Berita Daerah MAN

Bukan Sekadar Meminjam Buku, Perpustakaan MAN 3 Majalengka Hadirkan Ruang Literasi yang Akrab

Jatiwangi (KEMENAG) — “Bu, buku yang membahas materi ini ada?” Pertanyaan sederhana itu kerap terdengar di ruang Perpustakaan MAN 3 Majalengka. Dengan senyum dan sapaan yang hangat, pustakawan membantu siswa menemukan buku yang mereka cari. Ada yang datang untuk membaca, mencari referensi tugas, atau sekadar mengisi waktu luang dengan membuka halaman demi halaman buku.

Suasana seperti itu menjadi pemandangan sehari-hari di Perpustakaan MAN 3 Majalengka, Rabu (12/8/2026). Pustakawan tidak hanya bertugas mengatur koleksi dan mencatat peminjaman, tetapi juga menjadi teman siswa ketika mereka membutuhkan informasi.

Seorang siswa tampak mendekati meja layanan sambil menyebutkan topik yang sedang dicarinya. Pustakawan kemudian mengarahkan ke rak yang sesuai. Percakapan singkat pun berlangsung. Sesekali, pustakawan ikut melihat beberapa buku untuk memastikan referensi yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan siswa.

Di sudut lain, beberapa siswa terlihat asyik membaca. Ketika mengalami kesulitan menemukan bahan bacaan, mereka tidak ragu bertanya kepada petugas. Respons yang cepat dan bahasa yang akrab membuat siswa lebih leluasa menyampaikan kebutuhannya.

Narasumber sekaligus Pustakawan MAN 3 Majalengka, Megawati Sinurat, S.Pd., mengatakan bahwa pelayanan perpustakaan berusaha dibangun dengan suasana yang dekat dengan siswa.

Lestarikan Budaya dan Nilai Sejarah, Warga Desa Gunung Kuning Gelar Ziarah Makam Raden Mas Lumpi

“Kami ingin siswa merasa bahwa perpustakaan adalah tempat yang nyaman untuk bertanya dan mencari informasi. Kalau mereka kesulitan menemukan buku atau referensi, kami siap membantu. Yang penting, mereka merasa diterima dan tidak sungkan untuk datang kembali,” ujar Megawati.

Menurutnya, interaksi sederhana antara pustakawan dan siswa justru menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan literasi. Ketika siswa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan saat berkunjung, perpustakaan tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku.

“Kadang siswa datang awalnya hanya untuk mencari bahan tugas. Setelah menemukan buku yang dibutuhkan, mereka malah lanjut membaca buku lain. Dari hal kecil seperti itu, kami berharap muncul kebiasaan membaca,” tambahnya.

Pelayanan yang akrab juga membuat suasana perpustakaan terasa lebih hidup. Pustakawan mengenali kebutuhan pengunjung, sementara siswa semakin terbiasa berkomunikasi ketika membutuhkan bantuan.

Bagi siswa, keberadaan pustakawan yang mudah ditemui memberikan pengalaman tersendiri. Mereka tidak harus mencari sendiri di antara banyak koleksi ketika belum mengetahui letak atau jenis buku yang dibutuhkan.

MTsN 10 Majalengka Kirim Tujuh Siswa Ikuti OMI 2026

Perpustakaan pun perlahan menjadi ruang bertemunya berbagai aktivitas belajar. Ada siswa yang membaca secara mandiri, berdiskusi kecil dengan teman, mencari referensi, hingga berkonsultasi dengan pustakawan mengenai buku yang sesuai dengan materi pembelajaran.

Melalui pelayanan yang ramah dan interaksi yang dekat, Perpustakaan MAN 3 Majalengka berupaya menumbuhkan suasana literasi yang menyenangkan. Sebab, minat baca tidak selalu tumbuh dari ajakan yang besar, tetapi bisa berawal dari sapaan sederhana, bantuan menemukan sebuah buku, dan pengalaman menyenangkan ketika berada di perpustakaan.

Pada akhirnya, perpustakaan bukan hanya tentang rak-rak yang dipenuhi buku. Ia juga tentang orang-orang yang membuat buku-buku tersebut terasa dekat, mudah dijangkau, dan menyenangkan untuk dibaca.

Kontributor : Firman Saefatullah

Keputrian MTsN 7 Majalengka Jadi Ruang Tumbuh Siswi Bekal Ibadah, Karakter, dan Kesehatan Mental

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *