Berita Daerah
Beranda » Berita » Kisah Antusias Warga MAN 3 Majalengka Sambut Rashdul Kiblat

Kisah Antusias Warga MAN 3 Majalengka Sambut Rashdul Kiblat

MAJALENGKA (KEMENAG) — Sore itu, langit Juli tampak cerah. Di berbagai sudut Kabupaten Majalengka, halaman rumah, pekarangan, hingga atap bangunan mendadak berubah menjadi ruang belajar terbuka. Sebuah tongkat sederhana ditancapkan tegak lurus ke tanah. Ada yang memanfaatkan gagang sapu, botol bekas, serok sampah, bahkan pipa pendek yang tersedia di rumah. Semua menunggu satu waktu yang sama: ketika bayangan matahari akan menunjukkan arah Ka’bah.

Momen itulah yang dikenal sebagai Rashdul Kiblat, sebuah fenomena astronomi ketika matahari berada tepat di atas Ka’bah sehingga bayangan benda yang berdiri tegak akan mengarah lurus ke kiblat. Fenomena yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu setiap tahun ini dimanfaatkan oleh Kementerian Agama sebagai sarana edukasi sekaligus pengecekan arah kiblat secara mandiri.

Bagi keluarga besar MAN 3 Majalengka, Rashdul Kiblat bukan sekadar agenda pelaporan atau kegiatan seremonial. Peristiwa ini menjelma menjadi pengalaman belajar yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar dari Langit, Menguatkan Keyakinan

Beberapa hari sebelum pelaksanaan, warga madrasah telah memperoleh pengarahan teknis dari Koordinator Rashdul Kiblat MAN 3 Majalengka, Nana Misnara, S.Pd.I. Melalui penjelasan sederhana namun mudah dipahami, peserta diajak memahami bahwa menentukan arah kiblat tidak selalu harus menggunakan alat yang rumit. Alam pun telah menyediakan petunjuknya.

Saat waktu yang ditentukan tiba, setiap peserta melaksanakan pengukuran dari rumah masing-masing. Hasilnya kemudian dilaporkan secara langsung melalui sistem yang disediakan Kementerian Agama.

Kakanwil Kemenag Jabar Monev KUA Sumberjaya: Tekankan Kebersihan dan Siapkan Program Rehabilitasi

Di balik proses yang tampak sederhana itu, tersimpan pengalaman yang berkesan bagi banyak peserta. Ada yang baru pertama kali mengetahui bahwa fenomena astronomi dapat dimanfaatkan untuk memastikan arah kiblat. Ada pula yang mengajak anggota keluarga ikut menyaksikan sehingga kegiatan berubah menjadi pembelajaran bersama di rumah.

Cerita dari Berbagai Penjuru Majalengka

Menariknya, setiap peserta memiliki cerita yang berbeda.

Aat Atmiawati, S.Pd., guru Biologi asal Dawuan, merasakan bahwa kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan dapat membantu umat memahami syariat secara lebih mendalam. Bersama Nunung Nuraisyah, S.Pd., guru Fisika asal Palasah, ia melihat Rashdul Kiblat sebagai pembelajaran kontekstual yang menunjukkan pentingnya ketelitian terhadap waktu dan posisi matahari.

Guru Geografi Gunawan Wicakosono, S.Pd., serta Sudirman, S.Pd., guru Sosiologi asal Jatiwangi, mengamati fenomena tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Menurut mereka, kondisi geografis suatu wilayah memberikan pengalaman yang unik saat mengamati arah bayangan, sementara keterlibatan warga madrasah di berbagai kecamatan menunjukkan bahwa pembelajaran dapat berlangsung tanpa dibatasi ruang kelas.

Sementara itu, Solehudin, S.Pd., guru Akidah Akhlak, memaknai kegiatan tersebut sebagai pengingat bahwa kesempurnaan ibadah juga diawali dari ikhtiar memastikan arah kiblat dengan benar.

Tinjau Pembangunan KUA Sukahaji Berdana SBSN, Kakanwil Kemenag Jabar Apresiasi Progres Capaian Kerja

Kreativitas yang Tumbuh dari Kesederhanaan

Jika para guru menemukan sisi ilmiah dan spiritual, para siswa justru menghadirkan cerita yang penuh warna.

Nasya Sintya Dewi, siswi kelas XI asal Jatiwangi, masih mengingat suasana menjelang pukul 16.27 WIB. Bersama teman-temannya, ia berusaha mencari tempat yang tidak tertutup bayangan pohon atau bangunan. Berbagai alat sederhana dimanfaatkan agar dapat menghasilkan bayangan yang jelas.

“Kami sampai mencari tempat yang paling terkena sinar matahari. Ada yang memakai serok sampah sebagai penyangga, ada yang menggunakan botol bekas, bahkan ada teman yang naik ke genteng supaya bayangannya tidak tertutup bangunan. Rasanya seperti sedang melakukan eksperimen, tetapi hasilnya membuat kami semakin paham pentingnya arah kiblat,” tutur Nasya sambil mengenang pengalaman tersebut.

Cerita-cerita sederhana seperti inilah yang justru menjadi daya tarik Rashdul Kiblat. Tidak ada perlengkapan laboratorium yang mahal, tetapi rasa ingin tahu, kerja sama, dan semangat belajar tumbuh secara alami.

Sains dan Syariat Berjalan Beriringan

Koordinator Rashdul Kiblat MAN 3 Majalengka, Nana Misnara, S.Pd.I., menilai antusiasme warga madrasah menjadi bukti bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik mampu menghadirkan pengalaman yang membekas.

Pengawas Pembina Monitoring Awal Tahun Pelajaran di MAN 3 Majalengka

“Rashdul Kiblat mengajarkan kepada kita bahwa agama dan sains bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya saling menguatkan. Ketika peserta melihat sendiri bagaimana bayangan matahari menunjukkan arah Ka’bah, mereka tidak hanya memahami teorinya, tetapi juga merasakan manfaatnya secara langsung,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari jumlah laporan yang berhasil dikirimkan, melainkan dari tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memastikan arah kiblat sebagai bagian dari penyempurnaan ibadah.

Momentum Belajar yang Layak Diteruskan

Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., menilai Rashdul Kiblat merupakan salah satu program monumental Kementerian Agama yang berhasil menghadirkan pembelajaran agama secara nyata di tengah kehidupan masyarakat. Menurutnya, tidak banyak program yang mampu menghubungkan ilmu falak, sains, dan praktik ibadah dalam satu kegiatan yang dapat diikuti oleh semua kalangan.

Ia mengaku bangga melihat antusiasme seluruh warga madrasah yang mengikuti kegiatan tersebut dari rumah masing-masing. Baginya, keberhasilan Rashdul Kiblat tidak hanya terlihat dari banyaknya laporan yang berhasil dikirimkan, tetapi juga dari tumbuhnya semangat belajar dan rasa ingin tahu warga madrasah terhadap ilmu pengetahuan yang menjadi bagian dari khazanah keislaman.

“Rashdul Kiblat adalah program yang sangat bernilai karena mengajarkan bahwa agama dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan. Warga madrasah tidak hanya menerima informasi, tetapi diajak membuktikan sendiri melalui fenomena alam yang telah Allah ciptakan. Pengalaman seperti ini akan jauh lebih membekas dibanding hanya membaca teori di dalam buku,” tutur Ela Nurlaela.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga memperlihatkan wajah pendidikan madrasah yang sesungguhnya, yaitu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia melihat bagaimana guru, siswa, tenaga kependidikan, bahkan anggota keluarga ikut terlibat dalam proses pengamatan, sehingga pembelajaran tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi berlanjut hingga ke rumah.

Ela berharap semangat yang lahir dari pelaksanaan Rashdul Kiblat dapat terus dipelihara. Ia meyakini pengalaman sederhana yang diperoleh warga madrasah pada sore itu akan menjadi kenangan sekaligus pelajaran berharga tentang pentingnya memadukan keimanan, ilmu pengetahuan, dan ketelitian dalam menjalankan ajaran agama.

“Kami berharap program-program seperti ini terus menjadi bagian dari penguatan layanan keagamaan Kementerian Agama. Ketika masyarakat dapat belajar langsung dari fenomena alam, maka pemahaman mereka tidak hanya bertambah, tetapi juga tumbuh keyakinan bahwa Islam selalu sejalan dengan ilmu pengetahuan. Inilah pembelajaran yang hidup dan akan selalu dikenang,” pungkasnya.

Menjadikan Langit sebagai Ruang Belajar

Bagi MAN 3 Majalengka, pengalaman Rashdul Kiblat meninggalkan pelajaran yang lebih luas daripada sekadar pengukuran arah kiblat.

Kegiatan ini memperlihatkan bahwa proses belajar dapat berlangsung di mana saja. Halaman rumah berubah menjadi laboratorium astronomi sederhana. Keluarga menjadi teman belajar. Matahari menjadi media pembelajaran, sementara ilmu agama dan ilmu pengetahuan saling melengkapi dalam satu pengalaman yang utuh.

Nilai inilah yang membuat Rashdul Kiblat tetap relevan untuk dikenang, bahkan setelah peristiwanya berlalu. Ia bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kisah tentang bagaimana rasa ingin tahu, semangat belajar, dan ikhtiar menyempurnakan ibadah dapat bertemu dalam satu sore yang sama.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, Rashdul Kiblat mengingatkan bahwa alam masih menjadi guru terbaik. Langit tetap menyampaikan pelajaran, matahari tetap menunjukkan arah, dan manusia diajak untuk terus belajar membaca tanda-tanda kebesaran Allah dengan ilmu, ketelitian, dan keimanan.

Kontributor : Firman Saefatullah (Humas MAN 3 Majalengka)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *