Sindang (KEMENAG) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim., menghadiri kegiatan Pelantikan dan Pengukuhan Tamu Gugus Depan (Gudep) serta Pelantikan Tingkat Kecakapan Pramuka MTsN 1 Majalengka di Bumi Perkemahan Indra Binangkit, Sindang, Selasa (13/10/2026). Kegiatan yang diikuti 453 siswa dengan dukungan 27 panitia ini menjadi bagian dari upaya madrasah membentuk generasi yang disiplin, mandiri, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial.
Dalam kegiatan tersebut, Euis menekankan pentingnya Gerakan Pramuka sebagai ruang pendidikan karakter yang melengkapi pembelajaran di kelas. Melalui pengalaman langsung, interaksi dengan sesama peserta, dan berbagai latihan kepramukaan, siswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan sikap dan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Euis, keaktifan siswa dalam Pramuka memiliki peran penting dalam membangun kepribadian yang positif. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi perlu dibiasakan melalui kegiatan nyata.
“Pramuka menjadi wadah bagi siswa untuk belajar disiplin, jujur, terbuka, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan sejak dini agar menjadi bagian dari kepribadian mereka, baik di lingkungan madrasah, keluarga, maupun masyarakat,” demikian pesan Euis dalam kegiatan tersebut.
Euis juga menjelaskan bahwa Pramuka memberikan bekal keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan siswa dalam berbagai situasi. Keterampilan seperti tali-temali, baris-berbaris, serta kemampuan mengikuti instruksi dan bekerja sesuai peran merupakan bagian dari pembelajaran yang melatih ketelitian, ketangguhan, dan kemandirian.
Pengalaman tersebut sekaligus membantu siswa mengenali potensi diri dan belajar menghadapi tantangan. Melalui latihan yang terarah, peserta didik dibiasakan untuk menyelesaikan tugas, menaati aturan, serta mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama.
Aspek kepemimpinan juga menjadi perhatian dalam pembinaan kepramukaan. Siswa dilatih memimpin diri sendiri sebelum belajar mengarahkan anggota regunya. Proses ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memberi instruksi, melainkan juga kesediaan mendengarkan, bekerja sama, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Euis memandang pengalaman tersebut sebagai bekal penting bagi siswa untuk tumbuh menjadi generasi yang mampu berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
“Kesempatan memimpin regu, menjalankan tugas, serta menyelesaikan persoalan bersama dapat membantu membangun kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi.” imbuhnya
Selain kepemimpinan, kehidupan perkemahan menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan karakter sosial. Tinggal bersama dalam tenda dan mengikuti kegiatan secara berkelompok menuntut peserta belajar berbagi, menghargai perbedaan, serta mengurangi sikap mementingkan diri sendiri.
Kebiasaan saling membantu dan bergotong royong menjadi bagian penting dari proses tersebut. Siswa belajar bahwa keberhasilan sebuah regu tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada kesediaan setiap anggota untuk mengambil peran dan mendukung satu sama lain.
Nilai toleransi dan kebersamaan yang tumbuh melalui kegiatan kepramukaan juga relevan dengan kehidupan masyarakat yang beragam.
“Dengan membiasakan diri bekerja bersama, siswa diharapkan mampu membangun hubungan sosial yang sehat, menghormati orang lain, dan menunjukkan empati dalam menghadapi perbedaan.” Tegas Euis
Euis turut mengingatkan pentingnya menanamkan nasionalisme melalui kegiatan Pramuka. Penghormatan terhadap bendera Merah Putih dan aktivitas yang mengandung nilai kebangsaan menjadi sarana untuk mengenalkan makna cinta tanah air serta tanggung jawab sebagai warga negara.
Menurutnya, pembentukan karakter kebangsaan perlu berjalan seiring dengan pengembangan kecakapan dan pengetahuan. Peserta didik diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang menghargai persatuan, peduli terhadap lingkungan, dan siap menjalankan tanggung jawabnya di tengah masyarakat.
Pelaksanaan perkemahan MTsN 1 Majalengka ini dirancang dengan enam sasaran utama, yakni meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, membangun perilaku gotong royong, toleransi dan kebersamaan, memberikan pengalaman nyata di alam terbuka, melatih ketahanan fisik dan mental, membekali siswa dengan keterampilan kepramukaan, serta menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab.
Kehadiran Kepala Kemenag Majalengka dalam kegiatan ini juga menegaskan perhatian terhadap pembinaan peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pembentukan karakter. Pendidikan di madrasah diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecakapan intelektual, nilai keagamaan, dan kepedulian sosial.
kontributor: D.Win


Komentar