Jatiwangi (KEMENAG) — Tinggal di asrama bukan hanya soal berbagi ruang dan mengikuti jadwal harian. Di MAN 3 Majalengka, kehidupan santri diarahkan menjadi bagian dari proses belajar yang mempertemukan penguatan ilmu agama, kemampuan akademik, dan kebiasaan positif. Hal itu terungkap dalam pemaparan program keasramaan kepada seluruh santri putra dan putri di Ruang Belajar Asrama Pondok Pesantren MAN 3 Majalengka, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan diawali dengan tawasulan bersama. Setelah itu, santri menyimak pemaparan sejumlah program yang akan menjadi bagian dari kegiatan mereka selama berada di asrama.
H. Agus Jamaluddin, M.Pd., yang menjadi narasumber, mengatakan program keasramaan disusun agar santri mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas. Tidak hanya berkutat pada pelajaran di kelas, tetapi juga memperdalam ilmu agama dan membangun kebiasaan baik dalam keseharian.
“Melalui program keasramaan ini, kami ingin memastikan para santri tidak hanya matang secara akademis, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu agama dan karakter religius yang kuat. Pembinaan di asrama menjadi benteng utama dalam membentuk akhlakul karimah,” ujarnya.

Ada beberapa program yang menjadi perhatian. Salah satunya adalah penguatan Al-Qur’an melalui tahsin, tajwid, dan hafalan. Santri akan mendapatkan pendampingan agar semakin baik dalam membaca Al-Qur’an sekaligus mampu menjaga hafalan secara konsisten.
Selain itu, kajian kitab kuning akan menjadi ruang bagi santri untuk mengenal lebih dekat berbagai khazanah keislaman. Materinya mencakup fikih, tauhid, akhlak, hadis, dan tafsir.
Bagi santri kelas XII, perhatian juga diberikan pada sisi akademik. Bimbingan matematika secara intensif disiapkan untuk membantu mereka menghadapi pembelajaran dan mempersiapkan diri menuju pendidikan di jenjang berikutnya.
Suasana belajar di asrama juga akan diperkaya dengan pembiasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Santri didorong menggunakan kedua bahasa tersebut dalam percakapan sehari-hari melalui kegiatan daily conversation.

Menurut H. Agus Jamaluddin, keberadaan berbagai program tersebut diharapkan membuat kehidupan di asrama lebih terarah sekaligus memberi pengalaman belajar yang dekat dengan keseharian santri.
“Santri tidak hanya belajar ketika berada di ruang kelas. Cara berbicara, membaca Al-Qur’an, berdiskusi, belajar bersama, hingga membiasakan diri menggunakan bahasa asing juga merupakan bagian dari proses belajar,” katanya.
Pemaparan program ini pun menjadi kesempatan bagi santri untuk mengetahui kegiatan yang akan mereka jalani. Dengan demikian, mereka dapat mempersiapkan diri dan mengikuti kegiatan asrama dengan lebih antusias.
Melalui pola pembinaan tersebut, asrama MAN 3 Majalengka diharapkan menjadi tempat santri bertumbuh, bukan hanya dalam pengetahuan agama dan akademik, tetapi juga dalam kebiasaan baik yang mereka bawa ke madrasah, keluarga, dan masyarakat.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar