Jatiwangi (KEMENAG) – Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan dan kompetensi tenaga pendidik, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka menyelenggarakan lokakarya (workshop) bertajuk “Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)”. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (5/2/2026) ini bertempat di Ruang Pertemuan MAN 3 Majalengka.
Acara ini dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag ) Kabupaten Majalengka, Dr. H. Agus Sutisna, S.Ag., M.Pd. Turut hadir mendampingi, Kepala MAN 3 Majalengka Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., Pengawas Madrasah Yoyoh Adewiyah, M.Ag., serta Pengawas SMK KCD Wilayah IX Provinsi Jawa Barat, Winarno, S.H., M.Pd. Sebanyak 36 tenaga pendidik dan kependidikan MAN 3 Majalengka mengikuti kegiatan ini dengan antusias.
Inovasi “Perkawinan Silang” Kurikulum
Dalam sambutannya, Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, menyampaikan bahwa workshop ini merupakan bentuk respons madrasah terhadap perkembangan metode pembelajaran terkini. Ia mengistilahkan kegiatan ini sebagai “perkawinan silang” antara metode Deep Learning dengan Kurikulum Berbasis Cinta.
“Segala sesuatu yang didasari oleh cinta akan membuahkan kebaikan. Tugas cinta adalah memberikan kebahagiaan. Melalui kurikulum ini, kami berharap para guru dapat memberikan pelayanan terbaik kepada siswa dengan penuh semangat, sehingga tercipta lingkungan belajar yang sehat dan bahagia,” ujar Hj. Ela. Ia juga berharap kegiatan ini dapat menambah motivasi stafnya untuk memberikan yang terbaik bagi putra-putri bangsa.
Pentingnya Inisiatif dan Aksi Nyata
Kepala Kantor Kemenag Majalengka, H. Agus Sutisna, mengawali arahannya dengan sebuah simulasi video inspiratif tentang seorang anak kecil yang berinisiatif menggerakkan massa untuk menyingkirkan pohon tumbang di tengah kepasifan orang dewasa di sekitarnya. Melalui ilustrasi tersebut, Agus menekankan bahwa keberhasilan sebuah perubahan bergantung pada siapa yang berani memulai.
“Sehebat apa pun teorinya, jika tidak ada tindakan memulai (action), maka tidak akan terjadi apa-apa. Begitu juga dalam pendidikan, harus ada yang menjadi pemantik perubahan di lapangan,” tegas Agus.
Empat Strategi Pengelolaan Lembaga
Lebih lanjut, Agus memaparkan bahwa untuk mengelola lembaga pendidikan agar tetap kokoh di tengah tantangan zaman, diperlukan minimal empat perspektif strategis. Pertama adalah perspektif keuangan yang menurutnya merupakan hal yang tidak bisa dielakkan dalam operasional.
“Tanpa uang, lembaga tidak jalan. Artinya, perspektif keuangan harus dihadirkan dalam pengelolaan lembaga,” jelasnya.
Kedua, Agus menekankan pentingnya perspektif konsumen. Ia berpesan agar madrasah senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat dan siswa melalui penguatan kehumasan.
“Konsumen itu wajib dijaga. Lembaga pendidikan tanpa siswa tidak disebut lembaga yang sehat. Makanya, kehumasan di sini harus dikembangkan, media sosial dan tulisan-tulisan harus aktif agar masyarakat tahu prestasi kita,” tambahnya.
Perspektif ketiga yang menjadi sorotan adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Agus mengapresiasi langkah MAN 3 Majalengka yang terus memperbarui kompetensi gurunya melalui lokakarya ini.
“SDM harus selalu update. Jangan sampai ada tren teknologi atau bahasa anak muda yang kita tidak pahami. Penguatan SDM itu mutlak,” tuturnya serius.
Terakhir, ia mengingatkan tentang pentingnya perspektif internal, khususnya terkait tata kelola dan komunikasi di dalam organisasi.
“Jaga komunikasi internal jangan sampai ada bahasa negatif dari dalam yang keluar. Mutasi dan pengelolaan informasi internal itu penting untuk membangun lembaga yang sehat,” tegas Agus.
Di akhir arahan, Agus juga menyoroti pentingnya kebersihan lingkungan sebagai cerminan tata kelola internal yang dimulai dari aksi nyata, sejalan dengan program Gerakan Bersama Bebersih (Gebber) dan kegiatan tematik berbasis masjid.
Kontributor : Endang Mu’min



Komentar