Berita Daerah MAN

Saat Sungkeman Membuat Air Mata Jatuh, Paskibra MAN 3 Majalengka Meminta Restu Orang Tua

Jatiwangi (KEMENAG) — Seragam Paskibra yang dikenakan para siswa MAN 3 Majalengka tampak gagah. Namun, kegagahan itu seketika luruh ketika mereka berlutut di hadapan orang tua. Di Pendopo Kecamatan Jatiwangi, Jumat (14/8/2026), sejumlah siswa yang baru saja dikukuhkan sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) menundukkan kepala, menggenggam lutut orang tua, lalu menangis dalam pelukan mereka.

Suasana yang semula khidmat setelah prosesi pengukuhan berubah menjadi haru. Satu per satu siswa berjalan menghampiri ayah dan ibu yang telah menunggu. Tidak ada aba-aba komandan. Tidak ada suara langkah kaki yang serempak. Kali ini, mereka berjalan dengan langkah sendiri-sendiri, membawa perasaan yang sulit disembunyikan.

M. Mahfudz Siddiq (XII E), Daffa Alvino Pratama (XI B), Reno Nugraha (XI B), Sintiya Della (XI B), dan Akbar (XI B) menjadi bagian dari siswa MAN 3 Majalengka yang mengikuti prosesi tersebut.

Di hadapan orang tua, para siswa bersimpuh. Kepala mereka tertunduk. Tangan yang biasanya sigap dalam latihan baris-berbaris kini menggenggam erat lutut ayah dan ibu.

Tangis pun pecah.

Perkuat Pemahaman Aset Negara, Staf TU MTsN 11 Majalengka Ikuti BISIKAN

Dalam suasana yang diiringi musik lembut dan narasi yang menyentuh, para siswa menyampaikan rasa terima kasih atas kasih sayang, doa, pengorbanan, dan dukungan yang selama ini diberikan orang tua. Beberapa orang tua tak kuasa menahan air mata ketika tangan mereka membelai kepala putra-putrinya.

Pelukan kemudian menjadi penutup yang paling sederhana sekaligus paling dalam. Seorang ibu memeluk anaknya erat. Seorang ayah menepuk pundak putranya. Tidak banyak kata yang terucap, tetapi dari pelukan itu seolah tersampaikan pesan: berjuanglah, kami merestui langkahmu.

Bagi Reno Nugraha, prosesi tersebut menjadi salah satu momen yang paling berkesan selama mengikuti rangkaian pembinaan Paskibra.

“Kami sangat terharu dan bangga bisa sampai di titik ini. Melalui sungkeman ini, kami memohon maaf dan yang paling utama adalah meminta doa restu dari orang tua agar pelaksanaan pengibaran bendera pada Hari Kemerdekaan, Senin, 17 Agustus 2026 nanti, dapat berjalan lancar dan sukses,” ujar Reno seusai prosesi.

Ada alasan mengapa momen itu terasa begitu emosional. Di balik seragam dan atribut Paskibra, para siswa adalah anak-anak yang tumbuh dari doa orang tua. Mereka berlatih disiplin, menahan lelah, mengulang gerakan berkali-kali, dan mempersiapkan diri untuk berdiri tegak di hadapan Merah Putih.

Tingkatkan Kepedulian Sosial Siswa, MTsN 5 Majalengka Gelar Ceramah Keagamaan dan Shalat Duha Bersama

Namun, sebelum berdiri membawa kehormatan di hadapan banyak orang, mereka terlebih dahulu memilih merendahkan diri di hadapan orang yang paling berjasa dalam hidup mereka.

Sungkeman menjadi pengingat bahwa pencapaian seorang anak tidak pernah berdiri sendiri. Ada orang tua yang mengantar, menunggu, mendukung, membiayai, mendoakan, bahkan diam-diam menyimpan rasa khawatir ketika anaknya menjalani latihan.

Karena itu, prosesi tersebut bukan sekadar tradisi setelah pengukuhan Paskibra. Ada pesan tentang bakti kepada orang tua yang disampaikan tanpa pidato panjang. Ada permintaan maaf yang lahir dari ketulusan. Ada doa restu yang menjadi bekal sebelum para siswa menjalankan tugas mengibarkan Sang Merah Putih.

Setelah momen haru itu berlalu, para siswa kembali bersiap menjalankan tugas. Mereka akan mengikuti pemantapan dan gladi bersih sebelum bertugas dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kecamatan Jatiwangi pada 17 Agustus 2026.

Kini, langkah mereka tidak hanya membawa latihan dan kedisiplinan. Ada doa orang tua yang ikut menyertai.

Perkuat Karakter Unggul, MTsN 5 Majalengka Utus Siswa Terbaik di OMI 2026

Dan mungkin, pada pagi 17 Agustus nanti, ketika Sang Merah Putih perlahan naik ke puncak tiang, ada orang tua yang berdiri di antara kerumunan dengan mata berkaca-kaca. Mereka tidak lagi melihat sekadar anak yang mengenakan seragam Paskibra.

Mereka akan melihat anak yang pernah bersimpuh di hadapan mereka, meminta maaf, mencium tangan, dan memohon satu hal yang paling berharga sebelum menjalankan tugas: doa restu.

Kontributor : Firman Saefatullah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *