Jatitujuh (KEMENAG) — Sebanyak 200 penari dari MTsN 7 Majalengka turut memeriahkan Festival Pecunan yang diselenggarakan oleh Hujan Keruh Jatitujuh dalam gelaran pemecahan rekor MURI 1.000 penari Tari Blentung, Minggu (30/8/2026). Kegiatan yang melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan tersebut berlangsung meriah di kawasan saluran irigasi Cimanuk–Jatitujuh.
Festival Pecunan menjadi momentum penting dalam upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan seni dan budaya lokal melalui Tari Blentung. Sebanyak 1.000 peserta dari tingkat SD, SMP/MTs, hingga SMA sederajat ambil bagian dalam pertunjukan kolosal yang digelar secara bersama-sama.
Keikutsertaan 200 penari MTsN 7 Majalengka menjadi salah satu bentuk dukungan madrasah terhadap pelestarian budaya daerah. Para siswa tampil bersama peserta lainnya dengan mengikuti rangkaian gerakan Tari Blentung dalam satu pertunjukan massal yang menjadi bagian utama dari agenda pemecahan rekor MURI tahun 2026.
Kepala MTsN 7 Majalengka, Dedi Priatna, S.Pd., M.Si., menyampaikan apresiasinya kepada seluruh siswa dan pihak yang telah terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Keikutsertaan 200 siswa MTsN 7 Majalengka dalam Festival Pecunan merupakan bentuk nyata dukungan madrasah terhadap pelestarian budaya lokal. Kami ingin anak-anak tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga memiliki kepedulian dan kebanggaan terhadap seni serta budaya daerahnya,” ujar Dedi.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai edukatif dan kebudayaan yang penting bagi generasi muda. Selain menjadi ruang bagi siswa untuk berekspresi, keterlibatan dalam kegiatan budaya juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri, kedisiplinan, kerja sama, dan kecintaan terhadap daerah.
“Target pemecahan rekor MURI 1.000 penari Tari Blentung ini tentu menjadi kebanggaan bersama. Lebih dari sekadar mengejar rekor, yang paling penting adalah bagaimana kegiatan ini mampu menjadi sarana untuk mengenalkan Tari Blentung kepada generasi muda sehingga keberadaannya tetap terjaga dan terus berkembang,” tambahnya.
Gelaran yang dipusatkan di saluran irigasi Cimanuk–Jatitujuh tersebut juga menunjukkan besarnya potensi kolaborasi antara lembaga pendidikan, komunitas seni, dan masyarakat dalam mengangkat kekayaan budaya lokal.
Melalui Festival Pecunan, Tari Blentung diharapkan semakin dikenal oleh masyarakat luas dan mendapatkan ruang yang lebih besar untuk berkembang. Pelibatan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan sekaligus menjadi langkah strategis untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah sejak dini.
Pemecahan rekor MURI 1.000 penari Tari Blentung tahun 2026 menjadi bagian dari semangat bersama untuk menjadikan seni dan budaya lokal sebagai identitas yang terus hidup di tengah generasi muda.
Kontributor: Suratman


Komentar