Oleh : Endang Mu’min*
Bayangkan kamu sedang memegang segelas air untuk membasahi tenggorokan yang kering! Tapi tiba-tiba, seekor lalat hinggap dan jatuh tepat ke dalam minumanmu.
Logika kita secara otomatis akan merasa jijik. Reaksi pertama pasti ingin langsung membuang lalat itu jauh-jauh, atau bahkan membuang seluruh air di gelas tersebut. Tapi di tengah kebiasaan itu, Rasulullah ﷺ memberikan sebuah instruksi yang membuat banyak orang terheran-heran.
Beliau tidak menyuruh untuk langsung membuang minuman itu. Beliau bersabda: “Jika ada lalat jatuh ke dalam minuman kalian, maka tenggelamkanlah, kemudian buanglah…” Tunggu. Ditenggelamkan? Bukankah itu malah membuat minumannya semakin kotor?
Dalam dunia medis dan kesehatan, lalat sering dipandang sebagai vektor atau pembawa kuman yang menjijikkan. Namun, lebih dari 1.400 tahun yang lalu, Rasulullah ﷺ telah memberikan instruksi yang bagi logika awam terdengar ganjil, namun kini mulai terkuak kebenarannya melalui lensa mikroskopis.
Tuntunan Rasulullah ﷺ
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لْيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي الآخَرِ شِفَاءً
“Apabila lalat jatuh di tempat minum salah seorang di antara kalian, maka celupkanlah ia (seluruh tubuhnya), kemudian buanglah. Karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya.”
Perspektif Al-Qur’an
Al-Qur’an menegaskan betapa makhluk sekecil lalat pun memiliki hakikat yang tidak boleh diremehkan oleh manusia. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 73:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوْ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُقْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَهُطْلُوبُ
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”
Tinjauan Sains dan Kedokteran Modern
Selama berabad-abad, banyak orang skeptis mempertanyakan mengapa lalat yang kotor justru disuruh ditenggelamkan. Namun, penelitian mikrobiologi modern memberikan penjelasan yang mengejutkan.
Mekanisme Pertahanan Lalat: Ilmuwan menemukan bahwa lalat memiliki sistem pertahanan diri yang canggih. Pada permukaan tubuh dan sayapnya terdapat antimicrobial peptides (zat antibiotik alami) yang berfungsi melindungi lalat dari patogen di tempat kotor yang ia hinggapi.
Peran Bakteriofag: Penelitian di berbagai universitas menunjukkan bahwa lalat mengandung bakteriofag, yaitu virus yang spesifik memangsa dan melumpuhkan bakteri jahat.
Teknik Penenggelaman: Secara teknis, ketika lalat terjatuh, ia cenderung melindungi diri dengan mencelupkan sayap yang membawa kuman terlebih dahulu. Perintah untuk “menenggelamkan” lalat bertujuan agar zat antibiotik dan bakteriofag yang berada di kantung mikroskopis sayapnya terlepas ke dalam cairan, sehingga menetralkan bakteri yang dibawa oleh lalat tersebut.
Hasil Eksperimen: Beberapa studi di lembaga riset seperti di Arab Saudi dan Mesir menunjukkan bahwa minuman yang lalatnya dibenamkan justru mengandung lebih sedikit koloni mikroba dibandingkan minuman yang lalatnya hanya diambil tanpa dicelupkan.
Kesimpulan
Perintah Rasulullah ﷺ bukanlah sebuah ketidaksengajaan, melainkan sebuah instruksi medis supercanggih yang melampaui zamannya. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak langsung membuang makanan, namun memberikan solusi preventif melalui mekanisme biologis yang justru terkandung dalam tubuh serangga tersebut.
Referensi:
- Hadis: HR. Bukhari no. 5782 (Kitab Bad’ul Khalq).
- Tafsir: Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Azhim.
- Studi Ilmiah:
- Nur Sahid. (2023). Studi Matan Hadits Nabi Tentang Lalat yang Jatuh Di Minuman. Al-Bunyan: Interdisciplinary Journal of Qur’an and Hadith Studies.
- Fajar, D. M. (2022). Hambatan Pertumbuhan Salmonella thypi Oleh Sayap Lalat Sebagai Integrasi Pengetahuan Agama dan Sains. UIN Sunan Kalijaga.
- Al-Amin, A. (2026). Tafsir Saintifik Ayat Hewan Dalam Al-Qur’an: Analisis Lalat Dalam QS. Al-Hajj.
*Penulis merupakan Pelaksana Kehumasan/Penata Layanan Operasional pada Subbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten


Komentar