Rajagaluh (KEMENAG) — Murid kelas XII.7 MAN 2 Majalengka mengikuti pembelajaran Bahasa Sunda dengan materi tradisi membersihkan pusaka (jamasan) di Talaga Manggung pada Kamis (24/9/2026). Pembelajaran yang mengangkat kearifan lokal tersebut menjadi sarana edukatif bagi murid untuk mengenal tradisi masyarakat sekaligus memahami pentingnya pemertahanan sejarah dan budaya sebagai bagian dari identitas Majalengka.
Dalam kegiatan tersebut, para murid mempelajari kedudukan Talaga Manggung sebagai salah satu kawasan bernilai sejarah dan budaya tinggi di Kabupaten Majalengka. Tradisi membersihkan pusaka dipahami sebagai bentuk penghormatan masyarakat terhadap peninggalan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Tradisi tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan juga bagian dari warisan budaya yang memuat nilai sejarah, sosial, dan edukatif. Melalui tradisi ini, masyarakat dapat mengenalkan kembali narasi sejarah, nilai-nilai luhur, serta kearifan lokal kepada generasi muda.
Selain itu, para murid diajak memahami keterkaitan antara pelestarian budaya dan pengembangan sektor pariwisata. Tradisi lokal yang terjaga keberlangsungannya berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya. Dengan demikian, pemertahanan tradisi tidak hanya merawat identitas daerah, tetapi juga mendukung promosi potensi sejarah dan budaya Majalengka kepada masyarakat luas.
Dalam konteks mata pelajaran Bahasa Sunda, materi ini menjadi ruang strategis untuk mengembangkan kemampuan literasi budaya. Murid tidak hanya mempelajari struktur bahasa, tetapi juga menginternalisasi budaya yang hidup di lingkungan masyarakat Sunda, sehingga memiliki pemahaman yang lebih dekat dan mendalam terhadap warisan daerahnya.
Guru Bahasa Sunda MAN 2 Majalengka, Reni Tania Nurmala, S.Pd., menjelaskan bahwa pengenalan tradisi lokal sangat krusial agar generasi muda memahami kekayaan budaya di daerahnya sendiri.
“Murid perlu mengenal tradisi yang ada di Majalengka, termasuk tradisi membersihkan pusaka di Talaga Manggung. Dengan mengenalnya, mereka tidak hanya mengetahui sejarah, tetapi juga memahami nilai budaya dan pentingnya menjaga warisan tersebut,” ungkap Reni.
Reni menambahkan bahwa upaya pemertahanan budaya dapat berjalan selaras dengan pengembangan pariwisata daerah.
“Ketika tradisi dan sejarah lokal dipahami serta dikenalkan dengan baik, hal itu dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata budaya. Harapannya, murid memiliki kebanggaan terhadap budaya daerah sekaligus ikut menjaga keberlangsungannya,” tambahnya.
Pembelajaran Bahasa Sunda di kelas XII.7 ini menjadi langkah nyata dalam mendekatkan murid pada akar sejarah dan budaya lokal. Melalui pengenalan tradisi Talaga Manggung, para murid diharapkan semakin menyadari bahwa pemertahanan warisan budaya merupakan tanggung jawab generasi muda dalam menjaga identitas serta kekayaan daerah Majalengka.
Kontributor: Reni Tania Nurmala


Komentar