Jatiwangi (KEMENAG) — Mengaji, mengikuti pembelajaran di madrasah, menjalankan ibadah, dan menaati jadwal asrama menjadi bagian dari keseharian Wardatun Mahfudzoh, yang akrab disapa Wardah, sebagai santriwati MAN 3 Majalengka. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari proses belajar yang tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga membentuk kedisiplinan, kemandirian, dan adab. Jumat (9/10/2026).
Kehidupan pesantren menghadirkan pengalaman belajar yang berlangsung sepanjang hari. Bagi Wardah, aktivitas di lingkungan asrama menjadi bagian dari pendidikan yang melengkapi pembelajaran di kelas. Waktu belajar, ibadah berjamaah, kajian kitab, dan kegiatan bersama santri lainnya melatihnya untuk menjalani tanggung jawab secara teratur.
Salah satu kegiatan pembelajaran di asrama ialah kajian Kitab Shorof Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah. Dalam kajian materi tashrif lughowiy pada Selasa malam (6/10/2026), para santri mengikuti penjelasan Kepala Asrama, KH. Agus Jamaluddin, di majelis lantai dua. Mereka menyimak materi, mencatat penjelasan, dan melafalkan pola-pola perubahan kata dalam bahasa Arab.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran pesantren tidak berhenti pada penguasaan materi. Ketekunan mengulang pelajaran, ketelitian memahami kaidah, serta kesungguhan mengikuti arahan guru menjadi bagian dari proses pembentukan kebiasaan belajar.
KH. Agus Jamaluddin menegaskan bahwa asrama memiliki peran lebih luas daripada sekadar tempat tinggal bagi para santri.
“Asrama ini bukan sekadar tempat tidur dan makan. Asrama harus menjadi tempat tumbuhnya ilmu, adab, dan rasa persaudaraan. Dari majelis seperti inilah karakter anak-anak dibentuk,” tuturnya.
Melalui kehidupan pesantren, Wardah menjalani proses pendidikan yang memadukan pembelajaran agama dengan pembiasaan sikap dalam keseharian. Kegiatan yang dilakukan secara berulang memberi ruang bagi santri untuk belajar mengatur waktu, menghormati guru, menjaga kebersamaan, dan membangun tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Bagi MAN 3 Majalengka, lingkungan asrama menjadi bagian penting dalam mendukung pendidikan siswa secara menyeluruh. Ilmu pengetahuan, pembiasaan ibadah, dan pembentukan akhlak berjalan beriringan sebagai bekal santri dalam menjalani kehidupan di madrasah maupun di tengah masyarakat.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar