Berita Daerah

Kepala Kankemenag Majalengka Buka IHT di MTsN 2, Tekankan Pentingnya Mengajar dan Bekerja dengan Cinta

Jatiwangi (KEMENAG) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim., membuka secara resmi kegiatan In House Training (IHT) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di MTsN 2 Majalengka, Kamis (3/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti 75 peserta yang terdiri atas kepala madrasah dan perwakilan guru se-KKMTs 2 Majalengka.

Dalam sambutannya, Euis Damayanti mengungkapkan rasa bahagia dapat kembali hadir di MTsN 2 Majalengka yang merupakan almamaternya. Ia tercatat sebagai alumni madrasah tersebut pada tahun 1985.

“Ibu merasa kembali ke rumah, karena Ibu adalah alumni MTsN 2 Majalengka tahun 1985,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, Euis menekankan pentingnya menjalankan tugas sebagai pendidik dengan landasan cinta. Menurutnya, ketika pekerjaan dilakukan dengan penuh kecintaan, dinikmati, dijalani dengan sungguh-sungguh, dan disyukuri, hal tersebut dapat memberikan dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan.

“Ketika kita mengajar dengan cinta, ketika kita mengerjakan pekerjaan kita dengan cinta, menikmatinya, menjalaninya, mensyukurinya, itu akan berdampak sangat baik untuk diri kita sendiri,” tuturnya.

MTsN 10 Majalengka Kirim Tujuh Siswa Ikuti OMI 2026

Ia menjelaskan, nilai-nilai dalam Kurikulum Berbasis Cinta pada dasarnya telah melekat dalam tugas dan tanggung jawab guru. Guru sejak awal telah memiliki peran dalam menanamkan kecintaan peserta didik kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, mencintai diri sendiri, serta membangun karakter positif.

“Kalau hari ini Kementerian Agama membungkusnya dengan kalimat ‘Kurikulum Berbasis Cinta’, sesungguhnya kita sudah melaksanakan itu sejak awal kita menjadi guru,” jelasnya.

Lebih lanjut, Euis menyampaikan tiga indikator yang dapat menjadi gambaran penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah.

Madrasah Ramah Lingkungan

Indikator pertama adalah terwujudnya madrasah yang ramah lingkungan. Lingkungan belajar yang bersih, rapi, nyaman, dan terawat mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan.

Menurut Euis, kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan, antara lain pengelolaan sampah, penanaman pohon, dan penerapan budaya hemat energi. Hal tersebut perlu dibangun menjadi kebiasaan bersama seluruh warga madrasah.

Keputrian MTsN 7 Majalengka Jadi Ruang Tumbuh Siswi Bekal Ibadah, Karakter, dan Kesehatan Mental

Madrasah Ramah Anak

Indikator kedua adalah terciptanya madrasah ramah anak. Madrasah harus menjadi ruang belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik serta bebas dari kekerasan dan perundungan (bullying).

Keberadaan layanan bimbingan dan konseling (BK) serta ruang aman bagi siswa menjadi bagian penting dalam memberikan pendampingan kepada peserta didik. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.

“Ramah anak itu tempat belajarnya aman tanpa kekerasan atau perundungan. Sudah tidak ada lagi bullying di sini, adanya bimbingan konseling dan ruang aman bagi siswa,” ujarnya.

Peserta Didik Mampu Mengelola Emosi

Indikator ketiga adalah kemampuan peserta didik dalam mengelola emosi. Euis menekankan bahwa setiap anak memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda sehingga guru perlu menerapkan pendekatan yang sesuai dalam proses pembelajaran dan pengelolaan kelas.

Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap perkembangan emosional dan spiritual peserta didik.

Peringati HAORNAS 2026, Ratusan Siswa MTsN 10 Majalengka Ikuti Senam Kebugaran Jasmani

“Ketika karakter anak itu memang berbeda-beda, tetapi dengan Kurikulum Berbasis Cinta kita mengolah, kita mengelola kelas, mengajar semua anak memiliki kematangan emosional dan spiritual,” ungkapnya.

Euis berharap kegiatan IHT dapat memperkuat pemahaman para pendidik mengenai penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam praktik pembelajaran. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diwujudkan melalui sikap guru, pengelolaan lingkungan madrasah, serta pola interaksi dengan peserta didik.

Pembukaan IHT ini menjadi bagian dari upaya memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan madrasah. Melalui kegiatan tersebut, para peserta diharapkan dapat membawa pemahaman dan praktik yang diperoleh untuk diterapkan di madrasah masing-masing.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *