Berita Daerah MAN
Beranda » Berita » Usai Salat Isya, Santri MAN 3 Majalengka Tekuni Kajian Kitab Kuning untuk Perdalam Pemahaman Al-Qur’an

Usai Salat Isya, Santri MAN 3 Majalengka Tekuni Kajian Kitab Kuning untuk Perdalam Pemahaman Al-Qur’an

Jatiwangi (KEMENAG) — Suasana Pondok Pesantren MAN 3 Majalengka semakin khusyuk selepas jamaah salat Isya, Selasa (28/7/2026). Di tengah udara malam yang sejuk, para santri putra dan putri bergegas menuju ruang pengajian dengan membawa kitab kuning masing-masing. Mereka duduk rapi membentuk saf, membuka lembar demi lembar kitab, lalu menyimak penjelasan guru dengan penuh perhatian.

Malam itu, kegiatan pembelajaran di pesantren tidak berhenti setelah salat berjamaah. Justru, semangat menuntut ilmu terus berlanjut melalui kajian kitab kuning yang menjadi bagian dari program pembinaan keagamaan Pondok Pesantren MAN 3 Majalengka untuk memperkuat kemampuan para santri dalam memahami Al-Qur’an.

Kegiatan diawali dengan pembacaan tawasul dan doa yang dihadiahkan kepada para mushannif atau penyusun kitab sebagai bentuk penghormatan terhadap mata rantai keilmuan Islam. Setelah itu, para santri mengikuti pengajian yang dipandu oleh Kepala Asrama MAN 3 Majalengka, H. Agus Jamaluddin, M.Pd., yang juga merupakan Pengurus MUI Kabupaten Majalengka.

Suasana pengajian berlangsung hangat dan interaktif. Para santri tampak memberi makna pada setiap baris kitab berbahasa Arab tanpa harakat, mencatat penjelasan guru, kemudian secara bergantian membaca teks untuk dikoreksi bersama. Sesekali, pertanyaan-pertanyaan tentang kaidah Nahwu dan Sharaf mengalir dari para santri, mencerminkan antusiasme mereka dalam memahami isi kitab sekaligus mengaitkannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah mereka hafal.

H. Agus Jamaluddin menjelaskan bahwa penguasaan ilmu alat merupakan bekal penting bagi seorang penghafal Al-Qur’an agar tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga memahami kandungan maknanya.

Perkokoh Ketahanan Keluarga, KUA Majalengka Bekali Calon Pengantin Lewat Bimbingan Perkawinan

“Menghafal Al-Qur’an akan jauh lebih sempurna jika diimbangi dengan penguasaan ilmu Nahwu dan Sharaf. Kitab kuning menjadi salah satu kunci untuk membuka pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga santri tidak hanya hafal lafaznya, tetapi juga memahami pesan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi mengaji kitab kuning merupakan warisan intelektual pesantren yang terus dijaga karena mampu membentuk cara berpikir yang sistematis, teliti, sekaligus memperkuat literasi keislaman para santri.

Bagi santri Pondok Pesantren MAN 3 Majalengka, malam hari bukan sekadar waktu untuk beristirahat, melainkan momentum memperkaya ilmu. Setelah menunaikan salat Isya berjamaah, mereka memanfaatkan waktu dengan menekuni kajian kitab sebagai bagian dari proses membangun karakter, memperluas wawasan keislaman, serta memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an.

Melalui pembinaan yang dilaksanakan secara rutin, MAN 3 Majalengka terus menguatkan sinergi antara pendidikan madrasah dan tradisi kepesantrenan. Ikhtiar tersebut menjadi bagian dari komitmen madrasah dalam mencetak generasi Qurani yang tidak hanya unggul dalam hafalan, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu, akhlak mulia, dan kesiapan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor : Firman Saefatullah (Humas MAN 3 Majalengka)

Tingkatkan Tertib Administrasi, Operator KUA Sindangwangi Ikuti Sosialisasi PMA Nomor 12 Tahun 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *