Majalengka (KEMENAG) — Ruang teater mini mendadak menjadi ruang belajar yang berbeda bagi puluhan siswa kelas X MAN 3 Majalengka. Bukan papan tulis dan buku pelajaran yang menjadi pusat perhatian, melainkan layar yang menyajikan film edukatif tentang sejarah dan perkembangan bahasa serta sastra.
Pengalaman tersebut dirasakan siswa saat mengikuti kunjungan edukatif ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Majalengka, Jumat (4/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya madrasah menghadirkan pengalaman literasi yang lebih dekat dengan perkembangan media pembelajaran saat ini.
Setelah tiba di Perpusda, siswa terlebih dahulu diperkenalkan dengan lingkungan dan fasilitas perpustakaan. Mereka menyempatkan diri melihat koleksi buku serta melakukan aktivitas membaca secara mandiri.
Namun, suasana kemudian berubah ketika rombongan memasuki fasilitas theater mini. Para siswa mengambil tempat duduk dan menyaksikan tayangan film edukatif yang membahas sejarah serta perkembangan bahasa dan sastra.
Bagi sebagian siswa, pembelajaran melalui tayangan audio-visual menghadirkan pengalaman yang berbeda. Materi yang sebelumnya mungkin terasa sebagai rangkaian informasi di dalam buku, kini dapat mereka lihat dan dengarkan melalui sebuah tayangan yang lebih komunikatif.
Perhatian siswa pun tertuju pada layar. Mereka mengikuti alur tayangan sekaligus mendapatkan gambaran mengenai perjalanan bahasa dan sastra dari waktu ke waktu. Suasana belajar menjadi lebih santai, tetapi tetap sarat dengan informasi.
Pembina Literasi MAN 3 Majalengka, Heni Supartini, S.S., mengatakan pemanfaatan fasilitas theater mini menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pembelajaran literasi yang lebih variatif.
“Melalui pembelajaran berbasis media di theater mini ini, kami ingin menyajikan asupan literasi kekinian yang tidak hanya edukatif, tetapi juga menarik dan relevan dengan perkembangan zaman. Siswa dapat memahami materi sejarah bahasa dan sastra secara lebih visual dan mendalam,” ujar Heni.
Menurutnya, literasi pada masa kini perlu dikembangkan melalui berbagai media. Membaca tetap menjadi bagian penting, tetapi siswa juga perlu dikenalkan dengan cara memperoleh dan memahami informasi melalui media visual dan audio-visual.
Kunjungan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perpustakaan dapat menjadi ruang belajar yang lebih luas daripada sekadar tempat membaca buku. Fasilitas theater mini memberikan alternatif bagi siswa untuk memperoleh pengetahuan melalui pengalaman menonton yang edukatif.
Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap bahasa, sastra, dan dunia literasi secara lebih luas. Pengalaman menyaksikan tayangan edukatif diharapkan tidak berhenti di ruang teater, tetapi dapat memantik rasa ingin tahu siswa untuk membaca dan mencari informasi lebih lanjut.
Sebagai tindak lanjut, MAN 3 Majalengka berencana mengembangkan kegiatan literasi melalui kunjungan edukatif dan menghubungkannya dengan tugas pembelajaran. Siswa dapat menuangkan kembali informasi yang diperoleh melalui rangkuman, ulasan, maupun karya tulis sederhana.
Melalui kegiatan tersebut, pengalaman belajar siswa menjadi lebih beragam. Dari buku mereka mendapatkan informasi, dari layar mereka mendapatkan gambaran, dan dari pengalaman berkunjung mereka menemukan cara baru untuk menikmati proses belajar.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar