Majalengka (KEMENAG) – Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka kembali menggelar kegiatan penguatan spiritual melalui kajian rutin Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari. Kegiatan yang penuh khidmat ini berlangsung di Masjid Al-Ikhlas, Kantor Kemenag Majalengka, Senin (11/5/2026).
Hadir dalam kajian tersebut Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Majalengka H. Abu Mansyur, S.Ag., M.Pd.I., Kasubag TU beserta jajaran Kepala Seksi, Pengawas Madrasah, Pengawas PAI, serta seluruh pegawai dari lingkungan Kemenag dan Kemenhaj Kabupaten Majalengka.
Dalam pemaparannya, Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag., mengupas secara mendalam hikmah ke-186 hingga 188. Ia menjelaskan bahwa setiap ucapan yang keluar dari lisan para kekasih Allah memiliki latar belakang rohani yang berbeda.
“Ibnu Atha’illah menjelaskan bahwa ucapan seorang ahli makrifat adakalanya lahir dari fayidhanul wujdan atau luapan perasaan hati yang sudah tidak terbendung,” ujar Ojun. Ia mengibaratkan kondisi ini seperti sebuah gelas yang terus-menerus diisi air hingga meluap dengan sendirinya. Pada kondisi ini, ilmu keluar secara otomatis (qahran) tanpa kendali sadar karena sapaan ruhani yang sangat kuat. Kondisi ini jamak ditemui pada para sadikin atau orang yang baru menempuh jalan makrifat.
Namun, ada pula kondisi di mana ucapan tersebut keluar atas kendali penuh (mukinah) dengan tujuan hidayatul muridin—yakni memberikan petunjuk kepada murid.
“Golongan kedua ini adalah para pendidik ruhani yang mumpuni. Mereka mengatur dosis pembicaraan sesuai kapasitas pendengarnya agar tidak terjadi salah paham,” tambahnya.
Memasuki hikmah ke-187, Ojun menekankan bahwa nasihat adalah qut atau makanan bagi jiwa para pendengar. Ia mengingatkan bahwa tidak semua “makanan” ruhani cocok untuk semua orang. Pendengar harus bijak menyerap ilmu yang sesuai dengan tingkat kedewasaan spiritualnya agar tidak menjadi beban pikiran yang justru membingungkan.
Pada bagian akhir materi, kajian menyentuh hal yang sangat halus terkait kejujuran spiritual dalam hikmah ke-188. Ojun menjelaskan bahwa terkadang seseorang berbicara tentang sebuah maqam (kedudukan spiritual seperti zuhud atau tawakal) karena ia baru sekadar melihat atau mengincar maqam tersebut, bukan karena telah mendudukinya.
“Hal ini sering kali samar (multabis). Kita sulit membedakan mana orang yang bicara karena sudah ‘sampai’ (washala) dan mana yang bicara karena baru berkeinginan untuk sampai,” jelas Ojun. Perbedaan ini hanya dapat dideteksi oleh mereka yang memiliki basirah atau ketajaman mata batin yang kuat.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Majalengka, H. Abu Mansyur, S.Ag., M.Pd.I., dalam sesi penguatannya memberikan apresiasi atas konsistensi para pegawai dalam mengikuti kajian ini. Menurutnya, pembersihan hati merupakan fondasi utama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Kegiatan rutin ini ditutup dengan do’a bersama serta ramah tamah dan diharapkan dapat menjadi sarana peningkatan kualitas iman serta integritas bagi seluruh pegawai di lingkungan Kemenag Kabupaten Majalengka.
Kontributor : Endang Mu’min


Komentar