Berita Daerah KUA

Pernikahan Dua Santri di Sindangpala, Penghulu KUA Banjaran Tekankan Ilmu yang Berbuah Khidmat

Banjaran (KEMENAG)– Pernikahan bukan sekadar peristiwa mempertemukan dua insan dalam ikatan yang sah, tetapi juga menjadi awal perjalanan panjang untuk mengamalkan ilmu, membangun keluarga, dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.

Nuansa tersebut terasa dalam prosesi pencatatan pernikahan Asep Jaoharul Aripin dan Rifa Aulia Rahman yang dilaksanakan pada Senin (5/10/2026) di Desa Sindangpala, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka. Kedua mempelai yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren menjadikan prosesi pernikahan berlangsung dalam suasana yang khidmat dan sarat dengan nilai keilmuan serta tradisi keagamaan.

Prosesi pencatatan pernikahan dipimpin oleh Penghulu KUA Kecamatan Banjaran, Sofwan Farohi, S.H.I., M.Pd. Kehadiran para ulama dan guru yang pernah mendampingi perjalanan pendidikan kedua mempelai semakin memberikan warna tersendiri dalam acara tersebut. Pernikahan tidak hanya menjadi momentum sakral bagi kedua mempelai dan keluarga, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, keteladanan, dan pengabdian.

Dalam nasihat pernikahan, Sofwan mengajak kedua mempelai untuk tidak berhenti belajar setelah memasuki kehidupan rumah tangga. Menurutnya, pernikahan justru merupakan madrasah baru yang menghadirkan proses belajar dalam bentuk yang lebih nyata.

“Setelah menikah, proses belajar tidak selesai. Suami belajar dari istri, istri belajar dari suami, dan keduanya belajar dari kehidupan,” ungkap Sofwan dalam nasihatnya.

Kemenag Majalengka Himbau ASN Madrasah Tunaikan Zakat Profesi

Ia mengingatkan bahwa ilmu yang diperoleh di pesantren hendaknya tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi harus mampu melahirkan akhlak, kesabaran, ketawadhuan, serta kepedulian terhadap sesama.

Pesan tersebut ia rangkum dalam tema “Ilmu yang Berbuah Khidmat.”

Menurut Sofwan, seorang santri memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan ilmu yang dimilikinya sebagai jalan pengabdian. Setelah memasuki kehidupan rumah tangga, khidmat tersebut tidak hanya ditujukan kepada guru, pesantren, dan masyarakat, tetapi dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga.

“Ilmu bukan untuk membuat seseorang merasa paling benar, tetapi seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati. Bukan sekadar siapa yang paling banyak mengetahui dalil, tetapi siapa yang mampu mengamalkan ilmunya dalam kehidupan,” pesannya.

Sofwan juga mengajak kedua mempelai menjadikan rumah tangga sebagai madrasah kehidupan. Rumah bukan hanya tempat beristirahat, tetapi tempat tumbuhnya cinta, ilmu, adab, dan keteladanan.

Buka Perkemahan, Kepala Kankemenag Majalengka: Kepramukaan Memiliki Peran Penting Dalam Membentuk Kepribadian

Ia menyampaikan bahwa khidmat dalam rumah tangga dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana, seperti melayani pasangan dengan ikhlas, bersabar ketika pasangan berada dalam kondisi lemah, mau mendengar dan memahami, saling membantu dalam kebaikan, serta kelak mendidik anak dengan cinta dan keteladanan.

“Rumah tangga yang baik adalah rumah tempat Al-Qur’an dibaca, ilmu dibicarakan, adab ditanamkan, kesalahan dimaafkan, dan ego ditundukkan,” tuturnya.

Nasihat tersebut menjadi semakin relevan bagi kedua mempelai yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan pesantren. Sebab, ilmu yang mereka miliki diharapkan tidak hanya menjadi bekal pribadi, tetapi juga menjadi energi untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Pernikahan Asep dan Rifa menjadi gambaran bahwa tradisi keilmuan pesantren dapat terus hidup dalam institusi keluarga. Nilai-nilai yang diperoleh dari para guru diharapkan dapat diteruskan dalam kehidupan rumah tangga, kemudian berkembang menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Sofwan berpesan agar kedua mempelai senantiasa menjaga keseimbangan antara ilmu, prinsip, dan kelembutan dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Kepala MTsN 3 Majalengka Ikuti Pendampingan Pemetaan Potensi Conflict of Interest

“Miliki ilmu, jangan kehilangan adab. Miliki prinsip, jangan kehilangan kelembutan. Miliki cinta, arahkan menjadi khidmat,” pesannya.

Ia berharap rumah tangga kedua mempelai kelak menjadi keluarga yang tidak hanya sakinah secara pribadi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Karena kemuliaan rumah tangga tidak hanya terlihat dari apa yang diketahui, tetapi dari apa yang diamalkan dan dilayani dengan ikhlas,” lanjutnya.

Prosesi pernikahan pun berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Kehadiran para ulama, guru, keluarga, dan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan kedua mempelai seakan menjadi pengingat bahwa sebuah pernikahan tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat doa, ilmu, nasihat, serta harapan agar kehidupan baru yang dimulai Asep dan Rifa senantiasa berada dalam keberkahan Allah SWT.

Menutup nasihatnya, Sofwan mengajak seluruh keluarga dan hadirin untuk mendoakan kedua mempelai:

بَارَكَ اللهُ لَكُمَا وَبَارَكَ عَلَيْكُمَا وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

“Semoga Allah memberkahi kalian berdua, melimpahkan keberkahan kepada kalian, dan menghimpun kalian dalam kebaikan.”

Pernikahan dua santri tersebut akhirnya bukan hanya menjadi catatan administratif tentang sahnya sebuah ikatan, tetapi juga menjadi sebuah pesan penting: ilmu yang baik adalah ilmu yang menemukan bentuknya dalam akhlak, keluarga yang harmonis, dan khidmat kepada sesama.

Kontributor : Sofwan Farohi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *