Hikmah
Beranda » Berita » Healing Terbaik adalah Sujud: Menemukan Ketenangan di Tengah Badai Overthinking

Healing Terbaik adalah Sujud: Menemukan Ketenangan di Tengah Badai Overthinking

Oleh : Endang Mu’min*

Di era modern yang bergerak dengan ritme hustle culture, manusia sering kali terjebak dalam dua badai besar: kegelisahan pikiran (overthinking) di dalam diri dan tuntutan profesionalisme yang melelahkan di luar diri. Banyak yang mengira bahwa kesehatan mental adalah produk pemikiran Barat modern, padahal Islam telah lama meletakkan fondasi Thibb al-Qulub (pengobatan hati) sebagai navigasi hidup. Sejatinya, ketenangan hati dan integritas kerja bukanlah dua hal yang terpisah; keduanya adalah bentuk penghambaan yang berpangkal pada satu titik: pengawasan Allah SWT.

Kesehatan mental seorang Muslim dimulai dari pengakuan bahwa hati memiliki “ruang hampa” yang tidak bisa diisi oleh materi atau validasi manusia. Overthinking sering kali merupakan sinyal bahwa jiwa sedang kehilangan jangkarnya. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memberikan resep utama untuk menjinakkan badai pikiran tersebut:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

KUA Bantarujeg Gelar Mini Camp: Perkuat Karakter Remaja Demi Fondasi Keluarga Sakinah

Zikir di sini bukan sekadar komat-kamit lisan, melainkan kesadaran penuh bahwa ada kekuatan Maha Besar yang memegang kendali atas hari esok yang kita cemaskan. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Al-Wabilus Shayyib menegaskan bahwa dalam hati terdapat kegelisahan yang tidak dapat ditenangkan kecuali dengan mendekat kepada-Nya. Namun, Islam sangat manusiawi; kita tidak dilarang untuk merasa sedih atau cemas. Rasulullah ﷺ pun melewati Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Yang diajarkan adalah bagaimana mengolah rasa tersebut menjadi ketangguhan mental. Beliau bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ … إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin… jika ia tertimpa kesenangan ia bersyukur, dan jika ia tertimpa kesusahan ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim).

Sifat sabar dan syukur inilah self-care terbaik. Menjaga kesehatan mental dengan beristirahat atau mencari bantuan profesional adalah bagian dari menjaga amanah fisik dan jiwa. Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib RA, “Istirahatkanlah hati… karena sebagaimana badan, hati pun bisa merasa lelah.”

Ketika hati telah tenang melalui sujud, ketenangan itu seharusnya mewujud dalam perilaku di meja kerja. Seorang Muslim tidak mengenal pemisahan antara kesalehan di masjid dan profesionalisme di kantor. Baginya, bekerja adalah jihad dan setiap tugas adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Al-Khalik. Bekerja secara Ihsan—melakukan yang terbaik seolah-olah melihat Allah—adalah standar tertinggi profesionalisme. Allah SWT berfirman:

Penyuluh Agama KUA Malausma: Puasa Adalah Perisai dan Pengendali Produktivitas ASN

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58).

Integritas seperti datang tepat waktu, jujur dalam laporan, dan tidak korupsi waktu bukan sekadar soal SOP perusahaan, melainkan upaya menjemput keberkahan. Sebab, harta melimpah tanpa keberkahan hanya akan menjadi sumber kecemasan baru. Rasulullah ﷺ menjanjikan martabat yang sangat tinggi bagi mereka yang berintegritas:

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Pekerja yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi).

Estafet Kepemimpinan MAN 2 Majalengka: Yayan Ristaman Jaya Serahkan Jabatan kepada H. Dodo Sunandi

Sebagai simpulan, “healing” terbaik bagi seorang Muslim adalah kembali kepada sujud yang panjang untuk melepaskan beban jiwa, lalu berdiri tegak dengan penuh amanah untuk menuntaskan tanggung jawab dunia. Terutama di bulan Ramadan, produktivitas seharusnya meningkat karena kita sadar bahwa bekerja adalah ibadah. Keikhlasan dalam bekerja akan melahirkan ketenangan mental, dan ketenangan mental akan melahirkan karya yang maksimal. Pada akhirnya, integritas adalah cermin dari kedekatan kita kepada Sang Maha Pengawas.


Referensi Utama:

  • Al-Qur’an Al-Karim (Surah Ar-Ra’d & An-Nisa).
  • Shahih Muslim, Hadits No. 2999 (Tentang keajaiban urusan mukmin).
  • Sunan At-Tirmidzi, Hadits No. 1209 (Tentang kejujuran dalam berniaga/bekerja).
  • Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib.
  • Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din.

*Penulis merupakan Pelaksana Kehumasan/Penata Layanan Operasional pada Subbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

🌙 Menuju Idul Fitri 1447 H

0
Hari
0
Jam
0
Menit
0
Detik

Playlist Video Kemenag Majalengka