusia dan makhluk lain yang bergantung pada kelestariannya.
Selain kepedulian terhadap lingkungan, Heru menekankan pentingnya mengamalkan Dasa Darma kesepuluh, yakni Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Menurutnya, kualitas perkataan dan tindakan seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan. Pikiran yang jernih dan positif akan membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih baik, menjaga hubungan dengan orang lain, serta menghadapi tantangan secara optimistis.
Heeru mengajak peserta didik membiasakan diri menghindari prasangka buruk, menjaga ucapan, dan mempertimbangkan dampak setiap tindakan. Sikap tersebut penting ditanamkan sejak dini agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu menghargai orang lain, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya.
Untuk memperkuat pesannya, Heru mengangkat pemikiran yang dikenal luas melalui filsafat Lao Tse mengenai hubungan antara pikiran, perkataan, perbuatan, kebiasaan, karakter, dan nasib seseorang. Heru mengingatkan bahwa masa depan tidak terbentuk secara tiba-tiba, melainkan turut dipengaruhi oleh pilihan dan kebiasaan yang terus dilakukan setiap hari.
“Bangunlah pikiran yang positif, ucapkan perkataan yang baik, dan lakukan perbuatan yang bermanfaat. Kebiasaan yang dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter dan memengaruhi masa depan,” ungkapnya.
Heru juga mendorong para peserta agar berani memiliki cita-cita besar. Ia mengingatkan bahwa menempuh pendidikan di madrasah bukan alasan untuk membatasi impian. Setiap peserta didik memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, TNI, Polri, politik, pendidikan, hingga dunia usaha, sepanjang disertai kemauan belajar dan persiapan yang sungguh-sungguh.
Dalam kesempatan tersebut, Heru turut memperkenalkan gagasan pembentukan kebiasaan yang dibahas dalam buku Atomic Habits karya James Clear. Ia mengajak peserta memahami bahwa perubahan besar dapat berawal dari tindakan sederhana yang dilakukan secara berulang dan konsisten.
Kebiasaan membaca, menjaga kedisiplinan, menghormati orang lain, menyelesaikan tanggung jawab, dan menjaga lingkungan merupakan contoh langkah kecil yang dapat membentuk kualitas diri.
“Keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh bakat atau keadaan saat ini, tetapi juga oleh kemauan untuk terus belajar dan mempertahankan kebiasaan baik.” imbuhnya
Melalui kegiatan kepramukaan, Kementerian Agama Kabupaten Majalengka terus mendorong penguatan pendidikan karakter yang melengkapi proses pembelajaran di madrasah. Nilai-nilai yang dipelajari diharapkan tidak berhenti sebagai materi atau amanat pembina, tetapi tumbuh menjadi perilaku yang nyata.
Kontributor: D.Win


Komentar