Jatiwangi (Kemenag) — Salat berjamaah di Masjid Al Azfar MAN 3 Majalengka tidak berakhir ketika imam mengucapkan salam. Setelah zikir dan doa bersama, para peserta didik dengan tertib menghampiri guru, tenaga kependidikan, dan teman-temannya untuk berjabat tangan (mushafahah).
Tradisi mushafahah yang dilakukan setiap hari itu telah menjadi bagian dari budaya madrasah dalam membangun karakter religius sekaligus mempererat hubungan antarsesama warga madrasah, Selasa (21/7/2026).
Suasana hangat tampak menyelimuti pelataran masjid. Senyum, sapaan, dan doa mengiringi setiap jabat tangan. Tidak ada sekat antara guru dan peserta didik. Momen singkat tersebut menjadi ruang perjumpaan yang menghadirkan kedekatan emosional sekaligus menumbuhkan rasa hormat, kepedulian, dan kebersamaan.
Pembiasaan ini merupakan salah satu bentuk implementasi pendidikan karakter yang terus dikembangkan MAN 3 Majalengka. Melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara istiqamah, madrasah berupaya menanamkan nilai adab, kasih sayang, dan ukhuwah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.
Pendidikan Karakter Melalui Kebiasaan Baik
Guru Fisika yang juga Bendahara Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al Azfar MAN 3 Majalengka sekaligus pengasuh salah satu pondok pesantren di Kecamatan Palasah, Nunung Nuraisyah, S.Pd., menilai bahwa mushafahah merupakan media pendidikan karakter yang sangat efektif karena dilakukan secara rutin dan melibatkan seluruh warga madrasah.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas melalui penyampaian materi, tetapi juga dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari.
“Di dalam Mushafahah ada pendidikan adab, penghormatan kepada sesama, dan latihan untuk membuka hati saling memaafkan. Ini dapat membangun kedekatan antara guru dan peserta didik sehingga suasana madrasah terasa lebih hangat dan penuh kekeluargaan,” ujar Nunung.
Ia menjelaskan, kebiasaan tersebut mengajarkan bahwa hubungan antara guru dan peserta didik tidak hanya dibangun melalui proses belajar mengajar, tetapi juga melalui keteladanan dan interaksi yang penuh penghormatan.
Menurutnya, jabat tangan yang dilakukan setiap hari menjadi simbol saling menghargai, saling mendoakan, sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan di lingkungan madrasah.
“Mushafahah menjadi salah satu media yang sangat sederhana, tetapi memiliki dampak besar dalam membentuk karakter dan memperkuat ukhuwah di lingkungan madrasah,” tambahnya.
Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Akhlak
Sebagai pengurus DKM Masjid Al Azfar, Nunung berharap masjid tidak hanya menjadi tempat melaksanakan ibadah berjamaah, tetapi juga menjadi pusat pembinaan akhlak bagi seluruh warga madrasah.
Ia meyakini bahwa berbagai pembiasaan yang dilakukan di masjid memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter peserta didik karena berlangsung secara konsisten dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Peserta didik belajar rendah hati, menghargai orang lain, dan merasakan bahwa madrasah adalah rumah bersama yang dipenuhi dengan kasih sayang. Nilai-nilai seperti inilah yang kami harapkan terus tumbuh melalui pembiasaan di Masjid Al Azfar,” tuturnya.
Baginya, pendidikan karakter akan lebih mudah tumbuh ketika peserta didik tidak hanya mendengar nasihat, tetapi juga mengalami dan mempraktikkannya secara langsung melalui kebiasaan yang baik.
Menguatkan Budaya Madrasah yang Humanis
Tradisi mushafahah menjadi salah satu wajah pendidikan di MAN 3 Majalengka yang menempatkan adab sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran. Di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis, madrasah terus berupaya menghadirkan ruang pendidikan yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga kuat dalam membangun karakter.
Melalui kebiasaan ini, nilai-nilai saling menghormati, kepedulian, dan persaudaraan terus dipupuk dalam kehidupan sehari-hari. Dari jabat tangan yang sederhana itulah lahir budaya madrasah yang hangat, humanis, dan penuh keberkahan, sejalan dengan semangat Kementerian Agama dalam membangun pendidikan yang berkarakter dan berakhlak mulia.
Kontributor: Firman Saefatullah (Humas MAN 3 Majalengka)


Komentar