Sumberjaya (KEMENAG) – Terik matahari dan gersangnya tanah tak menyurutkan langkah ratusan warga Desa Cidenok, Kecamatan Sumberjaya. Pada Kamis (13/8/2026), di tengah ancaman kekeringan yang kian meluas, masyarakat lintas generasi membentangkan sajadah di area terbuka desa untuk menggelar Sholat Istisqo, sebuah ikhtiar spiritual memohon tumpahan rahmat hujan dari Allah SWT.
Suasana haru dan khusyuk menyelimuti lapangan saat lantunan istighfar menggema sejak pagi hari. Ibadah sunnah ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat umum, tetapi juga merangkul jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) hingga anak-anak sekolah dasar.
Camat Sumberjaya, Wahyu Sudianto, S.IP; Kepala Desa Cidenok, Maman Suparman; serta Kepala KUA Sumberjaya, Tatang Tarmidi, S.Fil.I, tampak berbaur di tengah shaf jemaah. Kehadiran para pimpinan daerah ini menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan pemerintah dalam menghadapi bencana kemarau bersama warga.

Wahyu, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara ikhtiar lahiriah dan batiniah pemerintah kecamatan bersama masyarakat.
“Sebagai pemerintah, kami terus berupaya mengantisipasi dampak kekeringan bagi warga. Namun, segala usaha tentu harus disempurnakan dengan doa dan penyerahan diri secara penuh kepada Allah SWT. Semoga Sholat Istisqo ini menjadi pembuka pintu rahmat agar hujan segera turun membawa kebaikan bagi seluruh warga,” ujar Wahyu usai pelaksanaan sholat, Kamis (13/8).
Sementara itu, Tatang, turut menyampaikan imbauan spiritual kepada jemaah yang hadir untuk terus menjaga kesucian hati dan kepedulian sosial.
“Ujian kemarau ini hendaknya kita jadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Selain memperbanyak istighfar dan taubat, mari kita tingkatkan kepedulian serta saling membantu sesama warga yang mulai terdampak krisis air,” tutur Tatang.

Rangkaian sholat dipimpin langsung oleh Ketua DKM Assalam, Imam H. Maman Suratman. Usai ibadah, Drs. KH. Hambali naik ke mimbar menyampaikan khotbah yang menggetarkan hati. Ia mengingatkan jemaah bahwa kekeringan bukan sekadar fenomena alam, melainkan momentum untuk mengetuk pintu langit melalui introspeksi diri (muhasabah).
“Sholat Istisqo bukan sekadar ritual memohon hujan, melainkan momentum bagi kita untuk menyadari kedudukan manusia yang fakir di hadapan Allah SWT. Ini saatnya mempererat persaudaraan, saling menolong, dan bertaubat bersama,” tutur Hambali dalam pesan moralnya.
Pemandangan menarik terlihat dari hadirnya rombongan siswa dan guru SDN Cidenok 1. Keikutsertaan generasi muda ini menjadi ruang edukasi iman yang hidup, menanamkan nilai ketergantungan kepada Sang Pencipta sejak dini dalam menghadapi setiap ujian hidup.
Aksi religi di bawah langit Sumberjaya ini menjadi bukti nyata bahwa fondasi spiritualitas dan solidaritas sosial warga Desa Cidenok tetap kokoh. Di atas tanah yang merekah, doa-doa tulus kini digantungkan, berharap kesejukan hujan segera membasahi bumi dan mengakhiri dahaga kemarau.
Kontributor: Eki Kurniawan


Komentar