Berita Daerah MAN

Berani Keluar dari Zona Nyaman, Ketua Jurnalistik MAN 3 Majalengka Tantang Dunia Lewat Lomba Resensi

Jatiwangi (KEMENAG) — Tidak semua siswa berani membawa gagasannya keluar dari ruang kelas. Namun, Nasya Sintya Dewi memilih jalan berbeda. Ketua Ekstrakurikuler Jurnalistik MAN 3 Majalengka itu menantang dirinya sendiri untuk tampil di ruang publik melalui Lomba Resensi Buku Koleksi Perpustakaan Tingkat Kabupaten Majalengka yang digelar melalui media sosial, Kamis (13/8/2026).

Bagi Nasya, lomba tersebut bukan sekadar ajang untuk memperoleh prestasi. Ada keberanian untuk membuka gagasan, menguji kemampuan membaca, sekaligus menyampaikan pesan sebuah buku kepada khalayak yang lebih luas.

Di tengah derasnya arus konten media sosial, Nasya justru memilih menghadirkan konten literasi. Ia mengulas novel karya Brian Khrisna, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, dan membawakan gagasan tentang pentingnya memahami perasaan serta memberikan ruang bagi emosi manusia.

Novel tersebut berkisah tentang Ale, seorang pria berusia 37 tahun yang menghadapi pergulatan dalam hidupnya. Dari kisah itu, Nasya menangkap pesan tentang empati dan pentingnya tidak terburu-buru menghakimi seseorang hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

“Kesedihan, kemarahan, dan rasa lelah adalah hal yang wajar dirasakan manusia dan tidak harus selalu ditutupi dengan senyuman. Melalui media sosial, saya ingin mengajak teman-teman untuk lebih berempati karena kita tidak pernah tahu seberapa berat beban yang sedang dipikul orang lain,” ungkap Nasya.

MTsN 10 Majalengka Kirim Tujuh Siswa Ikuti OMI 2026

Keikutsertaan Nasya menjadi menarik karena ia tidak hanya membaca buku untuk dirinya sendiri. Sebagai Ketua Ekstrakurikuler Jurnalistik, ia mencoba mengubah hasil bacaannya menjadi sebuah karya komunikasi yang dapat dinikmati orang lain.

Media sosial yang sering dipenuhi beragam hiburan ia manfaatkan sebagai ruang untuk menyebarkan gagasan. Baginya, literasi tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang kaku. Sebuah resensi dapat dikemas secara kreatif sehingga pesan buku tetap sampai kepada pembaca, terutama generasi muda.

Nasya juga menemukan satu pesan sederhana dari novel yang diulasnya. Dalam keadaan sulit, seseorang terkadang tidak membutuhkan alasan besar untuk terus bertahan. Hal-hal sederhana, bahkan semangkuk mi ayam, dapat menjadi pengingat bahwa hidup masih layak dijalani dan dinikmati.

Keberanian Nasya mengikuti lomba sekaligus menunjukkan bahwa literasi dan jurnalistik dapat berjalan beriringan. Kemampuan membaca memberinya bahan untuk berpikir, sedangkan jurnalistik memberinya ruang untuk menyampaikan hasil pemikiran tersebut kepada publik.

Pihak MAN 3 Majalengka memberikan dukungan terhadap langkah siswanya memanfaatkan media sosial sebagai ruang berkarya dan berkompetisi. Keikutsertaan dalam lomba diharapkan menjadi pengalaman berharga untuk membangun kepercayaan diri sekaligus mengasah kemampuan literasi digital.

Keputrian MTsN 7 Majalengka Jadi Ruang Tumbuh Siswi Bekal Ibadah, Karakter, dan Kesehatan Mental

Lebih dari sekadar sebuah perlombaan, langkah Nasya menjadi pesan bagi siswa lain bahwa karya tidak harus menunggu sempurna untuk diperkenalkan kepada dunia. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai, membaca, berpikir, lalu berani menyampaikan apa yang diyakini.

Dari lingkungan madrasah, Nasya melangkah ke ruang digital. Ia membawa sebuah buku, menyampaikan sebuah gagasan, dan membuktikan bahwa suara seorang siswa pun dapat menjangkau dunia yang lebih luas.

Kontributor : Firman Saefatullah

Peringati HAORNAS 2026, Ratusan Siswa MTsN 10 Majalengka Ikuti Senam Kebugaran Jasmani

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *