Talaga (KEMENAG) — MAN 1 Majalengka terus mendorong penguatan kualitas pendidikan karakter di lingkungan madrasah. Hal tersebut dibuktikan melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada mata pelajaran Fikih kelas XII.5 di MAN 1 Majalengka, Rabu (5/8/2026). Langkah transformatif ini mengintegrasikan nilai kasih sayang, empati, serta kemanusiaan ke dalam materi keagamaan secara aplikatif.
Kegiatan pembelajaran yang berlangsung pada jam ke-4 dan ke-5, tepatnya pukul 09.15 hingga 10.55 WIB, diikuti secara antusias oleh 36 siswa. Dengan mengangkat materi Konsep Ushul Fikih, proses belajar-mengajar dirancang secara interaktif untuk menumbuhkan pemahaman yang mendalam sekaligus menginternalisasi nilai-nilai Panca Cinta sebagai pilar utama KBC.
Dalam pemaparannya, Guru Mata Pelajaran Fikih, Wawan Abdul Gani, M.Ag., memberikan ilustrasi yang memudahkan pemahaman para peserta didik dengan menganalogikan Ushul Fikih seperti sebuah pohon yang kokoh. Dalam analogi tersebut, akar melambangkan pondasi utama seperti Al-Qur’an, Hadis, serta ilmu pendukung yakni Nahwu dan Shorof. Sementara itu, batang pohon menggambarkan Ushul Fikih yang memuat metodologi dan kaidah-kaidah pemikiran. Adapun dahan, ranting, dan bunga merepresentasikan produk Fikih yang menghasilkan beragam bentuk ibadah beserta tata caranya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pendekatan analogi tersebut, para siswa diajak untuk tidak sekadar memahami Fikih secara formal-prosedural, tetapi juga mengaitkannya dengan pilar Cinta kepada Ilmu serta Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
“Kurikulum Berbasis Cinta menghadirkan ruang belajar yang humanis. Saat siswa memahami bahwa ilmu Ushul Fikih dibangun di atas pondasi yang kuat dan bertujuan membawa maslahat, semangat literasi dan motivasi belajar mereka tumbuh sebagai bagian dari ibadah,” ujar Wawan di sela-sela kegiatan.

Penerapan KBC ini secara konkret disambut positif oleh para peserta didik. Salah seorang siswa, Lutfi, mengungkapkan bahwa pendekatan KBC membuat materi Fikih lebih mudah dihayati untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penguatan KBC di ranah pembelajaran ini mencakup lima dimensi utama atau Panca Cinta. Ketujuh pilar tersebut meliputi Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai bentuk penguatan spiritualitas dan ketaatan ibadah, serta Cinta kepada Diri dan Sesama guna membentuk kecerdasan sosial-emosional dan sikap anti-kekerasan (anti-bullying). Selain itu, terdapat pula pilar Cinta kepada Ilmu untuk menumbuhkan budaya literasi dan semangat belajar sepanjang hayat, Cinta kepada Lingkungan demi menjaga kesadaran ekologis (eco-theology), hingga Cinta Tanah Air guna menanamkan nilai nasionalisme yang moderat dan menghargai keberagaman.
Sebagai langkah tindak lanjut, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka berencana untuk terus mengawal dan memperluas pendampingan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di seluruh satuan pendidikan madrasah secara berkelanjutan.
Melalui inovasi pembelajaran berbasis KBC ini, madrasah di lingkungan Kemenag Majalengka diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademis dan mendalam pemahaman agamanya, tetapi juga memiliki kelembutan hati, kepedulian sosial, serta memberikan dampak positif bagi peningkatan mutu layanan pendidikan Kementerian Agama.
Kontributor: Wawan Abdul Gani


Komentar