Berita Daerah

Merajut Ukhuwah dan Tolak Bala, MTsN 12 Majalengka Gelar Tradisi Rebo Wekasan

Rajagaluh [KEMENAG] – Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 12 Majalengka kembali menggelar peringatan tradisi keagamaan Rebo Wekasan yang jatuh pada hari Rabu (12/8/2026). Kegiatan yang dilangsungkan dengan khidmat di lingkungan madrasah ini menjadi momentum penting bagi seluruh sivitas akademika untuk mempererat tali silaturahmi, memanjatkan doa tolak bala, serta merenungkan kembali nilai-nilai kehidupan yang sarat akan makna filosofis.

Rangkaian acara keagamaan ini diawali dengan pelaksanaan salat Duha berjamaah. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Lidaf’il Bala (salat tolak bala) yang dipimpin langsung oleh Hupadin Kisap, M.Pd.I., selaku imam. Suasana spiritual semakin terasa saat seluruh jemaah larut dalam lantunan zikir dan doa bersama yang dipandu oleh Suhanda, S.Pd., memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah SWT dari segala macam musibah.

Filosofi Tolak Bala dan Kisah Sarat Makna

Kepala MTsN 12 Majalengka, Dr. Amin Ridwan, S.Ag., M.Pd.I., yang hadir sebagai penceramah, mengupas tuntas filosofi di balik tradisi Rebo Wekasan pada bulan Safar. Menurut beliau, kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar para ulama terdahulu untuk menolak bala dan memaknai kembali waktu, hakikat keselamatan, serta menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta.

Dalam penyampaiannya yang komunikatif, Dr. Amin menganalogikan perjalanan kehidupan sosial melalui kisah fabel antara entog (itik) dan hayam (ayam). Ayam yang bergerak cepat sering kali tergesa-gesa dan mudah teralihkan, sementara itik melangkah lambat namun stabil, sabar, dan fokus pada tujuannya.

“Dalam kehidupan berkomunitas, apabila ada kawan yang langkah belajarnya lambat, jangan digoreng atau dijatuhkan, tetapi harus dituntun, dibimbing, dan ditolong. Jika kita tidak saling menolong dalam menghadapi rintangan, musibah justru bisa berubah menjadi fitnah,” tegas Amin memberikan pesan moral.

Lestarikan Budaya dan Nilai Sejarah, Warga Desa Gunung Kuning Gelar Ziarah Makam Raden Mas Lumpi

Beliau juga menekankan pentingnya bimbingan seorang guru dan kepatuhan jemaah. Sebuah komunitas, seperti halnya keluarga besar MTsN 12 Majalengka, harus senantiasa solid, saling mendukung, dan memelihara toleransi.

Simbolisme Apem: Semangat Afwan dan Saling Memaafkan

Sebagai penutup rangkaian acara, seluruh warga madrasah menikmati hidangan kue apem secara bersama-sama. Bukan sekadar sajian kuliner tradisional, Kepala Madrasah menjelaskan bahwa memakan apem memiliki nilai filosofis yang mendalam. Kata apem diadopsi dari bahasa Arab, yakni Afwan, yang bermakna saling memaafkan.

“Tradisi memakan apem ini adalah simbol agar kita senantiasa membuka pintu maaf. Tanpa sikap saling memaafkan, sebuah komunitas akan rentan tertimpa musibah dan perpecahan. Oleh karena itu, di bulan Safar ini, mari kita tingkatkan toleransi, saling menolong, dan saling memaafkan satu sama lain,” pesannya dengan penuh kehangatan.

Pelestarian tradisi Rebo Wekasan di MTsN 12 Majalengka ini membuktikan bahwa pendidikan madrasah mampu menyelaraskan kearifan budaya lokal dengan nilai-nilai tauhid secara harmonis. Melalui ikhtiar doa bersama dan penguatan karakter saling memaafkan, madrasah tidak hanya berupaya membentengi peserta didiknya dari segala mara bahaya, tetapi juga tengah merajut ukhuwah yang kokoh demi mewujudkan generasi yang berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, dan selalu hidup dalam rida Ilahi.

Kontributor: Mohammad Rega Permana

MTsN 10 Majalengka Kirim Tujuh Siswa Ikuti OMI 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *