Berita Daerah
Beranda » Berita » MAN 3 Majalengka Terapkan Kurikulum Berbasis Cinta, Belajar Tak Lagi Sekadar Menghafal

MAN 3 Majalengka Terapkan Kurikulum Berbasis Cinta, Belajar Tak Lagi Sekadar Menghafal

Jatiwangi (KEMENAG) — Suasana pembelajaran di kelas XII B MAN 3 Majalengka, Rabu (22/7/2026), tampak sedikit berbeda. Tidak ada ceramah panjang yang mendominasi kelas. Guru lebih banyak mengajak peserta didik berdialog, bertanya, dan menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman hidup mereka sehari-hari.

Inilah salah satu wajah implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) melalui pendekatan Deep Learning (pembelajaran mendalam), sebuah pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Pengetahuan tidak berhenti pada hafalan, tetapi diolah menjadi pemahaman, dihayati menjadi nilai, lalu diwujudkan dalam tindakan nyata.

Pembelajaran berlangsung di ruang kelas XII B dengan dipandu Mohammad Nashrudin Falah, S.Pd.I., Guru Akidah Akhlak yang juga Wakil Kepala Madrasah Bidang Akademik MAN 3 Majalengka.

Menurut Nashrudin, pendekatan Deep Learning bukan berarti mempelajari materi yang lebih sulit, melainkan belajar secara lebih bermakna. Peserta didik diajak memahami alasan di balik sebuah konsep, mengaitkannya dengan kehidupan nyata, kemudian merefleksikan bagaimana ilmu tersebut dapat diamalkan.

“Pembelajaran yang baik bukan hanya membuat siswa mampu menjawab soal, tetapi juga mampu menjawab persoalan kehidupan. Karena itu, KBC kami terapkan agar ilmu yang dipelajari benar-benar membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak peserta didik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konsep tersebut selaras dengan semangat pendidikan yang dikembangkan Kementerian Agama, yakni menghadirkan proses belajar yang memanusiakan manusia. Guru tidak sekadar menjadi penyampai materi, melainkan pendamping yang membantu peserta didik menemukan makna dari setiap pembelajaran.

BK MAN 3 Majalengka Hadir sebagai Konsultan Perkembangan Peserta Didik

Belajar Agama dengan Kesadaran, Bukan Ketakutan

Dalam mata pelajaran Akidah Akhlak, pendekatan ini diterapkan dengan mengajak peserta didik memahami hubungan manusia dengan Allah SWT melalui kesadaran, bukan sekadar kewajiban formal.

Nashrudin menegaskan bahwa kecintaan kepada Allah SWT (hablum minallah) akan tumbuh lebih kuat ketika peserta didik memahami hikmah di balik setiap ajaran agama. Dengan demikian, ibadah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan spiritual yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.

“Kami ingin peserta didik menjalankan ajaran agama karena memahami maknanya, bukan hanya karena takut terhadap hukuman. Ketika cinta tumbuh, kepatuhan akan hadir dengan sendirinya,” katanya.

Perubahan pendekatan pembelajaran tersebut juga dirasakan langsung oleh para peserta didik. Sidiq Firmansyah, siswa kelas XII B, mengaku suasana belajar kini terasa lebih hidup karena guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajak peserta didik berdiskusi, berpikir kritis, dan menghubungkan pelajaran dengan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa KKN UNMA Hadirkan Smart Village Academic di MTsN 11 Majalengka

“Kami tidak hanya belajar untuk menghafal materi, tetapi diajak memahami alasan di balik setiap pembahasan. Dari situ wawasan saya menjadi lebih luas, pemahaman terhadap materi semakin mendalam, dan saya lebih mudah menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Belajar jadi terasa lebih bermakna,” ungkap Sidiq.

Menurutnya, pendekatan tersebut juga memberikan ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat, bertukar gagasan, sekaligus belajar menghargai pandangan teman. Hal itu membuat suasana kelas menjadi lebih aktif, komunikatif, dan mendorong tumbuhnya rasa percaya diri dalam belajar.

Karakter Dibangun Melalui Pengalaman

Pendekatan Deep Learning di MAN 3 Majalengka tidak hanya menyentuh aspek akademik, tetapi juga menjadi sarana penguatan karakter peserta didik.

Nilai-nilai toleransi dikembangkan melalui pembiasaan saling menghargai perbedaan pendapat, latar belakang, maupun karakter teman di lingkungan madrasah. Sementara itu, kepedulian terhadap lingkungan diperkuat melalui pendekatan ekoteologi yang mengajarkan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari amanah sebagai khalifah di bumi.

Di sisi lain, pembelajaran juga diarahkan untuk membangun budaya madrasah yang aman dan ramah anak. Empati, saling menghormati, dan kemampuan menyelesaikan persoalan melalui dialog menjadi bagian yang terus dilatih guna mencegah munculnya perundungan maupun bentuk kekerasan lainnya.

Perpustakaan MAN 1 Majalengka Bertransformasi Menuju Layanan Digital

Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan sebagai teori semata, melainkan dihadirkan dalam berbagai aktivitas belajar sehingga peserta didik memperoleh pengalaman nyata dalam mempraktikkannya.

Dari Ruang Kelas Menuju Budaya Madrasah

MAN 3 Majalengka memandang implementasi Kurikulum Berbasis Cinta bukan sebagai program sesaat, melainkan proses membangun budaya belajar yang berlangsung secara berkelanjutan.

Model pembelajaran ini akan terus diimbaskan kepada seluruh guru agar setiap mata pelajaran memiliki semangat yang sama, yakni menghadirkan pembelajaran yang bermakna, reflektif, dan berpusat pada perkembangan peserta didik secara utuh.

Harapannya, lulusan madrasah tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang baik, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi yang beriman, berakhlak mulia, memiliki kepedulian sosial, serta mampu merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya materi yang berhasil disampaikan, tetapi dari seberapa jauh ilmu itu mampu mengubah cara seseorang memandang dirinya, sesamanya, alam semesta, dan Tuhannya. Itulah esensi pembelajaran mendalam yang ingin terus dihidupkan di MAN 3 Majalengka melalui Kurikulum Berbasis Cinta.

Kontributor: Firman Saefatullah (Humas MAN 3 Majalengka)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *