Jatiwangi (KEMENAG) — Apa yang harus dilakukan ketika seseorang tiba-tiba mengalami kecelakaan? Pertanyaan itu tidak hanya dijawab melalui teori oleh anggota Palang Merah Remaja (PMR) MAN 3 Majalengka. Mereka langsung berlatih menangani korban, membuat tandu darurat, hingga melakukan simulasi evakuasi dalam pelatihan pertolongan pertama di kampus madrasah, Selasa (11/8/2026).
Pelatihan tersebut menjadi ruang bagi anggota PMR untuk menguji kesiapan mereka dalam memberikan pertolongan secara cepat, tepat, dan terukur. Di bawah arahan Pembina PMR MAN 3 Majalengka, Rosyidatul Awaliyah, S.Pd., para siswa mempelajari dasar-dasar Penanganan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) sekaligus mempraktikkannya.
Materi tidak berhenti pada penjelasan. Setelah mendapatkan pemahaman dasar, siswa diarahkan membuat tandu darurat atau drabbar/blankar. Mereka belajar memanfaatkan perlengkapan yang tersedia untuk membuat alat evakuasi yang dapat digunakan dalam kondisi tertentu.
Suasana semakin dinamis ketika simulasi kecelakaan dimulai. Siswa harus menentukan langkah yang perlu dilakukan, memberikan penanganan awal, kemudian mengevakuasi korban menggunakan tandu yang telah dibuat.

Latihan tersebut menuntut kerja sama dan ketenangan. Setiap anggota memiliki peran masing-masing sehingga proses pertolongan dapat berlangsung secara terkoordinasi.
Rosyidatul Awaliyah mengatakan keterampilan pertolongan pertama merupakan kemampuan penting yang perlu dikuasai anggota PMR. Menurutnya, anggota PMR harus memiliki kesiapan bukan hanya dalam pengetahuan, tetapi juga dalam tindakan ketika berhadapan dengan kondisi darurat.
“Melalui simulasi ini, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar mengambil tindakan dengan cepat dan tepat. Keterampilan seperti ini penting agar mereka siap membantu ketika menghadapi keadaan darurat, baik di lingkungan madrasah maupun di masyarakat,” ujar Rosyidatul.
Menurutnya, latihan secara langsung juga membantu siswa membangun keberanian, ketenangan, dan kepedulian terhadap orang lain. Ketiga hal tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan anggota PMR yang memiliki semangat kemanusiaan.
Kegiatan dengan semangat “Belajar Bermanfaat bagi Sesama” ini sekaligus menjadi sarana bagi siswa untuk memahami bahwa pertolongan pertama bukan sekadar keterampilan teknis. Di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk memberikan bantuan kepada orang lain dengan tetap memperhatikan keselamatan dan prosedur yang tepat.
PMR MAN 3 Majalengka akan melanjutkan kegiatan serupa melalui latihan secara berkala. Simulasi penanganan kecelakaan dan situasi kebencanaan juga akan dikembangkan untuk menjaga kesiapan anggota dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
Melalui latihan yang dilakukan secara berkelanjutan, anggota PMR diharapkan tidak hanya terampil memberikan pertolongan pertama, tetapi juga tumbuh sebagai siswa yang sigap, peduli, mampu bekerja sama, dan memiliki kepekaan terhadap keselamatan orang lain.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar