Oleh : Endang Mu’min*
Hari Jumat bukan sekadar pengujung pekan bagi umat Islam; ia adalah Sayyidul Ayyam (Penghulu Hari). Namun, di balik semerbak wangi parfum yang tercium di barisan saf salat Jumat hari ini, tersimpan sebuah narasi sejarah yang sangat manusiawi—sebuah pelajaran tentang adab sosial yang bermula dari sebuah insiden di Madinah empat belas abad silam.
Realita Madinah: Keringat dan Perjuangan
Madinah di masa awal Islam dihuni oleh para pejuang yang tangguh, namun mereka hidup dalam kesederhanaan. Mayoritas penduduknya adalah kaum Anshar yang bekerja sebagai petani kurma dan buruh ladang. Mereka membanting tulang di bawah terik matahari gurun yang mencapai suhu ekstrem.
Ketika seruan azan Jumat bergema, mereka bergegas menuju Masjid Nabawi. Dengan semangat ibadah yang tinggi, mereka sering kali datang langsung dari ladang dalam keadaan baju yang basah oleh keringat dan tubuh yang berdebu. Dalam ruang masjid yang terbatas dan tanpa sirkulasi udara modern, aroma tubuh yang menyengat menjadi kendala serius bagi kekhusyukan jamaah lainnya.
Teguran Nabi ﷺ: Adab di Atas Segalanya
Rasulullah ﷺ yang sangat peka terhadap kenyamanan orang lain tidak membiarkan kondisi ini berlarut. Beliau melihat bahwa ibadah yang sempurna tidak boleh mengabaikan kenyamanan sesama manusia. Di sinilah beliau menekankan pentingnya mandi dan memakai wewangian melalui sabdanya:
1. Perintah Mandi Jumat
Rasulullah ﷺ bersabda:
غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
“Mandi pada hari Jumat adalah kewajiban bagi setiap orang yang sudah balig.” (HR. Bukhari & Muslim)
2. Perintah Memakai Wewangian
Beliau juga menambahkan dalam riwayat yang lebih spesifik:
وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ
“…dan hendaklah ia memakai wewangian jika ia memilikinya.” (HR. Bukhari)
Dalam menyikapi insiden bau badan tersebut, Rasulullah ﷺ menunjukkan kelas tertinggi dalam kepemimpinan. Beliau tidak menunjuk hidung individu tertentu atau mempermalukan mereka. Beliau mengubah sebuah “masalah sosial” menjadi sebuah “sunah yang berpahala”.
Landasan Teologis: Allah Mencintai Keindahan
Islam memandang kebersihan bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian integral dari iman. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Rasulullah ﷺ pun mempertegas prinsip ini dalam sebuah hadits populer:
إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim)
Mutiara Hikmah para Salafushalih
Para sahabat dan generasi awal Islam (Salafushalih) sangat memahami pesan ini. Bagi mereka, memakai wewangian dan mandi Jumat adalah bentuk penghormatan kepada malaikat dan sesama mukmin.
Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu pernah ditanya tentang kewajiban mandi Jumat, beliau menjelaskan bahwa pada awalnya itu adalah perintah karena orang-orang bekerja keras di ladang dan pakaian mereka dari kain wol yang cepat berbau jika terkena keringat. Namun, meski kondisi ekonomi membaik, sunah ini tetap dijaga sebagai adab.
Imam Malik bin Anas, sang Imam Darul Hijrah, sangat dikenal dengan kegemarannya memakai wewangian, terutama saat hendak mengajarkan hadits. Beliau berkata: “Aku sangat tidak suka melihat orang yang Allah berikan nikmat kepadanya, namun tidak memperlihatkan bekas nikmat itu pada dirinya (melalui kebersihan dan kerapian).”
Umar bin Khattab Radhiallahu ‘Anhu bahkan pernah menegur seseorang yang berbau tidak sedap di masjid, karena hal itu dapat mengganggu para malaikat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ
“Karena sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan apa saja yang manusia merasa terganggu dengannya.” (HR. Muslim)
Warisan Peradaban: Dari Madinah ke Seluruh Dunia
Transformasi ini luar biasa. Apa yang dimulai sebagai solusi atas masalah bau badan di sebuah masjid kecil di padang pasir, kini telah menjadi identitas global umat Islam selama 14 abad. Dari Baghdad, Istanbul, hingga ke pelosok Nusantara, hari Jumat identik dengan aroma minyak wangi dan pakaian bersih.
Pesan moral dari sejarah ini sangat dalam: Ibadah bukan hanya soal hubungan vertikal kepada Sang Pencipta (Hablum Minallah), tetapi juga soal empati dan penghormatan horizontal kepada sesama manusia (Hablum Minannas).
Penutup
Setiap kali kita menyemprotkan parfum atau mengusap minyak wangi sebelum berangkat menuju masjid, ingatlah bahwa kita tidak hanya sedang berdandan. Kita sedang menghidupkan sebuah peradaban yang menghargai manusia. Kita sedang meneruskan sunah yang mengubah momen memalukan menjadi sebuah tradisi mulia yang menyejukkan hati dan indra.Karena pada akhirnya, Islam hadir untuk mengharumkan dunia—baik secara maknawi maupun secara harfiah.
Referensi Utama:
- Shahih Al-Bukhari & Shahih Muslim (Kitab Al-Jumu’ah)
- Al-Muwatta’ Imam Malik
- Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani
- Narasi dikembangkan dari materi Daily Sirah
*Penulis merupakan pelaksana Penata Layanan Operasional/Kehumasan pada Subbag TU Kemenag Majalengka


Komentar