Rajagaluh [KEMENAG] – Suasana syahdu dan penuh kehangatan menyelimuti Bumi Perkemahan Desa Pajajar pada Kamis (13/8/2026) malam. Ratusan anggota Pramuka Penggalang dari tingkat SD/MI dan SMP/MTs se-Kecamatan Rajagaluh berkumpul melingkar dalam rangkaian Prosesi Api Unggun. Kegiatan sakral nan khidmat ini menjadi malam puncak penutup hari kedua dari perhelatan akbar Ikut Serta (ITA) Jambore Nasional (Jamnas) dan Lomba Tingkat (LT) II Kwartir Ranting (Kwarran) Rajagaluh.
Bertindak sebagai Pembina Upacara dalam prosesi tersebut adalah Muhammad Ridwan, S.Pd., yang merupakan Ketua Panitia kegiatan sekaligus Pembina Pramuka MTsN 12 Majalengka. Di tengah temaram malam dan udara dingin pegunungan, prosesi penyalaan api unggun berhasil membangkitkan rasa persaudaraan dan kebanggaan para peserta.
Menyelami Makna Filosofis Api Unggun
Dalam amanatnya, Ridwan mengajak seluruh peserta untuk merenungkan makna terdalam dari nyala api yang berada di tengah-tengah mereka. Ia meluruskan pandangan agar kegiatan ini dipahami secara tepat sesuai dengan nilai-nilai kepramukaan dan keagamaan.
“Api unggun ini bukanlah sesuatu yang kita puja atau sembah, melainkan sebuah simbol dan sarana edukasi,” tegas Ridwan di hadapan barisan penggalang. “Nyala apinya adalah representasi dari semangat kalian, para tunas muda, yang harus terus berkobar pantang menyerah. Cahayanya adalah simbol penerang pemikiran di tengah kegelapan kebodohan, dan hawa panasnya melambangkan kehangatan ukhuwah persaudaraan yang mengikat kita semua sebagai keluarga besar Pramuka.”
Detoks Teknologi di Alam Terbuka
Lebih lanjut, Ridwan juga menyoroti fenomena sosial yang tengah melanda generasi masa kini. Ia menekankan bahwa kegiatan ITA Jamnas dan LT II ini merupakan momentum yang sangat tepat bagi para peserta didik untuk sejenak melepaskan diri dari ketergantungan pada gawai.
“Di era modern saat ini, anak-anak kita sering kali terlalu sibuk menunduk menatap layar gawai. Melalui perkemahan ini, kita diajak untuk membatasi penggunaan teknologi yang berlebihan,” tuturnya memberikan nasihat.
Ia mendorong para peserta untuk memaksimalkan kehadiran mereka secara utuh (mindful) selama berada di bumi perkemahan. “Gunakan waktu di alam terbuka ini untuk belajar berinteraksi secara nyata, bukan maya. Berkomunikasilah secara langsung dengan teman tenda, berkolaborasi dalam perlombaan, dan rasakan indahnya alam ciptaan Tuhan tanpa gangguan notifikasi gawai,” imbuh Ridwan memotivasi.
Pendar cahaya api unggun yang perlahan memudar menjelang larut malam itu sama sekali tidak menyurutkan semangat para tunas bangsa. Sebaliknya, prosesi sakral ini diharapkan mampu menyalakan kembali lentera kesadaran generasi muda akan pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kecerdasan sosial emosional. Melalui tempaan pendidikan kepramukaan yang membumi, Kwarran Rajagaluh optimistis dapat terus melahirkan kader-kader pemimpin masa depan yang adaptif terhadap zaman, bijak dalam berteknologi, serta memiliki kepekaan sosial dan kemanusiaan yang tinggi.
Kontributor: Mohammad Rega Permana


Komentar