Jatiwangi (KEMENAG) — Sebelum suara bel pelajaran pertama terdengar, sejumlah siswa MAN 3 Majalengka sudah lebih dulu sibuk dengan aktivitasnya. Ada yang menyapu lantai, merapikan meja dan kursi, mengepel, hingga memastikan sampah berada pada tempatnya. Aktivitas sederhana itu menjadi bagian dari kebiasaan pagi melalui program piket kelas yang kembali digiatkan di MAN 3 Majalengka, Senin (7/9/2026).
Bagi sebagian siswa, piket kelas mungkin terlihat sebagai rutinitas sederhana. Namun, dari kegiatan kecil tersebut, madrasah berupaya menanamkan kebiasaan untuk peduli terhadap lingkungan sekaligus belajar bertanggung jawab terhadap ruang yang setiap hari digunakan untuk belajar.
Pelaksanaan piket dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh masing-masing kelas. Para siswa berbagi tugas untuk memastikan ruang belajar tetap bersih, rapi, dan nyaman sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
Kebiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada sekadar membersihkan ruang kelas. Lebih dari itu, siswa diajak memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama. Ketika setiap siswa mengambil bagian, lingkungan madrasah pun menjadi lebih terawat dan nyaman untuk digunakan bersama.
Wali Kelas X MAN 3 Majalengka, Siti Mutia Anggraeni, S.Pd., mengatakan bahwa piket kelas menjadi salah satu cara sederhana untuk membiasakan siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
“Piket kelas ini bukan sekadar aktivitas membersihkan ruangan. Di dalamnya ada pembelajaran tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Kami ingin kebiasaan sederhana ini dilakukan secara konsisten sehingga menjadi bagian dari keseharian siswa,” ujarnya.
Menurutnya, suasana kelas yang bersih dan tertata juga memberikan pengaruh terhadap kenyamanan siswa selama mengikuti pembelajaran. Karena itu, keterlibatan siswa dalam menjaga kebersihan perlu terus dibangun, bukan hanya ketika ada penilaian kebersihan atau kegiatan tertentu.
Program piket kelas juga menjadi bagian dari upaya MAN 3 Majalengka dalam menguatkan budaya peduli lingkungan di lingkungan madrasah. Melalui kebiasaan yang dilakukan secara rutin, siswa tidak hanya diajak menjaga kebersihan tempat belajar, tetapi juga belajar bekerja sama dan saling mengingatkan.
Pihak madrasah selanjutnya akan melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala agar pelaksanaan piket berjalan dengan baik. Dengan demikian, budaya menjaga kebersihan diharapkan tidak hanya menjadi kewajiban yang tercantum dalam jadwal, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran.
Dari sapu yang digerakkan di pagi hari, meja yang kembali tertata, hingga sampah yang ditempatkan pada tempatnya, madrasah sedang membangun kebiasaan baik dari hal-hal yang sederhana. Sebab, lingkungan belajar yang nyaman tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dari kepedulian kecil yang dilakukan bersama dan terus-menerus.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar