Jatiwangi (KEMENAG) — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka secara konsisten menyelenggarakan kegiatan pembiasaan Shalat Dhuha dan zikir bersama sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai. Agenda spiritual pagi ini dilaksanakan di lingkungan madrasah sebagai upaya nyata membentuk karakter (habitus) generasi muslim yang taat dan senantiasa mengamalkan sunnah Rasulullah SAW.
Rangkaian kegiatan pagi diawali dengan pelaksanaan Shalat Dhuha berjamaah yang diikuti oleh seluruh siswa dan tenaga pendidik. Usai shalat, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan zikir serta aurad (wirid) bersama. Aktivitas ini dirancang sebagai sarana pembelajaran praktis agar para siswa terbiasa melafalkan zikir yang diajarkan oleh para ulama secara fasih dan istikamah.
Persiapan Mental sebagai Amunisi Pra-Pembelajaran
Program pembiasaan ini bertujuan untuk mengondisikan kesiapan mental dan fisik siswa secara optimal sebelum memasuki ruang kelas. Dengan meletakkan dasar spiritual yang kuat di pagi hari, madrasah berupaya membangun ketenangan jiwa siswa agar mereka dapat menyerap materi pelajaran dengan lebih fokus, tenang, dan efektif.
Pembina Keagamaan MAN 3 Majalengka, H. Agus Jamaluddin, M.Pd., menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan ibadah sunnah ini.
“Kami berpesan kepada seluruh siswa untuk menjadikan Shalat Dhuha dan wirid setelahnya sebagai kebutuhan harian. Secara mental dan spiritual, kebiasaan baik ini akan membekali siswa agar senantiasa siap dan adaptif dalam menerima pelajaran di kelas,” ujar Agus saat ditemui setelah kegiatan, Selasa (14/7/2026).
Senada dengan hal tersebut, Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., memberikan perhatian penuh terhadap program ini. Ia menginstruksikan seluruh pendidik dan tenaga kependidikan untuk terlibat aktif mendampingi siswa.
“Bukan hanya siswa yang wajib mengikuti, seluruh guru dan staf tata usaha juga diharuskan ikut serta dalam Shalat Dhuha dan doa bersama ini. Sebagai pendidik, peran kita bukan sekadar mengajar, melainkan menjadi uswatun hasanah (teladan) langsung bagi anak-anak didik kita,” tegas Ela.
Dampak Positif Terhadap Iklim Belajar
Implementasi program keagamaan yang terjadwal ini terbukti memberikan dampak positif yang signifikan pada ekosistem belajar-mengajar di madrasah, di antaranya:
- Kesiapan Mental dan Fisik: Terciptanya atmosfer belajar yang tenang, teratur, dan kondusif sejak jam pertama pembelajaran dimulai.
- Penguatan Karakter Spiritual: Siswa tidak sekadar memahami teori keagamaan, melainkan mampu menghafal serta mempraktikkan bacaan aurad dan zikir sesuai tuntunan ulama secara mandiri.
- Resiliensi dan Ketahanan Diri: Pendekatan spiritual melalui Shalat Dhuha membentuk ketenangan psikologis siswa, sehingga mereka lebih tangguh dan bijak dalam menghadapi tantangan belajar maupun dinamika kehidupan sehari-hari.
Menanamkan Budaya Mulia di Tengah Gempuran Zaman
Pihak madrasah berharap pembiasaan positif ini tidak berhenti di gerbang sekolah saja, melainkan bertransformasi menjadi gaya hidup (lifestyle) yang terus diterapkan siswa di rumah. Ke depan, MAN 3 Majalengka berkomitmen untuk terus memantau dan mengembangkan program spiritualitas ini agar menjadi budaya mulia yang melekat sepanjang hayat bagi para alumni.
Melalui sinergi Shalat Dhuha dan zikir bersama, MAN 3 Majalengka sukses memadukan pembentukan karakter religius dengan kesiapan akademis. Bagi masyarakat luas, program ini memberikan kontribusi nyata dalam melahirkan generasi muda yang berakhlak mulia, bermental tangguh, mandiri, serta memiliki fondasi keagamaan yang kokoh untuk membentengi diri dari arus dekadensi moral.
Kontributor: Firman Saefatullah (Tim Humas MAN 3 Majalengka)
Editor: Dwi Winarti


Komentar