Berita Kemenag

Subuh Akbar di Masjid Al Iman, Kepala Kankemenag Majalengka Kuatkan Nilai Keagamaan Bersama Masyarakat

Majalengka (KEMENAG) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim, bersama Kasubbag Tata Usaha dan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah mengikuti kegiatan Subuh Akbar di Masjid Al Iman, Jumat (23/10/2026). Kegiatan yang turut dihadiri Bupati Majalengka, H. Eman Suherman, M.M., tersebut diisi dengan kuliah subuh oleh Ustadz Nandang, Ketua MUI desa Jatiraga Kecamatan Jatitujuh yang mengangkat pesan tentang istigfar sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt. sekaligus ikhtiar spiritual dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Suasana ibadah pada waktu subuh itu menjadi ruang bagi jemaah untuk memperkuat keimanan dan menyimak pesan-pesan keagamaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui materi yang disampaikan, jemaah diajak memahami bahwa istigfar bukan sekadar ucapan memohon ampunan, melainkan bagian dari kesadaran seorang hamba untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah Swt., dan menghadapi persoalan dengan hati yang lebih tenang.

Dalam ceramahnya, Ustadz Nandang mengangkat tema “Istigfar Solusi dari Masalah”. Ia menjelaskan bahwa istigfar merupakan salah satu bentuk zikir yang berisi permohonan ampun kepada Allah Swt. Amalan ini memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim karena mengingatkan manusia akan keterbatasan dirinya dan pentingnya kembali kepada Allah ketika menghadapi kesulitan.

Istigfar tidak semestinya hanya diucapkan ketika seseorang merasa bersalah atau sedang mengalami kesusahan.

25 Peserta Porsadin Majalengka Siap Berlaga di Tingkat Provinsi Jawa Barat

“Memohon ampunan kepada Allah perlu menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, baik saat lapang maupun sempit.” Tegas Ustadz Nandang

Kesadaran tersebut mendorong seseorang untuk senantiasa melakukan introspeksi, memperbaiki perilaku, serta menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Pesan mengenai pentingnya salat subuh juga menjadi bagian dari materi kuliah subuh. Ustadz Nandang mengingatkan kembali peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw. dan salat subuh sebagai salah satu ibadah yang memiliki kedudukan penting bagi umat Islam. Pesan tersebut mengajak jemaah untuk memelihara salat, terutama salat subuh, sebagai bagian dari kedisiplinan beribadah dan upaya menjaga kedekatan dengan Allah Swt.

Untuk memperjelas pesan tentang istigfar, Ustadz Nandang menyampaikan kisah Syekh Hasan Al-Basri yang didatangi tiga orang dengan persoalan berbeda. Orang pertama mengadukan kondisi daerahnya yang mengalami kekeringan. Orang kedua menyampaikan kesulitan ekonomi yang dihadapinya, sedangkan orang ketiga mengungkapkan keinginannya untuk memperoleh keturunan.

Meski persoalan yang disampaikan ketiganya berbeda, Syekh Hasan Al-Basri memberikan jawaban yang sama, yakni memperbanyak istigfar. Kisah tersebut menggambarkan pentingnya memohon ampunan kepada Allah dan menjadikan zikir sebagai bagian dari ikhtiar seorang muslim ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Kakankemenag Majalengka Tegaskan Perundungan Bukan Budaya Madrasah

Ustadz Nandang mengaitkan kisah tersebut dengan Surah Nuh ayat 10–13. Dalam ayat-ayat itu, Allah Swt. memerintahkan umat-Nya untuk memohon ampunan dan menjelaskan bahwa ampunan-Nya disertai berbagai karunia, antara lain hujan yang melimpah, harta, keturunan, serta kebun dan sungai. Pesan Al-Qur’an tersebut menjadi pengingat bahwa istigfar memiliki makna mendalam dalam kehidupan spiritual seorang muslim.

Kisah Syekh Hasan Al-Basri juga mengandung pelajaran bahwa setiap persoalan perlu dihadapi dengan ikhtiar yang tepat, disertai doa dan tawakal. Istigfar bukan alasan untuk meninggalkan usaha nyata, melainkan bagian dari ikhtiar batin yang menguatkan seseorang agar tetap bersabar, berusaha, dan tidak kehilangan harapan ketika menghadapi kesulitan.

Kehadiran Kepala Kantor Kemenag Majalengka bersama Kasubbag Tata Usaha dan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah dalam Subuh Akbar juga menjadi kesempatan untuk mengikuti penguatan nilai-nilai keagamaan bersama masyarakat. Kebersamaan dalam kegiatan ibadah seperti ini dapat mempererat hubungan antara unsur pemerintah dan masyarakat sekaligus membuka ruang untuk menyerap pesan-pesan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.

Kontributor: D.Win

Hari Santri 2026: Perkuat Peran Santri dalam Ilmu, Akhlak, dan Pembangunan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *