Jatiwangi (KEMENAG). Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim., membuka kegiatan In House Training (IHT) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diselenggarakan MTsN 2 Majalengka bersama Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) 2 Majalengka, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula MTsN 2 Majalengka tersebut menghadirkan Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Bandung, Dr. Hj. Emma Hidayaturrohmah, M.Ag., sebagai narasumber. Sebanyak 77 peserta yang terdiri atas kepala madrasah dan tenaga pendidik di lingkungan KKMTs 2 Majalengka mengikuti kegiatan tersebut.
Turut hadir Kepala MTsN 2 Majalengka, Agus Shaleh Yahya, S.Ag., M.Pd.I.; Kepala MTsN 10 Majalengka, H. Dadang, S.Ag., M.Pd.; Pengawas Pembina Madrasah, Drs. H. Edy Mulyana, M.Pd.; serta para kepala madrasah anggota KKMTs 2 Majalengka.

Kepala MTsN 2 Majalengka, Agus Shaleh Yahya, dalam laporannya menyampaikan bahwa IHT tersebut merupakan bagian dari program peningkatan kompetensi guru yang telah direncanakan sebelumnya. Pelaksanaannya juga menjadi tindak lanjut atas arahan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka untuk menghadirkan inovasi dalam bidang kurikulum.
“Kami sangat berkomitmen, khususnya MTsN 2 Majalengka dan KKMTs 2 Majalengka, untuk terus meningkatkan kompetensi guru. Insyaallah, apabila guru-gurunya berkompeten, peserta didiknya juga akan semakin berkompeten,” ujarnya.
Menurut Agus, kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari para kepala MTs yang tergabung dalam KKMTs 2 Majalengka. Antusiasme peserta bahkan melampaui kapasitas ruang yang tersedia.

Ia berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir dan memanfaatkannya untuk memperdalam pemahaman mengenai penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam pembelajaran.
“Jangan sampai kegiatan ini hanya menjadi program seremonial. Jadikan kegiatan ini sebagai kebutuhan dan kesempatan untuk meningkatkan kompetensi serta kemampuan kita sebagai guru,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Euis Damayanti, menegaskan bahwa nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta pada dasarnya telah lama dipraktikkan para guru. Melalui KBC, nilai-nilai tersebut dikemas dan dipertegas agar penerapannya dalam pendidikan lebih sistematis dan terarah.
“Kita sudah mengajar dengan cinta. Kita sudah mengajarkan bagaimana mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai ilmu pengetahuan, mencintai diri sendiri dan sesama, mencintai lingkungan, serta mencintai bangsa dan tanah air,” ungkapnya.

Euis menjelaskan, Panca Cinta yang menjadi fondasi KBC mencakup cinta kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada diri sendiri dan sesama, cinta kepada lingkungan atau alam, serta cinta kepada bangsa dan tanah air.
Menurutnya, keberhasilan penerapan KBC dapat dilihat melalui tiga indikator utama, yakni terwujudnya madrasah ramah lingkungan, madrasah ramah anak, serta peserta didik yang sejahtera secara mental dan spiritual.
Madrasah ramah lingkungan, lanjutnya, ditandai dengan lingkungan belajar yang bersih, rapi, nyaman, dan lestari. Hal tersebut juga harus didukung dengan kegiatan pengelolaan sampah, penanaman pohon, serta penerapan budaya hemat energi dalam kehidupan sehari-hari.
Euis turut mengapresiasi prestasi MTsN 2 Majalengka yang pernah meraih juara ketiga dalam program Madrasah Asri. Ia mendorong seluruh warga madrasah untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Indikator berikutnya adalah terwujudnya madrasah ramah anak, yaitu lingkungan pendidikan yang aman serta terbebas dari kekerasan dan perundungan. Menurutnya, perundungan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik atau verbal, tetapi juga dapat muncul melalui panggilan yang tidak menyenangkan, tindakan mengejek, dan pengucilan dalam pergaulan.
“Panggillah teman dengan panggilan yang baik dan menyenangkan. Guru juga harus peka terhadap kondisi sosial di dalam kelas. Jangan hanya masuk, mengajar, kemudian keluar tanpa mengetahui hubungan yang terjadi di antara peserta didik,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menciptakan suasana pendidikan yang inklusif dan menghargai keragaman. Setiap peserta didik, terlepas dari kondisi fisik, kemampuan, latar belakang, maupun perbedaan lainnya, berhak memperoleh perlakuan yang setara dan penuh penghargaan.
Hubungan yang sehat antara guru dan peserta didik juga menjadi bagian penting dari penerapan KBC. Euis mengajak para pendidik menjadi guru yang kehadirannya dirindukan, dicintai, dan dinantikan oleh peserta didik.
“Jadilah guru yang dirindukan, dicintai, dan diharapkan kehadirannya oleh anak-anak. Itulah salah satu ciri Kurikulum Berbasis Cinta,” tuturnya.
Indikator ketiga ialah kesejahteraan mental dan spiritual peserta didik. Hal tersebut ditandai dengan kemampuan siswa dalam mengelola emosi, memiliki kematangan spiritual, bersikap tenang, serta mampu menghadapi persoalan secara positif.

Dalam mendukung kesejahteraan tersebut, layanan bimbingan dan konseling harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Ruang BK tidak semestinya dipersepsikan hanya sebagai tempat menangani siswa bermasalah, tetapi juga sebagai tempat berkonsultasi, berbagi cerita, mengenali potensi diri, dan merencanakan masa depan.
“Jadikan ruang bimbingan dan konseling sebagai tempat yang membuat anak-anak nyaman. Guru BK harus hadir sebagai sosok yang menyenangkan sehingga peserta didik tidak ragu untuk berkonsultasi dan menyampaikan persoalannya,” jelasnya.
Euis berharap IHT tersebut menghasilkan pemahaman yang utuh hingga aspek teknis penerapan KBC. Para peserta diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai cinta ke dalam perencanaan pembelajaran, modul ajar, penyampaian materi, pengelolaan kelas, dan interaksi sehari-hari dengan peserta didik.
“Jangan sampai setelah kegiatan ini masih ada kebingungan mengenai penerapan KBC di kelas. Tanyakan sampai hal-hal yang teknis dan mendetail, sehingga setelah pulang dari kegiatan ini semuanya benar-benar memahami cara mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta,” pesannya.

Mengakhiri arahannya, Euis berharap kegiatan tersebut membawa keberkahan dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan madrasah di Kabupaten Majalengka. Ia kemudian membuka IHT secara resmi dengan pembacaan basmalah bersama seluruh peserta.
Kontributor : Endang Mu’min


Komentar