Jatiwangi (KEMENAG) — Komitmen Kementerian Agama dalam memperkuat fondasi ketahanan keluarga terus digencarkan hingga ke tingkat kecamatan. Sebagai langkah konkret hulu dalam menekan angka perceraian sekaligus mendukung program nasional penanganan stunting, Kantor Urusan Agama (KUA) Jatiwangi menggelar Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi Calon Pengantin. Kegiatan strategis ini dilaksanakan secara tatap muka pada Senin (25/05/2026), bertempat di aula balai nikah KUA setempat.
Kegiatan yang dirancang sebagai pembekalan komprehensif ini diikuti oleh 30 peserta atau 15 pasang calon pengantin yang terdaftar akan melangsungkan pernikahan di wilayah Kecamatan Jatiwangi dalam waktu dekat. Sejak pembukaan hingga akhir sesi, jalannya acara berlangsung dengan tertib, khidmat, dan diwarnai dialog interaktif yang penuh antusiasme dari para peserta.
Bimwin Sebagai Sekolah Pra-Nikah
Hadir memonitoring sekaligus membuka kegiatan secara resmi, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, H. Sofyan Firdaus, S.H., M.H. Dalam arahan dan bimbingannya, Sofyan menegaskan bahwa fase sebelum akad nikah adalah momentum paling krusial untuk mengisi kapasitas keilmuan para calon nakhoda rumah tangga.
“Pelaksanaan Bimbingan Perkawinan ini bukanlah sekadar formalitas administratif belaka, melainkan sebuah kebutuhan mutlak dan bekal fundamental bagi calon pengantin dalam menghadapi realitas kehidupan rumah tangga yang kompleks. Kami memposisikan Bimwin ini sebagai ‘sekolah pra-nikah’. Di sinilah para catin diajarkan cara membangun keluarga yang harmonis, menjaga ritme komunikasi, serta yang paling utama adalah menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi spiritualitas keluarga,” urai Sofyan Firdaus di hadapan peserta.
Senada dengan hal tersebut, Kepala KUA Jatiwangi, Drs. H. Sihabudin, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pasangan catin yang telah menunjukkan komitmen besar dengan mengikuti seluruh rangkaian materi dari awal hingga selesai.
“Kami sangat bangga melihat antusiasme para peserta hari ini. Harapan besar kami, melalui orientasi dan Bimbingan Perkawinan ini, tidak ada lagi ego sektoral antara suami dan istri. Mereka harus memahami betul apa yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing setelah ijab kabul diucapkan. Dengan pemahaman yang matang terhadap regulasi agama dan negara, kita optimis mereka mampu mewujudkan keluarga yang bahagia, sakinah, mawaddah, warahmah, serta melahirkan generasi yang berkualitas,” tutur Sihabudin.
Sinergi Lintas Sektoral: Bedah Materi dari Psikologi hingga Kesehatan Reproduksi
Untuk memastikan para calon pengantin mendapatkan wawasan yang utuh dan multidimensi, KUA Jatiwangi mengadopsi pendekatan kelas integratif dengan menghadirkan para fasilitator internal Kemenag serta narasumber ahli dari lintas instansi sektoral.
Materi pertama disampaikan oleh Fasilitator Bimwin KUA Jatiwangi yang membedah domain psikologi dan manajemen keluarga. Dalam sesi ini, peserta dibekali tentang seni membangun relasi keluarga yang setara dan harmonis, pengelolaan dan manajemen konflik dalam rumah tangga—mengingat konflik adalah hal yang niscaya—serta pemenuhan hak-kewajiban pasangan berbasis pada prinsip saling menghargai (mu’asyarah bil ma’ruf). Penekanan khusus juga diberikan pada pentingnya komunikasi dua arah yang sehat sebagai kunci penyelesaian setiap dinamika keluarga.
Pada sesi berikutnya, giliran sektor perencanaan kependudukan yang dikupas tuntas oleh Narasumber dari Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan Jatiwangi, Drs. Nana Hartasupana. Nana memaparkan materi krusial mengenai pentingnya perencanaan keluarga (family planning) yang matang, pengaturan jarak kelahiran, edukasi kesehatan reproduksi, serta kesiapan mental dan ekonomi. Menurutnya, ketahanan ekonomi dan kesiapan mental yang direncanakan sejak awal merupakan pilar penting guna menghindari keretakan rumah tangga di kemudian hari.
Fokus Utama: Jaga Kesehatan Ibu-Anak dan Putus Mata Rantai Stunting
Tak kalah penting, aspek kesehatan fisik dan gizi menjadi sorotan utama dalam materi penutup yang disampaikan oleh Narasumber dari Puskesmas Jatiwangi, Yeni Marliana, A.Md.Keb. Kehadiran pihak tenaga kesehatan ini menjadi bukti nyata keseriusan Kementerian Agama dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting nasional dari sektor hulu.
Yeni Marliana memaparkan secara gamblang mengenai standar kesehatan calon pengantin, pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pentingnya pemenuhan gizi seimbang sejak masa pranikah dan kehamilan.
“Pencegahan stunting tidak dimulai saat anak lahir, melainkan sejak bapak dan ibunya mempersiapkan pernikahan. Melalui forum Bimwin ini, kami menekankan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak, memeriksa kecukupan zat besi dan hemoglobin calon pengantin wanita, serta mengawal 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Langkah ini sangat vital demi mewujudkan keluarga yang tidak hanya bahagia secara batiniah, tetapi juga sehat dan sejahtera secara lahiriah,” tegas Yeni.
Kegiatan bimbingan maraton ini diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif dan foto bersama. Melalui program kolaboratif yang terstruktur ini, Kanwil Kemenag Jabar melalui Kemenag Majalengka berharap angka ketahanan keluarga di tingkat akar rumput semakin kokoh, sekaligus mampu melahirkan generasi masa depan Jawa Barat yang sehat, cerdas, dan religius.
Kontributor : Pupung Purnama Giri


Komentar